Postingan

Perundungan di Dunia Pendidikan Tinggi, Alarm Serius Bagi Sistem dan Lingkungan Akademik

Gambar
Perundungan di Dunia Pendidikan Tinggi: Alarm Serius bagi Sistem dan Lingkungan Akademik Oleh : Husnul Khotimah, S.Si., M.Pd. Kasus dugaan perundungan dan pemerasan yang terjadi di lingkungan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Unsri menjadi pengingat keras bahwa dunia pendidikan tinggi tidak sepenuhnya steril dari praktik kekerasan relasional. Informasi yang beredar menyebutkan adanya tekanan dari senior kepada junior hingga menimbulkan beban finansial dan psikologis berat, bahkan korban disebut sempat melakukan percobaan bunuh diri sebelum akhirnya mengundurkan diri dari program. Jika fakta-fakta ini terbukti, maka ini bukan sekadar pelanggaran etika, melainkan kegagalan sistem perlindungan peserta didik. Bentuk perundungan yang dilaporkan tidak hanya berupa tekanan verbal, tetapi juga tuntutan pembiayaan gaya hidup senior—mulai dari kebutuhan akademik, hiburan, hingga kebutuhan pribadi. Modus permintaan uang secara sembunyi-sembunyi menunjukkan adanya pola relasi kuasa yang t...

Program MBG dalam Kubangan Kapitalisme

Gambar
Program MBG dalam kubangan Kapitalisasi Oleh: Analisa (Muslimah Peduli Generasi Program MBG yang dirancang oleh pemerintah nampaknya tidak terasa sudah berjalan satu tahun, sebagian sekolah dari tingkat TK smpai SMA diberbagai daerah sudah menerima program tersebut, dianggap membantu akan pemenuhan gizi anak-anak di masa pertumbuhannya namun ancaman stunting tetap tidak terselesaikan.  Nyatanya masih ada anak-anak negeri ini yang kekurangan gizi karena kurangnya asupan makan yang sehat dan disusul daya beli pangan yang meroket tinggi sehingga pemenuhan makan tidak seimbang gizi buruk pun siap menghadang. Keracunan massal MBG disebabkan dari bahan dan makanan yang tidak diolah dengan bersih dan baik belum lagi  ompreng mengandung minyak babi, dan SPPG tidak sesuai standar dalam menjaga kebersihan sehingga menyebabkan keracunan bahkan hilangnya nyawa anak- anak setelah menyantap MBG tersebut. Disamping itu, budgeting anggaran besar berdampak pada pengurangan anggaran bidang lain...

Anak SD Bunuh Diri, Negara Gagal Menyediakan Fasilitas Dasar Anak

Gambar
  Oleh : Haura (Pegiat Literasi) Anak SD Bunuh Diri Dunia anak dan Pendidikan kembali menjadi sorotan setelah sepenggal kisah pilu seoarang anak SD di Kabupaten Ngada, NTT berinisial YRB (10) yang tak mampu membeli buku dan pena nekad bunuh diri. Sepucuk surat menjadi saksi bisu, kesulitan ekonomi menjadi hambatan bagi YRB untuk mengenyam Pendidikan dengan baik.  Sebagaimana dikutip dari detik.news (05/02/2026), Sebelum tragedi tersebut, YBR dan siswa lainnya berkali-kali ditagih uang oleh sekolah sebesar Rp 1,2 juta yang dibayar nyicil. Orang tua YBR sudah membayar Rp 500 ribu untuk semester I. Tersisa Rp 720 ribu yang harus dilunasi secara cicil untuk semester II. Mungkin masih ada banyak kisah-kisah layaknya YBR yang kesulitan menempuh Pendidikan karena alasan ekonomi namun tidak terekspos. Kasus ini menjadi alarm keras bagi masyarakat dan pemerintah di semua tingkatan untuk lebih memperhatikan rakyatnya terutama yang miskin. Pendidikan, Hak Dasar Rakyat  Pendidikan me...

Ketika Kartu BPJS Dicabut, Nyawa Rakyat Ikut Dicabut: Wajah Asli Kapitalisme Tanpa Nurani

Gambar
Oleh : Yuli Atmonegoro  (Penggiat Literasi Serdang Bedagai) Sebanyak 11 juta peserta PBI BPJS dinonaktifkan. Bukan satu, bukan dua—tetapi jutaan jiwa. Di balik angka itu ada 100 pasien cuci darah yang hidupnya bergantung pada layanan rutin. Namun negara dengan enteng menekan tombol nonaktif, seolah yang dihapus hanyalah data, bukan nyawa. Alasannya terdengar rapi, verifikasi data. Tapi di lapangan, kebijakan ini berubah menjadi tragedi kemanusiaan. Rumah sakit diminta tetap melayani, sementara status kepesertaan nonaktif membuat tidak ada pihak yang menanggung biaya. RS tak bisa berbuat banyak. Pasien terlantar. Negara cuci tangan. Inilah wajah sistem kapitalisme, dingin, birokratis, dan semena-mena terhadap rakyat miskin. Negara yang Menghitung Nyawa dengan Angka Dalam sistem ini, rakyat miskin diperlakukan seperti baris data dalam spreadsheet. Jika tak lolos verifikasi, hak hidup pun bisa “ditunda”. Reaktivasi baru dibuka setelah publik ramai memprotes. Artinya jelas: keselamatan...

Gencatan Senjata Palsu: Ketika Perdamaian Dijadikan Alat Penjajahan

Gambar
Oleh : Yuli Atmonegoro  (Penggiat Literasi Serdang Bedagai) Dunia kembali disuguhi sandiwara lama yang diulang tanpa rasa malu: gencatan senjata dan “Balance of Power” (BoP) ditawarkan sebagai solusi damai bagi Gaza. Amerika Serikat tampil sebagai mediator, Israel berpura-pura sebagai pihak yang ingin menghentikan kekerasan. Media internasional menggemakan kata perdamaian, seolah penderitaan rakyat Palestina akan berakhir hanya dengan tanda tangan di atas kertas. Namun fakta di lapangan berbicara sebaliknya. Zionis Israel berulang kali melanggar gencatan senjata yang mereka sepakati sendiri. Serangan tetap terjadi, blokade terus diberlakukan, dan nyawa warga sipil Palestina terus melayang. Pertanyaannya: jika gencatan senjata terus dilanggar, masih pantaskah ia disebut solusi? Dunia tampaknya terlalu naif atau pura-pura naif. Janji-janji gencatan senjata yang diinisiasi Amerika Serikat kembali dipercaya, padahal rekam jejaknya jelas: Israel selalu menjadi pihak yang sengaja menging...

Ketika Buku Tulis Lebih Mahal dari Nyawa Anak

Gambar
Oleh : Yuli Atmonegoro  (Penggiat Literasi Serdang Bedagai) Seorang anak kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur, memilih mengakhiri hidupnya. Usianya baru 10 tahun. Namanya YBR. Penyebabnya bukan narkoba, bukan kekerasan, bukan kenakalan remaja. Penyebabnya: orang tuanya tidak mampu membelikan buku tulis dan pulpen. Sebelum tragedi itu terjadi, YBR dan teman-temannya berkali-kali ditagih pihak sekolah. Total biaya yang harus dibayar mencapai Rp1,2 juta. Angka yang mungkin terlihat kecil bagi sebagian orang, tetapi menjadi tembok raksasa bagi keluarga miskin di pelosok negeri. Di titik ini, kita perlu berhenti bertanya “kenapa anak itu gantung diri?” Dan mulai bertanya lebih jujur: siapa yang membuat anak itu putus asa? Kasus ini adalah bukti telanjang bahwa slogan “pendidikan gratis” hanyalah mitos. Negara gagal menjamin hak dasar anak-anak untuk bersekolah tanpa beban biaya. Sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman justru berubah menjadi sumber tekanan psik...

Banjir dan Longsor Berlanjut, Harapan Rakyat Hanyut

Gambar
  Oleh : Ummu Hayyan, S.P. Menurut BNPB pada periode 1 - 25 Januari 2026 terjadi 128 kejadian banjir dan 15 tanah longsor di Indonesia. Data tersebut menunjukkan tingginya potensi bencana hidrometeorologi di berbagai wilayah.  www.databoks.katadata.co.id.  Salah satunya bencana itu terjadi di lereng pegunungan Muria kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Hujan deras sejak Jumat malam hingga Sabtu 10 Januari 2026 memicu banjir bandang dan longsor 5 kecamatan, merendam ribuan rumah, dan merusak infrastruktur. www.kompas.id.  Bencana serupa juga terjadi di kabupaten Pati,  harus memperpanjang status tanggap darurat karena 51 Desa masih terdampak. www.tirto.id. Status tanggap darurat juga diberlakukan di kabupaten Purbalingga, bencana tersebut memaksa 1.121 warga mengungsi dan merusak sekitar 150 hektar lahan pertanian. www.setda.purbalinggakab.go.id. Sementara itu, di kabupaten Jember hujan berintensitas tinggi sejak Rabu 28 Januari menyebabkan banjir serta kejadian tanah l...