Postingan

Rekening Massal, Cermin Kegagalan Tata Kelola Keuangan Kapitalistik

Gambar
Rekening Massal, Cermin Kegagalan Tata Kelola Keuangan Kapitalistik Sarlin, Amd.kep (Pegiat Literasi)  Pemerintah memastikan program pembukaan rekening massal yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto tetap akan menyasar masyarakat yang telah memiliki rekening bank. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah masih akan mengonsolidasikan data rekening masyarakat. Namun, kepemilikan rekening sebelumnya tidak otomatis membuat seseorang keluar dari program tersebut. "Nanti dikonsolidasi. Jadi kalau rekening ini kan untuk berbagai program pemerintah. Jadi nanti dikonsolidasi di BRI maupun di BSI. Nah, nanti yang punya multiple account juga nanti kita lihat," papar Airlangga di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.CBNC Indonesia,Rabu (9/9/2026). Negara sedang bersiap membuat rekening untuk hampir seluruh rakyat Indonesia. Sekilas ini merupakan kabar tentang kemajuan, dimana dengan semakin banyak warga yang terkoneksi dengan layanan keuangan, s...

Karhutla: Hutan Dibakar, Rakyat Jadi Korban

Gambar
  Oleh : Reskidayanti  Karhutla: Hutan Dibakar, Rakyat Jadi Korban   Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kian meluas dan melahap apa pun yang dilaluinya hingga mendekati permukiman warga. Asap yang semakin tebal akhirnya menelan korban jiwa.   Duka menyelimuti kabut asap di Kalimantan. Seorang anak laki-laki berusia 11 tahun meninggal dunia akibat sesak napas. Riwayat asma yang dideritanya kambuh akut setelah terpapar asap karhutla.   Peristiwa ini tidak boleh berlalu tanpa evaluasi menyeluruh. Terlebih, solusi yang ditawarkan harus menyentuh akar persoalan, bukan sekadar merespons dampaknya.   Sebab, dampak karhutla tidak hanya dirasakan di dalam negeri, tetapi juga meluas hingga ke negara-negara ASEAN. Akibatnya, Indonesia dinilai tidak mampu menyelesaikan persoalan ini.   Imbas Kapitalisme: Penyerahan Hutan kepada Swasta   Karhutla bukan fenomena sesaat, melainkan bencana tahunan yang terjadi secara masif. Menjadikan al...

Wacana "Kuliah Gratis" di Tengah Komersialisasi Pendidikan

Gambar
Oleh : Reskidayanti (Aktivits Muslimah) Wacana "Kuliah Gratis" di Tengah Komersialisasi Pendidikan Rencana kuliah gratis di tengah sulitnya ekonomi hari ini terdengar seperti angin segar, terutama bagi rakyat menengah ke bawah. Namun, kita tak bisa buru-buru bahagia. Program kuliah dan sekolah gratis yang dicanangkan tetap bergantung pada dua hal yang sangat labil: kemampuan fiskal negara dan kondisi politik hari ini. Maka dari itu, letak persoalannya bukan pada program sekolah dan kuliah gratisnya, tapi penujang atas program tersebut apakah mampu untuk bisa mewujudkannya dan bersifat berkelanjutan?, jangan sampai hanya sebatas klaim gratis semata, namun tetap membebani rakyat. Gratis Tapi Rapuh Memang memungkingkan kuliah gratis tersebut terlaksana dari pernyataan beberapa ahli. Namun tak bisa menjamin akan tetap terus berlanjut sebab sepenuhnya mengikuti APBN. Jika fiskal terganggu, otomatis program ini pun akan ikut bermasalah, bahkan bisa saja berhenti. Alhasil ...

SOLUSI DUA NEGARA: JANJI PERDAMAIAN DI ATAS TANAH YANG TERUS DIRAMPAS

Gambar
  Oleh: Yuli Atmonegoro  (Aktivis Dakwah Serdang Bedagai) Ketika seluruh wilayah Palestina diklaim sebagai milik Israel, masihkah solusi dua negara layak disebut jalan menuju perdamaian? Pernyataan Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, yang mengklaim wilayah Tepi Barat sebagai milik Israel, bukan sekadar pernyataan politik biasa. Klaim tersebut memperlihatkan persoalan mendasar dalam konflik Palestina: bagaimana mungkin perdamaian diwujudkan jika hak rakyat Palestina atas tanahnya sendiri terus diingkari? Berdasarkan Kesepakatan Oslo II tahun 1995, Tepi Barat dibagi menjadi Area A, B, dan C. Area A berada di bawah kendali sipil dan keamanan Palestina, Area B di bawah kendali sipil Palestina dan kendali keamanan Israel, sedangkan Area C berada di bawah kendali Israel. Namun, pembagian administratif itu tidak menyelesaikan persoalan penjajahan dan kedaulatan Palestina. Ketika penguasaan wilayah dianggap sebagai hak kepemilikan, penjajahan sedang dinormalisasi. Perso...

Ilusi "Kuliah Gratis" dalam Sistem Kapitalisme

 Oleh : Ummu Hayyan, S.P. Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan jajarannya menyiapkan program pendidikan gratis hingga perguruan tinggi negeri atau PTN secepat mungkin. Hal itu dibahas dalam rapat terbatas di Istana Merdeka Jakarta, Rabu (23 september 2026). Prabowo menyebut anggaran kuliah gratis nantinya dapat berasal dari uang yang dikorupsi, dicolong, dan dicuri.  Sejumlah pengamat menilai, kuliah gratis memungkinkan secara fiskal selama anggaran pendidikan tidak tersisih untuk membiayai program lain, seperti makan bergizi gratis (MBG), maupun belanja kementerian, dan lembaga di luar sektor pendidikan. Namun, rencana tersebut masih menuai keraguan. Seorang mahasiswa yang diwawancarai BBC menilai, pendidikan belum menjadi prioritas pemerintah. Salah satunya melihat besarnya anggaran untuk program MBG. Keraguan juga muncul di tengah menyusutnya subsidi negara bagi mahasiswa PTN-BH dalam satu dekade terakhir.  Terus meningkatnya UKT di sejumlah kampus mengakibatkan ...

Narkoba dalam Vape, Ancaman bagi Generasi Muda

 Oleh : Ummu Hayyan (Pegiat Literasi) Kepala Badan Narkotika Nasional, Suyudi Ario Seto mengusulkan agar rokok elektrik atau Vape beserta cairannya dimasukkan dalam larangan yang diatur dalam Rancangan Undang - Undang (RUU) Narkotika dan Psikotropika. Usulan tersebut disampaikan menyusul banyaknya temuan penyalahgunaan zat narkotika dalam cairan Vape di Indonesia. Salah satunya terungkap dalam kasus selebgram JP yang dinyatakan positif menggunakan narkoba jenis Etomidate dalam Vape. Etomidate merupakan obat anestesi yang diberikan melalui suntikan intravena dan bekerja cepat dan membuat seseorang tidak sadarkan diri.  Namun, penggunaan obat kini disalahgunakan dengan cara dimasukkan ke dalam cartridge Vape. Di Jakarta, cartridge yang mengandung Etomidate disebut - sebut dijual dalam paket dengan harga sekitar Rp. 3 juta - Rp. 6 juta. Penggunaan Vape di masyarakat yang mengandung Etomidate tersebut juga dikenal dengan istilah 'Pod  Getar', merujuk pada efek tubuh bergetar ...

Ketika Pengungsian Belum Menjadi Tempat yang Aman, Akibat Pemerintah Tidak Serius

Gambar
 Oleh: Yuli Atmonegoro  (Aktivis Dakwah Serdang Bedagai) Gempa adalah bencana alam. Namun, jatuhnya korban setelah bencana bukan semata-mata persoalan alam. Di sanalah kemampuan negara dalam melindungi rakyat diuji. Gempa Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus 2026 meninggalkan duka panjang. BNPB mencatat 48 orang meninggal akibat dampak langsung gempa. Sementara itu, 94 warga meninggal ketika berada dalam masa pengungsian. Setelah dilakukan verifikasi bersama Kementerian Kesehatan, BNPB menjelaskan bahwa mayoritas korban merupakan lansia dengan penyakit kronis seperti stroke dan diabetes.  Fakta ini justru menghadirkan pertanyaan yang lebih mendasar: apakah sistem penanganan bencana benar-benar dirancang untuk melindungi seluruh korban, termasuk mereka yang paling rentan? Pengungsian bukan sekadar memindahkan manusia dari rumah yang rusak ke tenda. Pengungsian seharusnya menjadi tempat perlindungan: tersedia makanan, air, sanitasi, tempat tinggal yang layak, obat-o...