DBD Mewabah, Islam Selesaikan Masalah

 



Oleh: Astina


Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Timur menerangkan bahwa kasus positif demam berdarah dengue (DBD) di provinsi tersebut meningkat menjadi 2.320 kasus, dan tujuh orang meninggal dunia.

"Meningkatnya kasus DBD di Kaltim diduga akibat curah hujan tinggi yang terjadi beberapa bulan terakhir. Tingkat kematian akibat DBD di Kaltim saat ini sebesar 0,17 persen, dengan angka kesakitan atau Incidence Rate (IR) 65,1. Meskipun kasus positif DBD lebih tinggi dibandingkan tahun lalu, angka kematiannya masih terkendali. Ini artinya, masyarakat sudah lebih tanggap dan segera membawa pasien DBD ke puskesmas atau rumah sakit," kata Kepala Dinkes Kaltim Jaya Mualimin di Samarinda, Ahad (4/3/2024).


Wabah DBD masih terus terjadi setiap tahunnya bahkan ada kasus kematian akibat penyakit tersebut. Pemerintah sudah memberikan program pencegahan penyakit DBD ke daerah-daerah terpencil maupun perkotaan yang didanai oleh kementrian kesehatan seperti kegiatan pemberantasan sarang nyamuk dan juga survey vector.


Kegiatan ini biasanya dilakukan di Puskesmas yang pelaksanaannya dianggarkan untuk satu sampai dua orang. Kegiatan ini tentunya akan sangat berpengaruh dengan sangat baik dalam pencegahan kasus DBD, karena dapat menurunkan populasi nyamuk jika perkembangan dicegah tentunya dengan membasmi jentik nyamuk aedes yang biasa terdapat dalam bak penampungan air masyarakat.


Sayangnya kegiatan ini tidak dapat dilakukan dengan baik oleh tenaga kesehatan yang bertugas karena banyaknya rumah atau tempat penampungan air yang harus dipantau dalam waktu yang harus dilakukan dengan cepat dan juga anggaran yang kurang mengcover semua kegiatan didalamnya.


Perilaku masyarakat seperti melakukan 3 M sangat kurang. Banyak masyarakat yang tidak menerapkan perilaku pencegahan, salah satunya seperti menampung air dan tidak membersihkannya setiap minggu. Tapi masyarakat yang tidak menguras bak tiap minggu karena kurangnya pemasokan air di masyarakat. Sehingga ketika ada air yang tertampung maka masyarakat sangat menyayangkan jika harus dibuang ketika sudah ada jentiknya. Inilah bukti negara belum mampu menyelesaikan permasalahan penyakit yang terus berulang. 


Pencegahan penyakit menular seperti DBD tentu membuthuhkan dukungan ekonomi. Sementara hari ini masyarakat dihadapkan pada kesulitan hidup akibat penerapan sistem ekonomi kapitalisme. Bagaimana mungkin memiliki lingkungan yang sehat jika memiliki rumah yang ideal dan asri saja tidak mampu bahkan tidak sedikit masyarakat yang tidak memiliki tempat tinggal.


Hal ini jelas membutuhkan solusi komprehensif dan mendasar. Solusi tuntas dipengaruhi banyak faktor, terkait berbagai  pihak ( individu, Masyarakat maupun negara), juga jenis Upaya baik preventif maupun kuratif. Sistem kapitalisme yang diterapkan hari ini nyata mempengaruhi terwujudnya solusi  komprehensif dan mendasar.

Kapitalisasi Kesehatan (vaksin bayar, layanan kesehatan sesuai dengan uang yang tersedia), keterbatasan kapasitas RS,  kemiskinan yang berpengaruh pada rendahnya literasi kesehatan, daya tahan tubuh adalah sebagian faktor yang berpengaruh.


Islam memandang kesehatan adalah kebutuhan dasar yang wajib dipenuhi oleh negara atas rakyatnya individu per individu. Khalifah bertanggung jawab lansung dan sepenuhnya terhadap kelestarian rakyatnya apalagi kekuasaan dalam islam dipahami sebagai amanah yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat. 


Dalam Islam, negara akan memastikan masyarakat memiliki tempat tinggal yang layak dengan tata ruang kota yang rIpih dan bersih. Selain itu negara juga akan melakukan edukasi yang mendorong masyarakat menerapkan hidup sehat yang tentunya didukung dengan pendidikan Islam sehingga mendorong masyarakat membentuk kepribadian Islam.


Dorongan untuk menerapkan pola hidup sehat bukan sekedar agar terhindar dari penyakit tetapi dorongan ruhiyah. Negara pun memastikan kesadaran akan adanya pencegahan dipahami sejak dini oleh masyarakat. Negara akan membentuk sistem yang kuat dalam proses pencegahan penyakit.


Sistem kesehatan Islam yang kuat dan tangguh termasuk pembiayaan penggunaan fasilitas pelayanan kesehatan yang memadai hingga pelosok negeri menjadikan setiap warga bisa mengakses pelayanan kesehatan dengan gratis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gencatan Senjata Palsu: Ketika Perdamaian Dijadikan Alat Penjajahan

Ilusi Keadilan dalam Sistem Hukum Sekuler, Islam Menjamin Keadilan

Generasi Sadis, Buah Penerapan Sekularisme