KASUS DIABETES, TAK CUKUP DENGAN CUKAI MINUMAN MANIS
KASUS DIABETES, TAK CUKUP DENGAN CUKAI MINUMAN MANIS
Oleh : Wakini
Aktivis Muslimah
Anak adalah aset masa depan bangsa. Maka sudah selayaknya kesehatan mereka diperhatikan. Asupan makanan mereka juga perlu dijaga. Tidak hanya oleh orang tua tetapi juga oleh negara sebagai pengontrol seluruh kebijakan.
Awal Februari lalu Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin melayangkan surat ke Kementerian Keuangan terkait usulan penetapan cukai minuman berpemanis dalam kemasan. Hal ini didasarkan oleh keprihatinan Menkes melihat angka diabetes anak semakin meningkat, yang hingga 2023 melonjak 70 kali lipat.
Bahkan, dari kasus penderita diabetes tersebut, ternyata juga menimpa balita dibawah 5 tahun. Berdasarkan usia, berikut persentasenya; usia 0-4 tahun: 19 persen, 5-9 tahun: 31,05 persen, 10-14 tahun: 46,23 persen, dan di atas usia 14 tahun: 3 persen.(Republika).
Pada tahun 2022, World Health Organization (WHO) merekomendasikan negara anggota untuk menerapkan pajak terhadap minuman berpemanis usai menyoroti pengalaman beberapa negara seperti Meksiko, Afrika Selatan, dan Inggris Raya. Sejauh ini, sudah ada 85 negara yang menerapkan kebijakan tersebut.
Menurut WHO, penerapan pajak bagi minuman berpemanis, tembakau, dan alkohol dapat menghemat biaya untuk mencegah penyakit, cedera, dan kematian dini. Kebijakan ini juga diharap dapat mendorong perusahaan untuk mengurangi kadar gula pada produknya.
Tingginya penderita diabetes menambah daftar panjang kasus minimnya pelayanan kesehatan dan abainya negara dalam memberikan pelayanan terbaik bagi rakyatnya. Sementara kebijakan yang digadang-gadang sebagai solusi tidak sampai memberikan penyelesaian yang kongkrit yaitu dengan pajak cukai segala minuman yang bermanis.
Negara hanya mampu memberikan layanan kesehatan minimalis kepada rakyat untuk memberikan treatment atau pengobatan terhadap anak penderita penyakit kronis. Adapun berbagai program kebijakan yang bersifat promotif edukatif dan preventif, sangat tidak efektif sebab negara berlepas tangan. Negara lebih banyak menggantungkan pada masyarakat dan korporasi.
Hal ini semakin membuktikan bahwa negara terkesan abai dalam menjaga keamanan pangan dan kesehatan masyarakat. Produk makanan atau minuman dengan kadar gula tinggi mudah beredar di masyarakat dengan harga yang sangat murah. Sedangkan edukasi pola hidup sehat sangat minim.
Kantin-kantin sekolah, warung kelontong hingga supermarket pun menjajakannya dengan suka hati karena larisnya bukan kepalang. Demi uang, mereka tidak peduli apa yang mereka jual membahayakan kesehatan. Sebab penjualan dan pendistribusian dari pabrik pun tidak ada kontrol ketat dan bebas diperjualbelikan. Dengan dalih telah mengantongi standar ijin BPOM (Badan Penilaian Obat dan Makanan).
Sejatinya, meningkatnya kasus diabetes tak lepas dari faktor kemiskinan yang ada, jangankan memikirkan makanan sehat, bagi orang yang serba kekurangan yang terpenting bisa makan, murah, dan mengenyangkan. Sebab, untuk mendapatkan makanan atau jajanan dengan bahan-bahan terbaik tentu saja harus membeli dengan harga yang lumayan mahal.
Dalam sistem Kapitalisme, yang ada dalam pikiran mereka hanyalah fokus untuk meningkatkan profit dan efisiensi. Sehingga mereka tidak peduli bahan yang digunakan sangat merugikan konsumen, karena dalam pikiran mereka hanyalah mendapatkan keuntungan yang besar.
Semua ini adalah tanggung jawab negara, dalam sistem Kapitalisme negara terkesan dikebiri oleh para pemilik modal. Sehingga negara tidak mempunyai kendali dalam menyelesaikan segala permasalahan yang ada. Dalam hal ini, tentu harus ada solusi yang paripurna, berharap solusi dari sistem yang eksis sekarang ini ibarat menegakkan benang yang basah, yang tidak akan mungkin bisa.
Solusi yang tepat hanya ada dalam sistem Islam, negara mempunyai mekanisme yang berbeda dengan sistem buatan manusia. Pemimpin dalam Islam paham betul tentang tanggung jawab yang dipikulnya. Mereka mempunyai kewajiban dalam menjamin kesejahteraan, perlindungan, maupun kesehatan. Negara akan membatasi peredaran makanan dan minuman yang mengandung gula yang berlebih, begitu juga negara akan memberikan edukasi kepada masyarakat tentang makanan yang sehat, dan bahkan memberikannya dengan cuma-cuma. Dengan adanya sistem Islam, in sya'Allah segala problematika kehidupan dapat teratasi dengan sempurna.
Wallahu a'lam bishowwab

Komentar
Posting Komentar