Gencatan Senjata Palsu: Ketika Perdamaian Dijadikan Alat Penjajahan




Oleh : Yuli Atmonegoro 

(Penggiat Literasi Serdang Bedagai)


Dunia kembali disuguhi sandiwara lama yang diulang tanpa rasa malu: gencatan senjata dan “Balance of Power” (BoP) ditawarkan sebagai solusi damai bagi Gaza. Amerika Serikat tampil sebagai mediator, Israel berpura-pura sebagai pihak yang ingin menghentikan kekerasan. Media internasional menggemakan kata perdamaian, seolah penderitaan rakyat Palestina akan berakhir hanya dengan tanda tangan di atas kertas.


Namun fakta di lapangan berbicara sebaliknya.

Zionis Israel berulang kali melanggar gencatan senjata yang mereka sepakati sendiri. Serangan tetap terjadi, blokade terus diberlakukan, dan nyawa warga sipil Palestina terus melayang. Pertanyaannya: jika gencatan senjata terus dilanggar, masih pantaskah ia disebut solusi?


Dunia tampaknya terlalu naif atau pura-pura naif. Janji-janji gencatan senjata yang diinisiasi Amerika Serikat kembali dipercaya, padahal rekam jejaknya jelas: Israel selalu menjadi pihak yang sengaja mengingkari perjanjian. Tidak ada sanksi, tidak ada tekanan berarti, tidak ada pertanggungjawaban. Yang ada justru pembiaran yang sistematis.


Maka semakin terang bahwa gencatan senjata dan BoP hanyalah sandiwara politik AS–Israel. Bukan untuk menghentikan penjajahan, melainkan untuk melanggengkannya. Ia berfungsi sebagai jeda strategis bagi penjajah, bukan sebagai perlindungan bagi yang dijajah. Gaza dipaksa diam, sementara Israel terus menguatkan cengkeraman kolonial nya.


Lebih menyedihkan lagi, para penguasa negeri-negeri Muslim memilih bungkam. Dengan dalih menjaga stabilitas kawasan dan mencegah konflik meluas, mereka menolak bersikap tegas terhadap penjajah. Bahkan sebagian di antaranya rela bergabung dalam skema BoP, sebuah konstruksi politik yang sejatinya menguntungkan AS dan Israel.


Ini bukan soal ketidakmampuan, melainkan ketiadaan nyali politik. Ketika penjajahan terang-terangan terjadi, yang ditawarkan justru kompromi. Ketika darah kaum Muslim mengalir, yang dikedepankan justru diplomasi kosong.


Karena itu, umat Islam tidak boleh lagi larut dalam narasi palsu. Sikap umat harus tegas: zero toleransi terhadap gencatan senjata dan perdamaian versi AS–Israel. Perdamaian sejati tidak lahir dari perjanjian yang timpang, apalagi dari tangan penjajah.


Lebih dari itu, kesatuan umat dalam politik dan kepemimpinan menjadi kebutuhan mendesak. Tanpa persatuan, umat akan terus dipermainkan. Tanpa kepemimpinan yang berani, penjajahan akan terus berlangsung dengan kemasan baru.


Islam tidak mengajarkan kepasrahan terhadap kezaliman. Umat harus disadarkan, dan para penguasa Muslim harus dipahamkan, bahwa melawan penjajahan adalah kewajiban, termasuk melalui jihad yang syar’i dan terarah. Jalan keluarnya bukan pada fragmentasi, melainkan penyatuan negeri-negeri Muslim di bawah satu kepemimpinan Islam, Khilafah.


Selama umat masih percaya pada sandiwara perdamaian penjajah, Palestina akan terus berdarah.

Dan selama penguasa Muslim lebih takut pada AS daripada Allah, penjajahan akan terus hidup dengan wajah diplomasi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ilusi Keadilan dalam Sistem Hukum Sekuler, Islam Menjamin Keadilan

Generasi Sadis, Buah Penerapan Sekularisme

Living Together Berakhir Mutilasi, Buah Pahit Liberalisasi Pergaulan