Bisakah Cuti Ayah Memperbaiki Generasi?


Oleh : Dian Safitri

Di tengah rusaknya generasi yang semakin masif, negara mulai kebingungan cara menanggulanginya. Tak pelik, solusi pragmatis pun dilakukan untuk mencegah masalah tersebut. Saat ini pemerintah sedang merancang aturan bagi aparatur sipil negara (ASN) pria agar bisa ikut menemani istri yang sedang melahirkan dan menyusui bayi. Rancangan itu masuk dalam RPP mengenai manajemen ASN yang sedang digodok bersama komisi II DPR. Alasan dibalik cuti ayah agar tidak melewatkan moment penting mendampingi istri pasca melahirkan dan sesuai arahan presiden, cuti ini sebagai upaya mendorong peningkatan kualitas sumberdaya manusia sejak dini (idntimes.com, 14/03/2024).

Masalah hari ini sangatlah sistemik. Indonesia adalah salah satu negara dengan fenomena fatherless. Ini sekaligus menunjukkan adanya kerusakan di tengah masyarakat dan faktor kerusakan ini sebenarnya sudah disadari oleh sebagian pihak. Tapi negara dan sebagain pihak yang sadar tadi tidak mampu memecahkan akar masalah yang mereka hadapi.

Syaikh Ahmad Athiyat dalam kitabnya at-Thariq, menjelaskan :

"Ketika manusia menyadari realita kerusakan maka mereka akan bergerak melakukan sebuah perubahan untuk mengubah realita dan salah satu faktor yang menyebabkan generasi yang rendah karena absennya peran orang tua khususnya ayah dalam mendidik anak-anak mereka tapi sayang kesadaran ini tidak dibangun dengan berfikir yang benar terkait realita kehidupan sehingga pemecahan masalah nya pun tidak tuntas".

Apa yang dituliskan beliau dalam kitabnya tersebut memberikan sinergitas kepada para orangtua untuk menyadari pentingnya tanggung jawab mereka sebagai pendidik utama untuk anak-anaknya. Tidak bisa dipungkiri bahwa masalah kualitas generasi yang rendah sejatinya tidak hanya dipengaruhi oleh absennya peran ayah saja, tetapi mulai dari lingkungan pendidikan di keluarga, lingkungan masyarakat serta peran negara dalam menjaga generasi. Sementara kondisi keluarga hari ini sangat rentan, ayah dan ibu tidak memahami perannya sebagai orang tua. Ditambah lagi orang tua yang sibuk bekerja demi memenuhi tuntutan hidup yang tinggi di era gempuran kapitalisme. Serta kondisi masyarakat hari ini yang menuhankan gaya hidup liberal dan permisif. Sedangkan negara berlepas tangan dari perannya menjaga generasi dari ide bathil, gaya hidup liberalis serta kondisi yang membawa mereka menjadi generasi yang rapuh dan tidak berkualitas.

Upaya membuat undang-undang "cuti hari ayah" dengan harapan memperbaiki kualitas SDM generasi hanya akan menjadi solusi pragmatis. Karena buruknya realitas kehidupan adalah keniscayaan penerapan sistem bathil sekulerisme kapitalisme. Sistem bathil ini memisahkan peran agama dalam mengatur kehidupan yang pada akhirnya membuat manusia hanya mengejar dunia, tidak berorientasi akhirat. Jadi, bisa disimpulkan kualitas generasi maupun sosok ayah yang rendah adalah masalah sistemik yang harusnya diselesaikan dengan solusi sistemik pula.

Sistem Islam adalah solusi sistemik untuk menyelesaikan masalah di atas. Sistem yang terbukti mampu menghasilkan para ayah yang unggul dalam mencetak generasi berkepribadian mulia. Dalam Islam kualitas generasi tidak hanya menjadi tanggung jawab orang tua, yakni ayah dan ibu. Namun juga disertai dengan supporting sistem termasuk peran masyarakat serta negara dengan segala kebijakannya.

Memang benar dalam Islam, ibu berkewajiban terhadap pengasuh anak-anaknya, tapi bukan berarti peran ayah diabaikan. Sosok ayah dalam pengasuhan anak tetap dibutuhkan dalam proses pembentukan kepribadian anak yakni kasih sayang, perhatian, dan keteladanan menjadi hal utama yang harus para ayah berikan pada anak-anaknya. Begitulah tuntutan Islam dari sisi keluarga.

Dalam Qur'an surah At-Tahrim ayat 6, menjelaskan  tentang peran ayah dalam menjaga keluarganya dari api neraka. Ketika sosok ayah memahami dengan benar perannya sebagai pemimpin, maka dia akan menjaga anak-anak mereka agar terhindar dari kebinasaan sekaligus menyelamatkannya dari sesuatu yang dapat membinasakannya.

Sementara dari sisi masyarakat, Islam mewajibkan amar makruf nahi mungkar, mereka juga diharuskan untuk saling tolong menolong dalam kebaikan. Praktik kehidupan masyarakat seperti ini, menjadi teladan praktis bagi anak dalam hal kebaikan.

Selain itu, Islam juga menetapkan negara wajib hadir dalam menjaga generasi melalui penerapan sistem Islam secara kaffah. Negara akan mencetak generasi yang memiliki kepribadian Islam melalui penerapan sistem pendidikan Islam. Anak-anak didik dengan landasan tauhid hingga mereka sadar wajib terikat dengan aturan sang Khaliq dan siap menanggung amanah besar seperti menjadi sosok ayah. Sedangkan Negara akan menjaga kesucian interaksi masyarakat melalui sistem pergaulan Islam sehingga anak-anak terbiasa dengan interaksi yang islami. Jika ada integrasi antara keluarga, masyarakat dan negara yang diatur dengan sistem Islam, Insyaallah generasi berkualitas dan berkepribadian Islam bukan mustahil diwujudkan. Hanya saja, semua itu bisa terwujud ketika daulah hadir di tengah-tengah umat. Umat perlu perjuangan yang besar untuk menghadirkannya agar bisa menjaga semua pihak dalam kebinasaan sistem bathil hari ini.

Wallahu a'lam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gencatan Senjata Palsu: Ketika Perdamaian Dijadikan Alat Penjajahan

Ilusi Keadilan dalam Sistem Hukum Sekuler, Islam Menjamin Keadilan

Generasi Sadis, Buah Penerapan Sekularisme