Indonesia Posisi Middle Income Trap, Program Makan Siang Gratis, Solusi Investasi SDM Berkualitas?
*Indonesia Posisi Middle Income Trap, Program Makan Siang Gratis, Solusi Investasi SDM Berkualitas?*
Oleh: A Tenri Sarwan, S.M
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi, sumber daya manusia yang berkualitas, pemerataan pembangunan, dan ketahanan nasional yang kuat. Merupakan indikator yang diharapkan tercapai demi visi jangka panjang terwujudnya Indonesia Emas 2045.
Presiden dan Wakil Presiden terpilih masih menuai polemik, namun pembahasan salah satu program prioritasnya sudah dibahas pemerintahan Presiden Joko Widodo beserta menteri kabinetnya supaya masuk dalam proses penganggaran 2025.
Ketua Umum (Ketum) Partai Golkar sekaligus Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, sumber daya manusia (SDM) yang unggul sangat penting untuk membawa Indonesia lepas dari _middle income trap_.
Oleh karena itu, Airlangga mengatakan, Golkar mendukung Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka yang berinvestasi di SDM. Airlangga lantas mengungkit program makan siang gratis untuk anak sebagai bentuk investasi SDM. (Kompas.com, 07-04-2024)
Wakil presiden terpilih 2024, Gibran Rakabuming Raka mengaku mengirimkan tim Prabowo-Gibran ke India untuk belajar mengenai program makan siang gratis. Menurutnya, India menjadi negara percontohan untuk program makan siang gratis. (Detik.com, 02-04-2024)
Lantas benarkah jalan program makan siang gratis sudah cukup mampu mencetak SDM berkualitas dan melepaskan Indonesia dari jebakan pendapatan menengah untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045?
-- Fatamorgana? --
Mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, dimana salah satu indikatornya dengan adanya SDM berkualitas yang selanjutnya diharapkan mampu membawa Indonesia lepas dari jebakan pendapatan menengah (middle income trap). SDM berkualitas sama dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi dan lepas dari middle income trap. Secara sederhana begitulah kesimpulan dari pernyataan salah satu pejabat pemerintahan.
Mencetak SDM berkualitas yang diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi adalah ironis dan miris karena lagi-lagi kehadiran individu-individu tidak lebih demi kepentingan ekonomi semata.
Berbekal makan siang gratis lalu menjadi SDM unggul, menjadikan India sebagai percontohan lalu menutup mata pada fakta betapa pelaksanaan program ini, dilansir dari CNBC Indonesia.com ternyata penuh dengan korupsi dan penerapannya yang tidak tepat, sehingga sering kali membahayakan dan mengecewakan kelompok rentan yang ingin dilayani.
Sempat terjadi insiden keracunan makanan di sekolah di Bihar yang menewaskan 23 anak. Times of India pun pernah melaporkan bahwa 50 siswa sekolah dasar negeri harus dirawat di rumah sakit di Bihar setelah makan makanan yang terkontaminasi bangkai kadal. (Cnbcindonesia.com 28-02-2024)
Maka, patut disimpulkan betapa program makan siang gratis demi mewujudkan SDM berkualitas adalah fatamorgana belaka. Apalagi jika sudah menyangkut kondisi ekonomi negeri yang kian rapuh. Sungguh tak layak hanya bergantung pada angka-angka yang justru terkadang jauh panggang dari api.
Berbenah tidak hanya pada urusan perut semata lantas lupa bahwa telah terjadi krisis berlapis di tengah ummat. Dan ini semua terjadi secara sistemik, dimana pelaku utamanya adalah ummat telah lama hidup dalam lingkungan kapitalisme. Dimana standar hidupnya hanya berputar pada uang. Dengan akidah sekuler yang menihilkan peran Sang Pencipta dalam kehidupan. Sehingga menjadikan ummat liberal, serba bebas tak peduli halal haram.
Inilah penyebab utama jauhnya wujud SDM berkualitas. Yang ada adalah generasi yang katanya berkualitas tetapi hadirnya hanya sebagai buruh peradaban rusak bukannya menjadi generasi pembangun peradaban shahih.
Sungguh SDM berkualitas tidak akan terwujud jika harapan terealisasinya hanya digantungkan pada program makan siang gratis, lalu bagaimana seharusnya?
-- SDM Berkualitas dengan Sistem Berkualitas --
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّا سِ تَأْمُرُوْنَ بِا لْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ ۗ
"Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah..."
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 110)
Ayat tersebut adalah jaminan langsung dari Allah SWT. Tentang standar generasi berkualitas.
Maka, SDM berkualitas standarnya adalah dikembalikan kepada apa yang sudah Allah SWT. tetapkan. Jelas bahwa profil generasi berkualitas adalah ketaatannya kepada Allah, mereka adalah generasi yang berkepribadian Islam yaitu individu yang berpola pikir dan sikap Islam.
Generasi berkualitas yang bukan berstandar duniawi, lalu menjadi korban dari sistem yang rusak dan merusak.
Sistem berkualitas yakni sistem Islam tidak akan pernah mengenalkan sebuah program berjudul makan siang gratis mengingat negara telah lebih dahulu menjamin tidak hanya pangan, tetapi sandang dan papan. Memastikan semua individu dalam naungan Daulah Islam menikmatinya. Tidak terfokus pada anak sekolah saja.
Maka, apalagi yang ummat tunggu, bukankah wujud implementasi kehidupan berkualitas, SDM hingga ekonominya hanya ada dalam sistem berkualitas. Siapkah ummat mewujudkannya?
Wallahu'alam bishshawab.
Komentar
Posting Komentar