Postingan

PPPK Dikorbankan Demi Menghemat Anggaran Negara

Oleh: Yeni Sri Wahyuni Kekhawatiran sejumlah Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) mulai terasa di berbagai wilayah. Ancaman pemutusan kontrak PPPK pada 2027 bukan sekadar isu biasa, konsekuensi logis dari tekanan fiskal daerah yang kian menyempit. Batas maksimum belanja untuk pegawai daerah ditetapkan sebesar 30 persen dalam APBD sesuai dengan UU Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (HKPD). Namun, kenyataan mengenai pemotongan besar-besaran pada Transfer ke Daerah (TKD) menjadi ancaman yang memaksa adanya pengurangan jumlah PPPK di daerah. (Money.kompas.com, 29/03/2026) Hukum kausalitas menunjukkan bahwa kebijakan yang tidak terencana dengan baik cenderung akan mengakibatkan timbulnya masalah-masalah baru. Pemerintah pusat telah menginstruksikan pemerintah daerah untuk merekrut tenaga PPPK, namun di sisi lain, mereka tidak memperhatikan ketersediaan anggaran. Saat anggaran APBN meningkat, untuk mengefisiensikan anggaran, tentu ada...

Urbanisasi, Kesenjangan Setelah Lebaran

  Oleh : Ummu Mumtazah Fenomena urbanisasi sering terjadi setelah lebaran Idulfitri, mereka yang pulang ke desa atau mudik, kembali lagi ke kota. Seringkali mereka yang berhasil di kota menjadi motivasi bagi yang tinggal di desa untuk pergi ke kota. Mereka yakin setelah di kota akan berhasil seperti saudaranya, keluarganya, temannya dan lain-lain. Mereka memimpikan orang-orang yang berhasil di kota dan terdorong hatinya untuk bekerja dan tinggal di kota.  Ketika melihat banyaknya orang yang berpindah dari desa ke kota (urbanisasi), terlihat jelas ada sebuah ketimpangan ekonomi antara desa dan kota. Mereka beranggapan bahwa hidup di desa sudah tidak layak lagi dan memilih untuk pindah ke kota. Padahal  di desa juga bisa sukses ketika bisa mengembangkan keterampilan sesuai dengan kemampuan masing-masing.  Dengan banyaknya berpindah ke kota, apalagi dikalangan remaja, maka akibatnya desa kehilangan SDM muda. Sedangkan kota terbebani secara demografi karena banyaknya pen...

Judi Online Menggurita, Negara Terlihat Sibuk di Permukaan, Lalai di Akar Persoalan

Gambar
  Oleh : Yuli Atmonegoro  ( Penggiat Literasi Serdang Bedagai ) Kasus yang diungkap oleh Polda Sumatera Utara di Medan kembali membuka tabir yang selama ini sebenarnya sudah lama kita ketahui bahwa judi online bukan sekadar pelanggaran hukum biasa, melainkan jaringan terstruktur, lintas wilayah, bahkan diduga terhubung hingga luar negeri seperti Kamboja. Pertanyaannya sederhana, mengapa fenomena ini terus berulang, bahkan semakin meluas? Penindakan demi penindakan memang dilakukan. Konferensi pers digelar. Barang bukti diperlihatkan. Pelaku ditangkap. Namun, publik tidak bisa menutup mata bahwa semua ini seringkali hanya menyentuh permukaan, bukan akar persoalan. Judi online hari ini bukan lagi aktivitas sembunyi-sembunyi. Ia tumbuh menjadi industri gelap yang rapi, sistematis, dan memanfaatkan celah besar dalam sistem. Selama akses digital terbuka lebar tanpa kontrol yang tegas, selama ekonomi rakyat terjepit, dan selama nilai moral dibiarkan tergerus oleh gaya hidup material...

Judi Online: Wajah Nyata Kejahatan Sistemik yang Dibiarkan Tumbuh

Gambar
Oleh : Yuli Atmonegoro  (Penggiat Literasi Serdang Bedagai) Mengutip dari Antara Sumut pada Kamis, 2603/2026 bahwa Direktorat Reserse Siber Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Utara mendalami kasus judi daring yang beroperasi dari satu apartemen di Jalan Palang Merah, Kota Medan, yang diduga jaringan Kamboja. Fenomena sindikat judi online yang menjangkau hingga apartemen mewah di Medan bukan sekadar kasus kriminal biasa. Ia adalah potret nyata bagaimana kejahatan terorganisir bisa tumbuh subur di tengah sistem yang seharusnya melindungi masyarakat. Di balik layar ponsel, ada industri gelap yang bekerja tanpa henti, memancing korban dengan ilusi “kekayaan instan”, lalu menguras habis harta mereka secara perlahan. Lebih dari sekadar penipuan, ini adalah eksploitasi psikologis. Sindikat ini memahami cara kerja emosi manusia—harapan, keserakahan, dan keputusasaan—lalu memanfaatkannya secara sistematis. Mereka tidak hanya menjual permainan, tetapi menjual mimpi palsu. Ketika korban kalah...

Muslim Gaza Tak Merayakan Idul Fitri di Al-Aqsa, Kebebasan Beribadah Tidak Ada?

Oleh Haura (Pegiat Literasi) Muslim Gaza Tak Berhari Raya Ramadhan 1447 H telah berlalu, Kaum Muslim menyambut idul fitri sebagai tanda meraih kemenangan setelah sebulan penuh melaksanakan rangkaian ibadah di bulan penuh keberkahan dan magfirah. Sayangnya, tidak semua Kaum Muslim dapat merayakan hari kemenangan tersebut.  Kondisi Gaza masih menyisakan pilu dan penderitaan. Idul Fitri di tengah reruntuhan kota menjadikan Muslim Gaza nestapa bahkan otoritas Israel mencegah dan membatasi Muslim Palestina mencapai Masjid Al-Aqsa karena telah diduduki. Melansir republika.com (21/03/2026) Untuk pertama kalinya sejak pendudukan kota tersebut pada tahun 1967, shalat Idul Fitri dilarang seluruhnya di dalam masjid. Pasukan pendudukan Israel membatasi akses terhadap sejumlah kecil penjaga dan pegawai Wakaf, sehingga secara efektif mengosongkan kompleks jamaah pada salah satu acara keagamaan paling penting.  Sejak dimulai perang AS dan Israel terhadap Iran Masjid al-Aqsa telah ditutup ole...

Krisis Kesehatan Jiwa Anak Mengancam Kualitas Generasi Muda

Oleh : Haura (Pegiat Literasi) Krisis Kesehatan Jiwa Anak Kesehatan jiwa anak di Dunia sedang dalam kondisi darurat, ditandai dengan meningkatnya kasus depresi dan kecemasan anak di berbagai dunia, termasuk Indonesia. Mengutip kemkes.go.id (09/03/2026) Berdasarkan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode 2025–2026 menemukan indikasi masalah kesehatan jiwa pada hampir 10 persen anak di Indonesia. Dari sekitar 7 juta anak yang telah menjalani skrining, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mendeteksi gejala kecemasan dan depresi dalam jumlah signifikan  Gejala depresi dan kecemasan pada anak dan remaja sekitar lima kali lebih tinggi dibandingkan kelompok dewasa dan lansia. Skrining pada anak usia 7–17 tahun menunjukkan 4,8 persen mengalami gejala depresi dan 4,4 persen mengalami gejala kecemasan Sementara Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) Tahun 2024 ditemukan fakta 7,28 persen anak mengalami masalah Kesehatan jiwa. Dari angka tersebut, sebanyak 62,19 persen di an...

Mudik Tahunan : Macet Parah dan Kecelakaan terus Terulang

Gambar
Penulis. Reskidayanti, S.Pd Pemandangan yang tak pernah luput setiap tahun. Kemacetan yang terjadi setiap musim mudik tiba. Seperti biasanya, jalan raya padat dan ramai. Tahun ini bahkan mengalami peningkatan yang signifikan menjelang idul fitri satu pekan lalu. Berdasarkan data Dishub Kabupaten Bandung, lebih dari 190 ribu kendaraan telah melintasi jalur selatan Nagreg pada puncak arus mudik tahun ini (metrotvnews.com). Selain kemacetan, arus mudik juga kerap meninggalkan duka seperti kecelakaan yang memakan korban jiwa. Korlantas Polri mengungkap angka kecelakaan yang terjadi selama arus mudik Lebaran 2026 mengalami peningkatan 1,97% dibanding tahun sebelumnya. Kata Neno di Kantor Kemenhub, Jakarta, Kamis (19/3) (kumparan.com). Walaupun fenomena ini selalu saja berulang setiap tahunnya, justru ini menjadi titik balik dari pertanyaan bagaimana sebenarnya manajemen dan upaya dalam meminimalkan kemacetan atau kasus kecelakaan di waktu mudik? Kapitalisme mengabaikan fungsi ra’in Kemaceta...