Postingan

Ketika Kartu BPJS Dicabut, Nyawa Rakyat Ikut Dicabut: Wajah Asli Kapitalisme Tanpa Nurani

Gambar
Oleh : Yuli Atmonegoro  (Penggiat Literasi Serdang Bedagai) Sebanyak 11 juta peserta PBI BPJS dinonaktifkan. Bukan satu, bukan dua—tetapi jutaan jiwa. Di balik angka itu ada 100 pasien cuci darah yang hidupnya bergantung pada layanan rutin. Namun negara dengan enteng menekan tombol nonaktif, seolah yang dihapus hanyalah data, bukan nyawa. Alasannya terdengar rapi, verifikasi data. Tapi di lapangan, kebijakan ini berubah menjadi tragedi kemanusiaan. Rumah sakit diminta tetap melayani, sementara status kepesertaan nonaktif membuat tidak ada pihak yang menanggung biaya. RS tak bisa berbuat banyak. Pasien terlantar. Negara cuci tangan. Inilah wajah sistem kapitalisme, dingin, birokratis, dan semena-mena terhadap rakyat miskin. Negara yang Menghitung Nyawa dengan Angka Dalam sistem ini, rakyat miskin diperlakukan seperti baris data dalam spreadsheet. Jika tak lolos verifikasi, hak hidup pun bisa “ditunda”. Reaktivasi baru dibuka setelah publik ramai memprotes. Artinya jelas: keselamatan...

Gencatan Senjata Palsu: Ketika Perdamaian Dijadikan Alat Penjajahan

Gambar
Oleh : Yuli Atmonegoro  (Penggiat Literasi Serdang Bedagai) Dunia kembali disuguhi sandiwara lama yang diulang tanpa rasa malu: gencatan senjata dan “Balance of Power” (BoP) ditawarkan sebagai solusi damai bagi Gaza. Amerika Serikat tampil sebagai mediator, Israel berpura-pura sebagai pihak yang ingin menghentikan kekerasan. Media internasional menggemakan kata perdamaian, seolah penderitaan rakyat Palestina akan berakhir hanya dengan tanda tangan di atas kertas. Namun fakta di lapangan berbicara sebaliknya. Zionis Israel berulang kali melanggar gencatan senjata yang mereka sepakati sendiri. Serangan tetap terjadi, blokade terus diberlakukan, dan nyawa warga sipil Palestina terus melayang. Pertanyaannya: jika gencatan senjata terus dilanggar, masih pantaskah ia disebut solusi? Dunia tampaknya terlalu naif atau pura-pura naif. Janji-janji gencatan senjata yang diinisiasi Amerika Serikat kembali dipercaya, padahal rekam jejaknya jelas: Israel selalu menjadi pihak yang sengaja menging...

Ketika Buku Tulis Lebih Mahal dari Nyawa Anak

Gambar
Oleh : Yuli Atmonegoro  (Penggiat Literasi Serdang Bedagai) Seorang anak kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur, memilih mengakhiri hidupnya. Usianya baru 10 tahun. Namanya YBR. Penyebabnya bukan narkoba, bukan kekerasan, bukan kenakalan remaja. Penyebabnya: orang tuanya tidak mampu membelikan buku tulis dan pulpen. Sebelum tragedi itu terjadi, YBR dan teman-temannya berkali-kali ditagih pihak sekolah. Total biaya yang harus dibayar mencapai Rp1,2 juta. Angka yang mungkin terlihat kecil bagi sebagian orang, tetapi menjadi tembok raksasa bagi keluarga miskin di pelosok negeri. Di titik ini, kita perlu berhenti bertanya “kenapa anak itu gantung diri?” Dan mulai bertanya lebih jujur: siapa yang membuat anak itu putus asa? Kasus ini adalah bukti telanjang bahwa slogan “pendidikan gratis” hanyalah mitos. Negara gagal menjamin hak dasar anak-anak untuk bersekolah tanpa beban biaya. Sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman justru berubah menjadi sumber tekanan psik...

Banjir dan Longsor Berlanjut, Harapan Rakyat Hanyut

Gambar
  Oleh : Ummu Hayyan, S.P. Menurut BNPB pada periode 1 - 25 Januari 2026 terjadi 128 kejadian banjir dan 15 tanah longsor di Indonesia. Data tersebut menunjukkan tingginya potensi bencana hidrometeorologi di berbagai wilayah.  www.databoks.katadata.co.id.  Salah satunya bencana itu terjadi di lereng pegunungan Muria kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Hujan deras sejak Jumat malam hingga Sabtu 10 Januari 2026 memicu banjir bandang dan longsor 5 kecamatan, merendam ribuan rumah, dan merusak infrastruktur. www.kompas.id.  Bencana serupa juga terjadi di kabupaten Pati,  harus memperpanjang status tanggap darurat karena 51 Desa masih terdampak. www.tirto.id. Status tanggap darurat juga diberlakukan di kabupaten Purbalingga, bencana tersebut memaksa 1.121 warga mengungsi dan merusak sekitar 150 hektar lahan pertanian. www.setda.purbalinggakab.go.id. Sementara itu, di kabupaten Jember hujan berintensitas tinggi sejak Rabu 28 Januari menyebabkan banjir serta kejadian tanah l...

Keracunan MBG Berulang, Bukti Gagalnya Negara Menjamin Gizi Generasi

Gambar
  Oleh: Yeni Sri Wahyuni Keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi. Sebanyak ratusan siswa di SMA Negeri 2 Kudus, Jawa Tengah, dilaporkan mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurut informasi dari Dinas Kesehatan Pemerintah Kabupaten Kudus, total siswa yang terkena keracunan dan memerlukan perawatan di rumah sakit mencapai 118 orang. (Kompas.tv, 29/1/2026) Selama periode 1 hingga 13 Januari 2026, Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) melaporkan bahwa terdapat 1.242 orang yang diduga menjadi korban keracunan akibat makan bergizi gratis. Menurut perhitungan BBC, selama 30 hari di bulan Januari 2026, kasus keracunan MBG menyebabkan 1.929 orang menjadi korban. (Bbc.com, 30/01/2026) Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan program yang bertujuan untuk menangani masalah malnutrisi dan stunting pada anak-anak serta ibu hamil. Program ini juga berperan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mendukung pertumbuhan ekono...

Banjir Berulang, Dampak Kegagalan Tata Ruang

Gambar
  Oleh : Ummu Mumtazah ( Pegiat Literasi) Dilansir dari JAKARTA, KOMPAS.com, Banjir di DKI Jakarta meluas selama dua hari berturut-turut sejak Kamis (22/1/2026) hingga Jumat (23/1/2026). Sejumlah wilayah yang sebelumnya tidak terdampak, kini ikut tergenang akibat hujan berintensitas tinggi yang berlangsung dalam durasi panjang. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menjelaskan, meluasnya titik banjir bukan semata karena tingginya curah hujan, tetapi juga dipengaruhi oleh lamanya hujan ekstrem yang mengguyur Jakarta dan sekitarnya. “Jadi titik banjir itu bertambah ketika curah hujannya tinggi. Curah yang kemarin sebenarnya tidak setinggi dua minggu lalu,” ujar Pramono saat meninjau Kali Cakung Lama segmen Sungai Begog di Cilincing, Jakarta Utara, Jumat (23/1/2026). Berdasarkan laporan terbaru BPBD DKI Jakarta per Jumat (23/1/2026) pukul 07.00 WIB, banjir saat ini merendam 125 rukun tetangga (RT) dan 14 ruas jalan di Jakarta. Wilayah terdampak banjir tersebar di Jakarta Barat, Jakarta ...

Guru Dikeroyok, Murid Dihina: Cermin Pendidikan Jauh dari Nilai Islam

Gambar
Oleh : Reskidayanti Masalah seperti tak pernah putus. Belum selesai satu, muncul lagi yang baru. Saat ini layar ponsel tak henti dibanjiri pemberitaan tentang kasus pengeroyokan seorang guru oleh siswanya sendiri. Peristiwa keributan hingga adu jotos itu terjadi di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur (detik.com). Usut punya usut, pengeroyokan tersebut tidak terjadi tanpa sebab. Pihak terkait mengatakan bahwa guru tersebut mengeluarkan kata-kata kasar dan menghina siswanya. Akibatnya, siswa merasa geram, tak tahan terus dihina, hingga akhirnya meluapkan emosi dengan mengeroyok gurunya sendiri. Kabar ini tentu menyisakan pilu yang dalam. Pendidikan yang seharusnya menjadi ruang keteladanan dan kedamaian justru berubah menjadi ruang kengerian. Tentu hal seperti ini tidak bisa dinilai sepele. Ini bukan sekadar masalah pribadi, tetapi menyangkut ruang lingkup pendidikan yang mereka tempati. Problem Serius Masalah pendidikan merupakan persoalan yang kompleks. Ada banyak faktor yang...