Postingan

Persatuan Mampu Mengalahkan Hegemoni Global

Gambar
 Oleh : Reskidayanti  Persatuan Mampu Mengalahkan Hegemoni Global Usai bergejolak selama kurang lebih 40 hari, ketegangan perang antara AS–Israel dan Iran diredam dengan adanya gencatan senjata. Narasi publik pun kian beragam dalam menanggapi hal tersebut. Pihak-pihak terkait mengklaim meraih kemenangan dengan tercapainya kesepakatan gencatan senjata ini. Seperti pihak Iran yang menegaskan bahwa usai Presiden Amerika Serikat, Trump, menangguhkan serangan selama dua pekan, Dewan Keamanan Tertinggi Iran merespons bahwa mereka telah menang melawan Amerika–Israel. Iran mengklaim telah memaksa Amerika Serikat untuk menerima rencana 10 poinnya. Pada akhirnya, AS pada prinsipnya setuju untuk mencabut sanksi primer dan sekunder terhadap Iran serta menarik pasukan tempur dari semua pangkalan di kawasan tersebut (detiknews.com). Potensi Kaum Muslim Iran, dalam hal ini sebagai negara dengan penduduk Muslim, memberikan inspirasi besar bagi negara-negara kaum Muslim lainnya. Di tenga...

Gaji 0 Rupiah : Potret Kelalaian Negara Dalam Menunaikan Amanah Pendidikan

Gambar
 Oleh : Yuli Atmonegoro  Gaji Nol Rupiah: Potret Kelalaian Negara dalam Menunaikan Amanah Pendidikan Mengutip dari Metro24.co Deli Serdang, Sumatera Utara merilis bahwa, Mahasiswa yang tergabung dalam kelompok Cipayung Plus, Kabupaten Deliserdang menyatakan mosi tidak percaya terhadap kepemimpinan Bupati Deliserdang Asri Ludin Tambunan. Pasalnya Asri Ludin dinilai tidak berpihak atas kesejahteraan 2.341 guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu yang sudah tiga bulan sejak dilantik tidak ada menerima gaji atau 0 rupiah dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Deliserdang.  Ini bukan lagi hal sepele, tetapi menyangkut kesejahteraan para pendidik generasi yang seolah-olah perjuangan mereka meraih gelar serta upaya mereka agar masuk dalam jajaran guru PPPK dengan harapan mendapatkan gaji yang layak. Ini bukan sekadar kabar miris, ini adalah bukti nyata rusaknya tata kelola negara dalam memenuhi kewajibannya. Guru bukan relawan. Mereka adalah...

PALESTINA BUKAN SEKADAR LUKA, TAPI BUKTI KEGAGALAN SISTEM DUNIA

Gambar
  Oleh : Yuli Atmonegoro    Fakta yang Tak Bisa Disangkal Tanggal 17 April diperingati sebagai Hari Tahanan Palestina—sebuah pengingat pahit atas penderitaan panjang rakyat Palestina. Sejak 1967, sekitar 1 juta warga Palestina atau hampir 20% dari populasi, pernah merasakan dinginnya penjara. Hari ini, ribuan lainnya masih ditahan, hidup dalam bayang-bayang kekerasan, penyiksaan, kelaparan, hingga kematian. Di berbagai penjuru dunia, gelombang protes terus menggema. Namun, suara itu seakan tenggelam dalam sistem global yang lebih berpihak pada kekuatan daripada keadilan. Bahkan, kebijakan yang semakin keras terhadap tahanan Palestina menunjukkan bahwa penindasan bukan hanya berlanjut, tetapi memang dilegalkan. Realitas yang Terungkap Penjajahan atas Palestina bukan peristiwa kebetulan. Ia adalah bagian dari proyek dominasi global yang ditopang oleh kepentingan politik dan ekonomi dunia. Kekerasan terhadap rakyat Palestina bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi cerminan s...

Pemberdayaan atau Pelepasan Tanggung Jawab? Membaca Program Pemulihan Perempuan Pasca Bencana

Gambar
 Oleh : Yuli Atmonegoro  (Penggiat Literasi Serdang Bedagai) Narasi “pemberdayaan perempuan” kerap digaungkan setiap kali bencana berlalu. Pelatihan kewirausahaan, UMKM, dan kemandirian ekonomi dijadikan solusi cepat. Sekilas tampak mulia. Namun jika ditelisik lebih dalam, pertanyaan mendasar muncul.  Apakah ini benar-benar pemberdayaan, atau justru bentuk halus pelepasan tanggung jawab negara? Realitas di lapangan menunjukkan pola yang berulang. Negara datang terlambat dengan program “pelatihan”, bukan dengan jaminan hidup yang utuh. Perempuan, yang notabene sering menjadi kelompok paling terdampak, didorong untuk bangkit sendiri melalui usaha mikro. Mereka dilatih berjualan, membuat produk, dan mengelola usaha kecil. Tetapi di mana negara saat mereka butuh modal yang layak? Di mana perlindungan pasar? Di mana jaminan keberlangsungan hidup? Tanpa fondasi itu, pelatihan hanyalah ilusi solusi. Perempuan tidak benar-benar diberdayakan, melainkan dipindahkan dari satu krisis...

AS - Iran Bergejolak, Beban Ekonomi Rakyat Semakin Sesak

 Oleh  :  Ummu Hayyan, S. P. Beberapa harga komoditas energi Global mengalami lonjakan signifikan. Hal ini sejalan dengan bergolaknya konflik geopolitik antara Amerika Serikat, Zionis dan Iran. Lonjakan harga terjadi khususnya terhadap minyak dunia, avtur, serta bahan baku industri seperti bijih plastik. Dikutip dari CNBC, Jumat (10/4/2026), harga minyak mentah West Texas lntermediate untuk pengiriman Mei naik lebih dari 3% dan ditutup pada USD 97,87 per barel. Sedangkan harga minyak mentah Brent yang menjadi patokan harga minyak Global naik lebih dari satu persen dan ditutup pada USD 95,92 untuk pengiriman Juni.  Sementara, harga avtur domestik melonjak tajam. Per 1 April mencapai sekitar 70% dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Di Bandara Soekarno Hatta, harga avtur domestik naik dari Rp.13.656,51 per liter pada Maret menjadi Rp. 23.551,08 per liter pada April atau melonjak 72,4,5%. Untuk rute internasional harga naik 80,32% dari USD 0,95 menjadi USD 1,72 per lite...

Kampus Tercoreng: Ketika Pelecehan Seksual Terjadi, Sistem Apa yang Gagal?

Gambar
 Oleh : Yuli Atmonegoro  (Penggiat Literasi Serdang Bedagai) Kasus dugaan pelecehan seksual yang menyeret puluhan mahasiswa dan dosen di lingkungan kampus bukan sekadar aib institusi. Ini adalah alarm keras bahwa ada yang rusak secara mendasar—bukan hanya pada individu pelaku, tetapi pada sistem yang membentuk perilaku dan membiarkan kerusakan itu tumbuh. Kampus yang seharusnya menjadi ruang aman untuk menuntut ilmu justru berubah menjadi tempat yang rawan bagi kehormatan. Ketika 16 mahasiswa, 20 mahasiswi, dan 7 dosen disebut sebagai korban, ini bukan lagi kasus personal. Ini adalah kegagalan kolektif. Fakta ini menampar keras narasi bahwa pendidikan tinggi otomatis melahirkan manusia beradab. Nyatanya, kecerdasan intelektual tidak menjamin kemuliaan akhlak. Sistem pendidikan sekuler hari ini hanya menekankan aspek akademik, tetapi abai dalam membentuk kepribadian yang tunduk pada aturan moral yang kokoh. Lebih dari itu, sistem kehidupan yang liberal membuka ruang kebebasan t...

Satu Kolaborasi, Sejuta Energi — Retorika atau Jalan Menuju Perubahan Hakiki?

Gambar
  Oleh : Yuli Atmonegoro  (Penggiat Literasi Serdang Bedagai) Mengutip dari AKTUALONLINE.co.id Medan, bahwa pemerintah menggelar Perayaan Hari Jadi ke-78 Sumatera Utara dengan tema “Satu Kolaborasi, Sejuta Energi”. Terdengar sangat  indah di permukaan. Narasinya penuh harapan. Sinergi, pemulihan ekonomi, pelayanan publik, dan kesejahteraan masyarakat. Namun pertanyaannya sederhana dan tajam: apakah ini sekadar slogan tahunan, atau benar-benar mencerminkan arah perubahan yang mendasar? Faktanya, persoalan energi, ekonomi, dan kesejahteraan bukanlah masalah teknis semata. Ia adalah masalah sistem. Selama kebijakan masih berdiri di atas fondasi kapitalistik yang notabene menjadikan sumber daya sebagai komoditas dan bukan amanah, maka kolaborasi yang digaungkan hanya akan berputar di lingkaran kepentingan. Energi, dalam pandangan Islam, bukan sekadar sektor ekonomi. Ia adalah kepemilikan umum (milkiyah ‘ammah) yang wajib dikelola negara untuk kemaslahatan rakyat, bukan disera...