Kenaikan Harga Pangan Saat Ramadan, Rakyat Makin Sulit

Kenaikan Harga Pangan Saat Ramadan, Rakyat Semakin Sulit 

Oleh : Nursila

(Pemerhati Sosial)

Ibarat anak ayam yang mati di lumbung padi, sekiranya cocok untuk mendeskripsikan negeri ini sebagai negara agraris, namun masyarakatnya nyaris tidak bisa memenuhi kebutuhan makanan pokoknya, karena harga beragam komoditas pangan yang mencekik. 

Dilansir dari CNBC Indonesia (01/03/2024), Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa harga komoditas pangan akan mengalami inflasi pada Bulan Ramadan ini. Deputi Bidang Statistika Produksi M. Habibullah menyatakan, biasanya mengacu pada data historis pada momen Ramadan harga beberapa komoditas


diperkirakan meningkat.

Sebagai kebutuhan yang paling penting bagi masyarakat, ketika kebutuhan pangan sulit dijangkau sudah pasti akan memicu banyak persoalan. Pemasukan keluarga yang seadanya, tidak akan cukup untuk membiayai kebutuhan sekadar makan anggota keluarganya.  Dengan demikian, kehidupan masyarakat semakin sulit di tengah banyaknya persoalan yang mereka hadapi.

Dari beberapa sumber menyebutkan bahwa beberapa faktor yang menyebabkan kenaikan harga pangan, seperti perubahan iklim, minimnya infrastruktur penunjang pertanian dalam negeri, lahan yang terbatas, hingga mempengaruhi produksi pertanian.

Hanya saja, beragam faktor di atas mestinya masih dapat diatasi, andai saja pemerintah negeri ini serius dalam menghadirkan solusi. Misalnya, ketika para ahli telah memprediksi adanya perubahan iklim di suatu waktu, pemerintah dapat mengantisipasinya sejak jauh hari agar memaksimalkan produksi pertanian. Hal tersebut dapat terjadi, ketika negara memfasilitasi penunjang pertanian, seperti menyediakan benih yang berkualitas, pemanfaatan lahan pertanian secara maksimal, menyubsidi pupuk, dan sebagainya. Dengan demikian negeri ini akan menghasilkan berbagai komoditas pangan yang melimpah.

Namun, jangankan mendapatkan hasil panen yang memuaskan, justru realita menunjukkan bahwa fakta masyarakat hari ini, khususnya para petani, semakin sulit. Sulit mengadakan alat-alat yang menunjang pekerjaan mereka, sulit mendapatkan bibit unggul, pupuk, karena harganya yang mahal. Belum lagi, ketika terjadi tradisi kenaikan harga pangan, dampaknya bukan hanya kepada masyarakat, tetapi juga berimbas kepada para petani.

Jelas, masalah harga pangan selalu menanjak hampir setiap saat ini tidak terlepas dari kebijakan negara itu sendiri. Harus kita sadari bahwa negara kita yang menerapkan sistem kapitalisme ini, ketika membuat kebijakan hanya berfokus pada keuntungan materi semata. Negara enggan untuk mengurus urusan rakyat, karena hanya membebani perekonomian. Maka lahirlah penguasa yang sibuk mengurus urusan pemodal atau mafia yang senantiasa mengendalikan harga di pasar, tanpa adanya sikap tegas dari pihak yang bertanggungjawab, yaitu negara.

Sangat jauh berbeda, jika persoalan pangan hari ini diselesaikan dengan sistem Islam. Islam bukan hanya sekedar agama melainkan juga ideologi yang melahirkan seperangkat aturan di dalamnya, termasuk mengatur persoalan pangan. Sudah tentu negara dalam Islam akan memberikan bantuan kepada para petani seperti sarana produksi, infrastruktur penunjang modal, teknologi, dan sebaginya. Hal tersebut agar hasil produksi dapat maksimal, yang seluruh pembiayaannya berasal dari Baitul Mal.

Jika terjadi lonjakan harga pangan yang disebabkan oleh ulah manusia itu sendiri, maka negara akan turun langsung untuk menanganinya dan memberikan sanksi tegas kepada pelaku penipuan harga dan penimbunan hingga ia jera. Hal ini pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat. Yang intinya segala persoalan yang menimpa umat selalu mempunyai penyelesaian dalam negara Islam. 

Negara dalam Islam akan benar-benar mengurus persoalan umat dengan teliti dan menjamin kebutuhan umat dengan baik. Pun terpaksa impor, negara tetap mempertimbangan produk dalam negeri. Namun demikian kebijakan tersebut hanya akan terealisasi dalam naungan negara Islam. Wallahu ‘alam bisshow

ab.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gencatan Senjata Palsu: Ketika Perdamaian Dijadikan Alat Penjajahan

Ilusi Keadilan dalam Sistem Hukum Sekuler, Islam Menjamin Keadilan

Generasi Sadis, Buah Penerapan Sekularisme