Hakikat Kemenangan

 



Oleh : Kurnia

( Pemerhati Sosial )


Ketika Ramadhan akan datang menyapa, seluruh ummat Islam bergembira menyambutnya karena ramadan adalah bulan yang mulia dan penuh berkah. Bulan kasih sayang Allah Swt kepada kita hamba-hambanya dan di bulan ini pula, Allah melipatgandakan pahala dari setiap amal yang kita lakukan.


Allah yang Maha Baik membukakan pintu ampunan kepada siapa pun yang melakukan shaum dengan dasar keimanan dan pengharapan penuh terhadap pahala dari Allah Taala. Ini sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Barang siapa yang puasa Ramadan karena iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari).


Setelah beberapa pekan dalam bulan Ramadhan kita lewati, sampailah kita saat ini diujung akhir bulan mulia tersebut. Dalam hitungan hari, Ramadhan akan pergi meninggalkan kita semua, suka atau tidak suka, kita tidak bisa menahannya walau satu hari saja. Kita juga tidak bisa memastikan apakah kita akan bisa bertemu kembali dengan Ramadhan-Ramadhan berikutnya. Tetapi semangat ketaqwaan harus tetap terjaga.


Setelah melakukan ibadah di bulan Ramadhan selama sebulan penuh yang mana ibadah tersebut diharapkan bisa melahirkan ketakwaan yang sesungguhnya kepada Allah Swt, seperti yang tertuang di (QS. Al-Baqaroh 2 : ayat 183 )

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,"


Berarti hikmah utama dari kewajiban puasa pada bulan Ramadan adalah untuk mewujudkan ketakwaan hakiki pada diri seorang muslim. Tentu Allah Swt. tidak akan pernah menyelisihi janji dan firman-Nya. Jika seorang muslim mengerjakan ibadah puasa dengan benar (sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Sunah) dan ikhlas semata-mata mengharap ridha Allah Swt., niscaya takwa sebagai hikmah puasa itu akan dapat terwujud dalam dirinya.


Pun ketika tiba hari Kemenangan yang dinanti. Kemenangan dari mengendalikan hawa nafsu, baik menahan makan minum dari pagi hingga petang atau bertahan dari melakukan kemaksiatan - kemaksiatan kepada Allah juga Rosulullah pastinya ketaqwaan akan selalu terjaga.


Moment idul fitri yang mana adalah moment berkumpul dengan semua keluarga akan dimanfaatkan sebagai wadah untuk tetap melakukan ketakwaan itu sendiri. Misalnya tetap melakukan amar ma'ruf nahi munkar dengan memperlihatkan adab yang baik terhadap sanak keluarga lain, menutup aurat dengan sempurna dan menjaga interaksi di antara keluarga tersebut itu tadi. 


Seorang mukmin sejati akan selalu memperlihatkan identitas keislamannya dalam semua aspek kehidupan yang dijalaninya. Semua itu pastinya dilakukan bukan karena tanpa dasar karena  Allah berfirman di QS. Ali Imron : 3 ayat 110

"Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah."


Oleh karena itu, jika memang takwa adalah buah dari puasa Ramadhan yang dilakukan oleh setiap mukmin maka idealnya setiap mukmin pasca-Ramadan akan senantiasa takut terhadap murka Allah Swt.. Ia akan berupaya menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Ia akan berupaya menjauhi kemusyrikan dan senantiasa menjalankan ketaatan. Ia akan menjauhkan diri sejauh-jauhnya dari segala hal yang haram. 


Menjalankan semua perintah Allah Swt. dan menjauhi semua larangan-Nya itu harus diwujudkan dengan cara mengamalkan seluruh syariat-Nya. Baik terkait akidah dan ibadah, makanan, minuman, pakaian, dan akhlak; juga terkait muamalah seperti ekonomi, politik, pendidikan, pemerintahan, sosial, budaya, dll.; maupun terkait ‘uqubaat (sanksi hukum) seperti hudud, jinayah, takzir, dan mukhalafat.


Tentu tidak dapat disebut takwa jika seseorang biasa melakukan salat, melaksanakan puasa Ramadan, atau bahkan menunaikan ibadah haji ke Baitullah, tetapi ia juga masih memakan riba, melakukan suap dan korupsi, mengabaikan urusan masyarakat, menzalimi rakyat, serta menolak penerapan syariat secara kaffah.


Ketakwaan tentu saja harus diwujudkan tidak dalam ranah individu saja, tetapi juga pada ranah masyarakat dan negara. Ketakwaan itu harus bersifat kolektif. Hal ini hanya mungkin bisa diwujudkan dalam institusi negara yang menerapkan syariah Islam secara kafah. Institusi negara itu tidak lain adalah Khilafah Rasyidah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Khilafah inilah yang dahulu pernah dipraktikkan oleh Khulafaurasyidin dalam mewujudkan ketakwaan kolektif di masyarakat.


Oleh karena itu, Ramadhan dan Idulfitri seharusnya mampu menumbuhkan kesadaran kaum muslim untuk memperkuat dakwah penegakan Khilafah tersebut. Inilah institusi yang berfungsi menerapkan syariah secara total karena sejatinya pribadi muslim merindukan adanya penerapan Islam secara totalitas agar terwujud keberkahan diseluruh alam, bukan seperti fakta yang ada saat ini, di mana kasus korupsi semakin marak di tengah angka stunting yang juga semakin tinggi, angka kejahatan dan kekerasan terhadap wanita dan anak juga semakin memprihatinkan. Semua ini menunjukkan fakta kelemahan ummat dan tidak adanya perlindungan yang dilakukan penguasa di negeri ini. Negeri kaya akan hasil SDA dan SDAE tapi rakyat semakin sulit dan menderita, kesejahteraan hanya dirasakan oleh sekelompok orang saja. 


Berdasarkan hal itu sudah waktunya ummat sadar akan pentingnya penerapan sistem kehidupan Islam secara kaffah karena hal itu merupakan perwujudan ketakwaan kepada Allah Swt. Perjuangan untuk menegakkan syariat secara kafah dalam naungan Khilafah itu harus dapat pula dibaca sebagai perjuangan mewujudkan perubahan demi mencapai kesejahteraan hakiki bagi masyarakat dunia, sekaligus mengakhiri berbagai kesengsaraan yang diakibatkan oleh tatanan kapitalisme global. Wallahu'alam Bishowab


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gencatan Senjata Palsu: Ketika Perdamaian Dijadikan Alat Penjajahan

Ilusi Keadilan dalam Sistem Hukum Sekuler, Islam Menjamin Keadilan

Generasi Sadis, Buah Penerapan Sekularisme