Cara Paling Efektif Memerangi Islamofobia
Oleh : Pena Senja
Guru dan Aktivis Dakwah
Islamofobia secara semantik terdiri dari dua kata, yakni Islam dan fobia. Islam adalah agama sekaligus ideologi sebab Islam memiliki fikrah dan thoriqoh yang jelas. Fobia adalah rasa takut yang merujuk pada penyakit kejiwaan rasa takut yang dirasakan berlebihan pada objek tertentu yang sebenarnya tidak menyeramkan untuk sebagian orang sehingga para ilmuwan psikolog memasukkan fobia pada bab Psikologi abnormal. Untuk kajian fobia ini saya akan jabarkan singkat tentang dua teori pendekatan fobia dan kaitannya dengan islamophobia. Yaitu teori psikoanalisis Freid, dan teori behavioral Pavlov. Dalam teori Psikoanalisis Freud, phobia merupakan pertahanan terhadap kecemasan yang disebabkan oleh impuls - impuls ID yang ditekan. Kecemasan ini dialihkan dari impuls ID yang ditakuti dan dipindahkan ke suatu objek atau situasi yang memiliki koneksi simbolik dengannya. Sebagai contoh seorang anak kecil ditakut-takuti oleh kegelapan dan hantu, maka setiap kali situasi malam atau gelap akan menjadi koneksi simbolik seolah pasti ada hantu lalu timbul ketakutan yang berlebihan padahal tidak ada yang salah dengan malam hari. begitu pula dengan kata Islam yang dijadikan sebuah objek untuk menakut-nakuti masyarakat akhir-akhir. Islam yang justru merupakan ajaran mulia dan damai dikonstruksi sedemikian rupa seolah sesuatu yang menyeramkan, buruk dan membahayakan terus ditanamkan melalui imflus - imflus ID masyarakat tanpa memberikan kesempatan kepada pikiran rasional untuk mengkajinya, maka lahirlah kondisi kejiwaan yang abnormal berupa islamophobia. Dalam teori behavioral Pavlov, proses pembelajaran merupakan cara perkembangan fobia avoidance conditioning. Penjelasan utamanya adalah reaksi semacam ini merupakan respon avoidance yang dipelajari formulasi avoidance conditioning dilandasi oleh teori dua faktor yang diajukan oleh Mowrer dan menyatakan bahwa fobia berkembang dari dua rangkaian pembelajaran yang saling berkaitan.
Yakni yang pertama melalui classical condeting seseorang dapat belajar untuk takut pada suatu stimulus netral jika stimulus tersebut dipasangkan dengan kejadian yang secara intrinsik menyakitkan atau menakutkan. Kedua seseorang dapat belajar mengurangi rasa takut yang dikondisikan tersebut dengan melarikan diri dari atau menghindarinya. Jenis pembelajaran yang kedua ini diasumsikan sebagai operant conditioning respon dipertahankan oleh konsekuensi mengurangi ketakutan yang menguatkan. Hal inilah yang menjadikan orang tiba-tiba mengidap penyakit kejiwaan islamophobia berupa ketakutan yang irasional terhadap Islam yang justru merupakan ajaran mulia dan terbukti mensejahterakan seluruh manusia. Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad sebagai rahmatan lil alamin namun jika seseorang mengidap penyakit kejiwaan berupa islamophobia, maka Islam dianggap sebagai monster menakutkan yang harus dimusuhi, dibenci, dan dimusnahkan.
Penyakit kejiwaan berupa fobia sesungguhnya bisa disembuhkan melalui terapi kognitif. Dari sudut pandang kognitif terhadap kecemasan secara umum dan fobia secara khusus berfokus pada Bagaimana proses berpikir manusia dapat berperan sebagai diartesis dan pada bagian pikiran dapat membuat fobia menetap titik kecemasan dikaitkan dengan kemungkinan yang lebih lebar untuk menanggapi stimuli negatif, menginterpretasi Informasi yang tidak jelas sebagai informasi yang mengancam, dan mempercayai bahwa kejadian negatif memiliki kemungkinan lebih besar untuk terjadi di masa mendatang.
Islamophobia merupakan penyakit kejiwaan yang marak terjadi diberbagai belahan dunia, beberapa ajaran islam yang bersumber dari wahyu Allah dan Rasulullah saw semisal jihad, dan khilafah dianggap sebagai ajaran yang mengerikan atau mereka menyebutnya Radikal. Bahkan aktifivis dakwah dan para ulama - ulama yang memperjuangkan islam pun didiskriminasi bahkan dikriminalkan, simbol - simbol yang menjadi cerminan ketaatan pun ikut diserang seperti jilbab dan jenggot. Isu - isu penguat pun semakin bermunculan mulai dari ekstrimisme, radikalisme, hingga komunal. Kampanye - kampanye radikalisme, intoleran, dan terorisme terus diagungkan oleh berbagi pihak bahkan tak jarang dituduhkan langsung pada islam dan kaum muslimin. Tempat ibadah yang sering dihubungkan dengan terorisme adalah masjid yang jelas merupakan tempat ibadah kaum muslim, klaim adanya ancaman penceramah radikal sehingga perlu adanya penyaringan melalui sertifikat ternyata dialamatkan pada para ustdz dan dai yang menyampaikan islam.
Islamofobia merupakan opini yang tidak terjadi dengan alami. Melainkan dengan design bahkan ada unsur kesengajaan yang diproduksi untuk meraih tujuan tertentu. Islamofobia bukan hal baru, opini ini sudah ada sejak islam hadir sebagaimana diberitahukan Allah SWT dalam firman-Nya
كَذَٰلِكَ مَا أَتَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا قَالُوا سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُون
أَتَوَاصَوْا بِهِ ۚ بَلْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ
Demikianlah tidak seorang rasulpun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan: "Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila".
Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu. Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas. (QS:51):(52-53)
Saat ini para penyeru islam tidak lagi disebut tukang sihir, sebab istilah ini tidak lagi ditakuti di era modern saat ini. Ada istilah yang lebih ekstrim yang dapat membangkitkan kebencian kepada islam, yaitu "Radikal" untuk pemikirannya serta "ekstrimisme dan teroris". Mereka yang terbius oleh propaganda ini memilih berada pada barisan penentang islam dan setuju dengan pemikiran islam moderat.
Timbul pertanyaan, Apakah propaganda yang menghasilkan fobia ini bisa disembuhkan? Jawabannya tentu saja bisa, sebab fobia merupakan penyakit kejiwaan yang dapat disembuhkan selain dengan teori pendekatan yang sudah saya jabarkan singkat diatas tadi juga dapat disembuhkan dengan teori psikologis, sebagai berikut:
Flooding
Desentisasi sistematis
Abreaksi
Reframing
Hypnotherapy
Berikut penjabarannya :
Flooding atau pembanjiran merupakan teknik modifikasi prilaku berdasarkan prinsip teori yang dikemukakan oleh B.F Skinner. Flooding adalah situasi membanjiri konseling dengan situasi atau penyebab kecemasan atau tingkah laku yang tidak dikehendaki. Flooding pada penderita islamofobia dilakukan dengan cara exposure treatment atau terapi pemaparan yang ekstrim, yaitu dengan cara memasukkan penderita fobia kedalam ruangan kajian atau seminar tentang islam. Cara ini dapat membantu orang mengatasi ketakutan dan gangguan kecemasannya, mengurangi perasaan cemas, tertekan, atau ketakutan yang dimiliki seseorang terhadap ajaran islam.
Desentisasi sistematis, atau terapi pemasaran bertingkat, adalah sebuah terapi yang efektif dalam menurunkan rasa takut ataupun cemas yang mengganggu, proses ini dilakukan dengan cara relaksasi terlebih dahulu. Untuk kasus islamofobia ini di lakukan dengan expose treatment yang lebih ringan atau relaksasi dengan membayangkan berada di tempat yang nyaman, indah, sejahtera, bahagia dimana saat islam diterapkan dimuka bumi. Semisal membayangkan betapa sejahtera nya kehidupan ekonomi dibawah pemerintah yang menerapkan islam, tidak lagi ditemukan ekonomi ribawi, atau kemudahan mengakses kesehatan sebab difasilitasi oleh negara. Cara kerja desensitisasi sistematis ini dapat dilakukan dengan 3 tahapan yaitu tahapan relaksasi, menulis apa saja yang ditakuti, paparan. Manfaat dari desensitisasi sistematis diantaranya adalah, mengurangi rasa cemas berlebihan, meredakan gejala stres kronis, meredakan sakit kepala akibat fobia, dsb. Desensitisasi sistematis ini dapat dilakukan sendiri dirumah dengan cara menulis segala yang ditakuti atau dicemaskan termasuk kecemasan dan ketakutan terhadap ajaran islam yang berefek terjadi islamofobia.
Abreaksi berasal dari kata Abreaction yang berarti pelepasan tekanan psikologis atau emosi berupa perilaku atau ucapan tertentu. Untuk kasus islamofobia, abreaksi dilakukan dengan cara penderita islamofobia dibiasakan untuk membaca tentang konsep islam melalui berbagai sumber seperti, Al-Qur'an dan Hadist serta kitab-kitab para mujtahid dan ulama. Cara ini selain dapat menyembuhkan tekanan psikologis pada penderitanya juga menambah tsaqofah dan pengetahuan tentang ajaran islam dan memahamkan bagaimana sesungguhnya konsep islam itu sendiri.
Reframing adalah metode yang membantu seseorang melihat sebuah keadaan dengan cara berbeda sehingga bisa menghasilkan respon terbaik, Reframing merupakan teknik membingkai ulang suatu peristiwa dengan sudut pandang yang lebih positif. Refreming ini menyembuhkan islamofobia dengan membayangkan kembali menuju masa lalu dimana permulaannya si penderita mengalami fobia. Hal ini dimaksud kan untuk memperluas gambaran persepsi situasi berbeda dengan cara lebih konstruktif dan sebagai teknik memengaruhi dan meyakinkan seseorang untuk melihat beberapa gambaran ide dari sudut pandang berbeda.
Hypnotherapy merupakan salah satu cara pengobatan untuk masalah psikologis dengan teknik hipnotis. Pada kasus islamofobia teknik ini dilakukan dengan cara dakwah memahamkan islam. Dakwah adalah cinta, dakwah berarti mencintai orang - orang yang sedang mengalami gangguan psikolog untuk dibantu agar sembuh dari penyakitnya. Banyak saat ini umat pada umumnya dan kaum muslimin pada khususnya yang belum banyak tersentuh oleh dakwah islam, karena itu dakwah harus terus bergulir, mencintai orang - orang yang belum memahami hakikat islam, untuk kemudian memahamkan islam agar mereka masuk kedalam islam secara Kaffah sesuai tuntunan Al-Qur'an:2 (208)
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةً ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ
Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.
Semoga dengan dakwah seluruh umat segera sembuh dengan gangguan psikolog islamofobia dan menjadi masyarakat rasional dan masuk ledakan islam secara berbondong - bondong, Q.S : 110 (1-3)
Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, maka bertasbihlah dengan Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima taubat. Tidak layak bagi siapapun untuk takut dan benci terhadap islam, sebab islam adalah agama yang mulia yang bersumber dari zat yang mahamulia, Allah SAW sebagai pencipta manusia. Islam juga membimbing manusia menuju kemuliaan dengan ajaran - ajarannya yang sesuai fitrah manusia dan memuaskan akal. Islam memberikan perlindungan kepada seluruh alam semesta karena islam merupakan rahmatan lil'alamin.
Sejarah islam sejak masa Rasulullah saw dan kekhilafahan banyak berisi kemuliaan, tidak pernah ada paksaan bagi mereka yang tidak beraqidah islam, apalagi aksi genosida terhadap kalangan luar islam. Sejarah menyaksikan khilafah sepanjang sejarahnya justru payung kebersamaan untuk berbagai agama. Masih banyak lagi bukti - bukti kongkrit tentang kejayaan islam yang pernah berjaya dimuka bumi selama 13 abad lamanya dan dalam kurun waktu sepanjang itu hanya tercatat lebih kurang 200 kasus kriminal dan semua terselesaikan, Masya Allah. Karena itu tidak selayaknya mengalami ketakutan dan rasa was-was terhadap ajaran islam.
Allahu alambishawab.
Komentar
Posting Komentar