Harga Beras Melejit, Beban Kehidupan Kian Sulit

 

Oleh: Devi Ramaddani

(Pemerhati Sosial)

Terulang lagi, kebutuhan pokok seperti beras kembali naik. Padahal Kebutuhan beras selama setahun di Kaltim mencapai 350 ribu ton. Akan tetapi, produksi beras yang mampu dipenuhi baru 140 ribu ton. Kondisi itu membuat Kaltim harus mendatangkan pasokan beras dari luar daerah.


Selain persoalan produksi beras yang belum mampu memenuhi kebutuhan Kaltim, masalah lainnya adalah penyusutan areal sawah di Kaltim. Dari data yang diterima Akmal, dalam beberapa tahun terakhir luas sawah menyusut karena persoalan irigasi dan alih fungsi.


Dia juga menyampaikan bahwa persoalan el nino yang sempat terjadi sejak tahun lalu hingga awal tahun ini, membuat sentra penghasil padi ada yang mengalami gagal panen. (https://kaltimpost.jawapos.com/utama/2384380104/kaltim-defisit-beras-butuhnya-350-ribu-ton-sedangkan-produksi-hanya-140-ribu-ton)


Beras mengalami kenaikan harga, tentu membuat kehidupan rakyat semakin sulit. Bisakah kita bayangkan jika dari ekonomi menengah kebawah bagaimana bisa memenuhi kebutuhannya? Padahal kalo dipikir, Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang harusnya mampu memenuhi kebutuhan pokok masyarakat.


Jika dicermati penyebab mengapa beras mengalami kenaikan ternyata penyebabnya komplek, mereka mengungkapkan diantaranya penyusutan areal sawah sebab alih fungsi lahan menjadi perumahan, pertambangan  dan industri.   Terjadinya penurunan produksi karena untuk bertani butuh  biaya sangat besar. Harga  pupuk dan bibit yang mahal dan belum lagi bersaing dengan barang impor. Dari sisi     teknologi alat pertanian kurang didukung, alhasil banyak petani beralih  profesi.


Hal itu mengindikasikan bahwa negeri ini mengalami kesalahan dalam pengelolaan pangan.  Semua ini sebetulnya tidak lepas dari paradigma sistem kapitalisme sekuler  dalam pengelolaan SDAE  serampangan sehingga rusaknya alam berdampak el nino. 


Jelas sistem yang bercokol saat ini, membuat negara tidak mampu mewujudkan ketahanan pangan walaupun berstatus negara agraris. Kapitalisme biang kerok carut marut aturan di semua  sendi kehidupan manusia.  Perparahnya kebijakan dibuat   berpihak pada para kapital namun  menyengsarakan rakyat.


Berbeda halnya dengan Islam, dalam menciptakan ketahanan pangan, negara dalam Islam akan mengaturnya. Ada beberapa hal yang akan dilakukan oleh penguasa dalam Islam agar harga beras tadi menjadi stabil dan terjaga.


Pertama, Islam mengatur sektor pertanian sebagai sesuai hukum syarak. Islam akan memetakan lahan yang subur dan kurang subur. Lahan yang subur akan dijadikan tempat hunian, industri dan infrastruktur lainnya. Sedangkan lahan yang kurang subur akan dijadikan lahan pertanian secara paten. 


Begitu juga lahan-lahan kosong yang tidak di garap pemiliknya selama 3 tahun akan di ambil oleh negara, kemudian diberikan kepada siapapun yang bersedia menggarap/mengelola. Maka ketika dia menggarap lahan tersebut maka tanah itu menjadi hak miliknya selama dia menggarapnya


Kedua, Islam perduli petani lokal dan akan memberikan perhatian terhadap sektor pertanian sebagai pendapatan utama. Negara akan mendorong petani dan menyediakan kebutuhan mereka. Mulai dari bibit, saluran air, obat-obatan penunjang pangan serta pupuk yang unggul. 


Ketiga, kemandirian industri dan riset. Hal ini untuk menciptakan berbagai alat penunjang sektor pertanian serta menciptakan berbagai cara untuk menghasilkan produksi pertanian yang berlimpah dan berkualitas, dan tentunya dapat bermanfaat bagi rakyat.


Keempat, negara mengatur pendistribusian pangan agar merata keseluruhan negeri dan memastikan bahwa setiap per individu rakyat dapat menjangkau kebutuhan pangannya. Negara pula  akan melakukan pengawasan pasar hingga tidak terjadi penimbunan barang, kartel, penipuan, dsb. Saat negara menemui ketidak seimbangan penawaran dan permintaan, negara mengambil langkah intervensi pasar, seperti menyuplai barang yang langka. Khusus untuk masyarakat miskin dan tidak mampu, negara akan mengeluarkan kebijakan non harga.


Begitulah peran yang harusnya ditunaikan oleh negara demi kesejahteraan semua masyarakat, bukan hanya untuk sebagian masyarakat. Jelaslah sistem islam satu-satunya sistem yang sangat memperhatikan kebutuhan semua ummat. 

Wallahu’allam bisshawab

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gencatan Senjata Palsu: Ketika Perdamaian Dijadikan Alat Penjajahan

Ilusi Keadilan dalam Sistem Hukum Sekuler, Islam Menjamin Keadilan

Generasi Sadis, Buah Penerapan Sekularisme