Pembantaian Kaum Muslimin Butuh Persatuan
Oleh : Ummu Mumtazah (Pegiat Literasi)
Hampir sekitar lima bulan atau 150 hari serangan Zionis Yahudi semakin kejam, brutal dan tidak berprikemanusiaan. Seolah membuktikan genosida yang ditargetkan. Jumlah korban sampai 29 ribu warga Palestina tewas. Databoks.kata data.
Berbagai Lembaga PBB mengecam perilaku Zionis Yahudi namun tidak bisa berbuat apa-apa. AS baru memberikan bantuan makanan untuk pertama kalinya melalui udara, tetapi hal tersebut tidak menutup kemungkinan juga sebagai sarana untuk memberikan bantuan senjata bagi Zionis Yahudi dengan jalur udara.
katadata.co.id
Sampai kapan negeri Palestina terus menderita, apakah kita hanya diam saja sementara saudara kita setiap saat terancam jiwanya ?
Nasionalisme, Akar Masalahnya
Saatnya umat bersatu untuk solusi penderitaan Palestina. Kini persatuan kita terpisah karena nasionalisme, para pemimpin masing-masing negara ingin eksis mempertahankan negara masing-masing. Sehingga penderitaan yang dialami salah satu negara pun tidak berupaya untuk menolongnya. Padahal mereka itu saudara muslim yang harus dibela jiwanya dan dijaga kehormatannya. Kini mereka terancam tanpa kepedulian saudaranya sendiri. Padahal Allah SWT berfirman :
انما المؤمنون اخواة
Artinya : Sungguh kaum muslim itu bersaudara. Karena itu damaikanlah diantara dua saudara kalian. ( TQS.al-hujurat [49]: 10 ).
Dari ayat tersebut menunjukkan bahwa siapapun, asal mukmin adalah bersaudara. Kita dipersatukan oleh akidah bahkan lebih kuat dari persaudaraan nasab. Persaudaraan nasab bisa terputus karena beda agama tetapi persaudaraan karena akidah benar-benar lebih kuat sampai kapan pun.
Kenapa kaum muslim selalu menjadi korban, persatuan tidak bisa diwujudkan? ini karena sekat bangsa-bangsa yang diaruskan para kapitalis untuk menghancurkan persatuan kaum muslim tetapi kaum muslim tidak sadar bahwa kita sedang diadu domba oleh kafir barat supaya menjadi terpecah belah.
Para kapitalis menginginkan kaum muslim hancur tak berdaya sementara mereka ingin menguasai kekayaan negeri-negeri kaum muslimin.
Ternyata nation state alias nasionalisme atau
'ashabiyyah adalah turunan dari sistem kapitalisme yang akan menghancurkan persatuan Islam. Para kapitalis tidak peduli atas kezaliman yang terjadi di Palestina bahkan di negeri muslimin lainnya. Mereka sibuk mengurusi negaranya sendiri apalagi para penguasa Muslim dan Arab adalah antek Barat, khususnya
AS. Mereka lebih memilih tuan-tuan mereka daripada kaum muslim yang dizalimi. Mereka seolah mendukung saudaranya sendiri untuk dibunuh dan digempur dengan kekuatan militer yang sangat tidak berprikemanusiaan sama sekali.
Palestina Perlu Dibela
Siapa lagi yang akan membela Palestina selain kita sebagai saudaranya seiman dan seakidah. Pembelaan tersebut wajib dilakukan untuk menghentikan kezaliman yang sedang terjadi baik di Palestina maupun muslim yang ada di negeri lainnya. Seandainya para pemimpin muslim di negeri-negeri seluruh dunia bersatu, maka kezaliman tidak akan berlarut-larut sampai sekarang, hal tersebut menampakkan bahwa persatuan itu sudah terhalang nasionalisme yang mereka gaungkan. Kini yang kita butuhkan adalah persatuan umat Islam yang akan melebur menjadi satu untuk bangkitnya peradaban Islam yang gemilang sebagai Rahmatan lil 'alamiin.
Semuanya berdampak bukan saja di Palestina, Rohingya, uighur dan muslim-muslim yang dizaliminya, tetapi imbasnya kepada segala bidang kehidupan yang menyengsarakan rakyat.
Kebangkitan, perubahan dan persatuan butuh perjuangan yang matang dan ikhlas bukan hanya asal perubahan tetapi perubahan yang hakiki jauh dari cengkraman kafir Barat dari sistem yang merusak.
Yang bisa mewujudkan perubahan dan persatuan tidak ada jalan kecuali dengan persatuan Islam yang diharapkan semua insan.
Mari menuju perubahan dan persatuan Islam dengan penerapan Islam secara kaffah ( menyeluruh ) dalam setiap aspek kehidupan dibawah kekuasaan Daulah Islam yang sesuai dengan manhaj kenabian.
Perlahan dan pasti pertolongan itu akan segera datang terutama kemenangan atas Palestina dan negeri kaum muslim yang dizalimi.
Wallaahu a'lam bish-shawwab
Komentar
Posting Komentar