Pelaksaan Syariat Islam Mampu Mendorong Pergerakan Ekonomi
Oleh: Devi Ramaddani
(Aktivis Dakwah)
Bulan ramadhan sudah kita lalui, ibadah puasa pun juga sudah kita lalui. Tentu ditutup dengan perayaan idul fitri sebagai momentum kemenangan umat Islam. Selama bulan ramadhan dan idul fitri ternyata membuat efek yang signifikan terhadap ekonomi.
Perputaran ekonomi di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif diprediksi akan capai Rp276 triliun di musim libur lebaran 2024. Jumlah ini meningkat 15% dibandingkan dengan libur lebaran tahun lalu. Perputaran ekonomi sejalan dengan mobilitas masyarakat selama musim libur lebaran. (https://katadata.co.id/video/news/66126ca6ed13d/rp276-t-perputaran-ekonomi-di-sektor-pariwisata-selama-libur-lebaran).
Aktivitas mudik lebaran memiliki dampak signifikan terhadap peningkatan pergerakan ekonomi masyarakat. Demikian disampaikan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi saat menjadi pembicara kunci dalam FGD Mudik Ceria Penuh Makna: Tantangan dan Peluang Pelaksanaan Angkutan Lebaran Tahun 2024 – 1445 H yang diselenggarakan Harian Kompas di Jakarta, Jumat (5/4). (https://www.dephub.go.id/post/read/mudik-lebaran-berikan-dampak-signifikan-bagi-ekonomi).
Tentu hal ini membuat kita gembira karena biasanya dimana-mana kabar ekonomi dunia sedang lesu tetapi dengan datangnya ramadhan dan idul fitri mampu membawa kebaikan terhadap ekonomi. Bagaimana tidak, Mengutip dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) memaparkan dua indikator utama yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional hingga lima persen pada momen libur lebaran tepatnya pada kuartal I dan II tahun 2024. (https://kemenparekraf.go.id/berita/siaran-pers-kemenparekraf-paparkan-dua-indikator-pendongkrak-ekonomi-saat-momen-lebaran-2024).
Benar saja, secara data konsumtif selama ramadhan dan idul fitri meningkat, ini membuat imbas yang besar pada perekonomian negara. Belum lagi mudik idul fitri yang sudah menjadi rutinitas umat Islam juga memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian.
Sehingga sangat wajar bahwa pergerakan ekonomi meningkat cepat selama ramadhan dan idul fitri. Hal ini bisa ditinjau dari meningkatnya konsumsi di berbagai kebutuhan mulai dari barang-barang, kebutuhan pokok, pariwisata, makanan, minuman sampai manufaktur.
Beginilah potret kebaikan dari Islam, fakta ini baru sekelumit penerapan dari syariat Islam. Terlebih lagi bagi muslim momentum ramadhan dan momentum idul Fitri merupakan momentum merepresentasikan ketakwaan dengan memperbanyak amal shalih. Termasuk berbagi dan membahagiakan saudara semuslim baik yang kurang mampu atau pun tidak.
Bayangakan bagaimana jika hukum Islam jalankan secara keseluruhan? Tentu membuat perekonomian akan lebih cepat lagi perputarannya dan membawa kemaslahatan bagi dunia.
Namun miris, kehidupan kita sekarang diatur dengan sistem kapitalisme yang berasaskan sekuler memisahkan agama dari kehidupan. Islam hanya sebatas ibadah ritual semata, sementara pengurusan ekonomi, politik, pendidikan dan sebagainya tidak mengacu pada syariat Islam. Padahal Allah telah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam (kedamaian) secara menyeluruh dan janganlah ikuti langkah-langkah setan! Sesungguhnya ia musuh yang nyata bagimu.” (TQS Al-Baqarah ayat 208).
“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (TQS. An- Nisa ayat 65).
Dari dua ayat diatas menunjukkan bahwa kita sebagai mahluk ciptaan Allah harus tunduk pada aturan-Nya. Sebab Allahlah yang Maha Mengetahui aturan apa cocok buat manusia. Maka hendaklah kita semua bersegera kembali pada Syariat Islam. Tentu dengan mengamalkan dan menerapkankan syariat Islam secara Kaffah sebagai satu satunya asas yang mengatur semua sendi kehidupan. Baik sekala individu, masyarakat dan negara.
Hanya dengan syariat Islam kita akan diantarkan pada kebangkitan. Bebas dari jerat penghambahan sesama manusia menuju penghambahan sejati, yakni menghambah hanya kepada Allah SWT. Yang akan mendatangkan keberkahan bagi seluruh alam.
Wallahu a'lam bissawab.

Komentar
Posting Komentar