BULLYING MARAK, IMBAS SISTEM RUSAK


Oleh : Ummu Mumtazah (Pegiat Literasi)


Saat ini marak terjadi bullying di berbagai tempat, situasi dan keadaan. Seperti yang terjadi di sekolah-sekolah, di jalan-jalan bahkan sampai terjadi di pondok pesantren. Sungguh manusia saat ini sudah jauh dari rasa kemanusiaan  dan rasa kasihan terhadap sesama yang lainnya. 


Miris, di Batam anak perempuan di bawah umur menjadi pelaku bullying terhadap sesama anak perempuan, hal itu tidak bisa dihentikan  bahkan ditiadakan. Rendahnya tingkat pengasuhan anak diakibatkan dari abainya keluarga, masyarakat bahkan negara, sehingga anak seenaknya melakukan  hal-hal yang melanggar hukum bahkan melanggar syariat Islam.  Yang seharusnya ketiga pihak tersebut harus sinergi untuk menghentikan  tindakan bullying tersebut.

liputan6.com.


Banyak kasus-kasus bullying yang terjadi saat ini diakibatkan  dari ketidakpuasan anak terhadap temannya, tidak terpenuhi kebutuhannya, karena rasa dendam, pernah menjadi korban bullying, ingin exis dihadapan teman-temannya, tidak mau tersaingi dan masih banyak sebab-sebab yang lainnya yang biasa terjadi pada usia anak di bawah 18 tahun. 


Kapitalisme Memfasilitasi Bullying


Kenapa dikatakan memfasilitasi bullying, sebab kerusakan-kerusakan yang terjadi semuanya itu karena sistem yang sedang diadopsi negeri ini, diantaranya melalui tontonan yang tidak menjadi tuntunan dan hal tersebut tidak bisa dihindari karena zamannya serba gadget. Sebagian anak-anak asyik melihat dan mengakses apa saja yang mereka sukai. 


Dengan adanya dukungan sistem tersebut, kebanyakan  masyarakat terutama anak kecil tidak dapat menyaring informasi dan tontonan yang diterima. 


Dalam sistem  kapitalisme - sekuler, anak-anak  menjadi pelaku kekerasan  menggambarkan  lemahnya pengasuhan dan gagalnya sistem pendidikan. Oleh karena tidak mampu mencetak anak didik yang berkepribadian dan berakhlak mulia.


Jika seorang anak sudah menjadi pelaku bullying, negara tidak bisa menghentikannya. Hukum yang berlaku pun tidak bisa memberikan efek jera terhadap para pelaku anak-anak  karena diterapkannya hukum peradilan anak dengan sanksi yang rendah karena alasannya dibawah umur 18 tahun. Walhasil, anak banyak menjadi pelaku bullying karena tidak adanya hukum yang memberikan efek jera.


Ditambah lagi, bullying menjadi budaya kekerasan di masyarakat, kontrol kurang, kapasitas penuh, dan lingkungan yang buruk, maka kekerasan terus saja terjadi.

 

Bullying Butuh Solusi 


Karena masyarakat sudah terlanjur dengan kebiasaan buruk akibat sistem sekuler kapitalisme, maka solusi yang bisa menyelesaikan bullying tersebut adalah dengan memunculkan peradaban  alternatif yang dapat menggantikan peradaban materialistik yang merusak. Sebab dalam peradaban materialistik, hiburan betul-betul mengeksploitasi seksualitas, kekerasan, kekuatan, penghancuran dan sebagainya.

Sedangkan peradaban alternatif itu adalah peradaban yang tumbuh dari sebuah kasih sayang, tumbuh dari kesadaran. Segala sesuatunya diukur dengan  ketentuan syariat, halal dan  haram, boleh tidak boleh, makruf tidak makruf, baik atau buruk.


Dalam Islam, dikatakan agar tidak terjadi bullying maka perlu penghargaan terhadap nyawa, sesuai firman Allah SWT dalam Al Qur'an yang menyatakan : _"Barang siapa membunuh tanpa alasan yang dibenarkan  oleh syariat, maka ia seolah telah membunuh seluruh manusia."_


Dengan demikian, peradaban Islam akan bisa meminimalisasi keburukan  walau tidak hilang sama sekali karena fujur dan taqwa senantiasa ada.


Demikianlah solusi yang akan mengatasi bullying di masyarakat terutama yang menimpa anak-anak, yaitu dengan  cara penerapan Islam secara kaffah dalam setiap aspek kehidupan karena peradaban Islam adalah peradaban rahmatan Lil 'alamin.


Walaahu a'lam bish-shawwab

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gencatan Senjata Palsu: Ketika Perdamaian Dijadikan Alat Penjajahan

Ilusi Keadilan dalam Sistem Hukum Sekuler, Islam Menjamin Keadilan

Generasi Sadis, Buah Penerapan Sekularisme