Ramadhan Bulan Kemuliaan Al Qur'an
Oleh: Mufiidah Amiirotur Rosyiidah
Pemerhati Sosial
Tak terasa kita telah sampai di penghujung Bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan yang mulia ini merupakan bulan turunnya Al-Qur'an, seperti dalam Al-Baqarah: 185 "Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)"
Lebih tepatnya Al-Qur'an turun pada malam yang begitu mulia, yaitu malam Lailatul Qadr. Dalam surah Al-Qadr : 1, Allah SWT berfirman: Sungguh kami menurunkan Al-qur'an pada saat Lailatul Qadar. Turunnya Al-Qur'an merupakan peristiwa yang luar biasa serta menunjukkan keagungan Al-Qur'an itu sendiri.
Membaca Al-Qur’an termasuk ibadah, terlebih pada bulan mulia ini. Allah akan melipat gandakan pahala bagi setiap muslim yang membacanya. Namun tidak sekadar dibaca, Al-Qur’an juga harus dipahami dan diamalkan isinya dalam kehidupan sehari-hari. Ini karena Al-Qur’an adalah wahyu Allah SWT. yang menjadi petunjuk bagi manusia agar tidak tersesat dalam menjalani kehidupan ini.
Dijelaskan di dalam Al-Qur’an banyak sekali mengandung petunjuk dan seruan dari Allah SWT. Seruan-seruan Al-Quran setidaknya mencakup dua aspek, yakni aspek ruhiyah (spiritual) dan aspek siyasiyah (politik). Aspek ruhiyah mencakup pengaturan hubungan manusia dengan Allah SWT seperti shalat, puasa, haji, dan lain-lain.
Aspek Ruhiyah ini yang biasa kita sebut ibadah. Lebih banyak di pelajari dan di terapkan di kehidupan sehari-hari. Sehingga dalam persoalan agama masyarakat lebih fokus kepada aspek ruhiyah saja, yaitu yang menyangkut hubungan dirinya dengan Allah SWT saja. Namun untuk aspek kedua yaitu siyasiyah masih kurang diterapkan dan hanya diambil sebagian saja dalam aspek kehidupan.
Adapun aspek kedua yaitu aspek politik mencakup pengaturan hubungan sesama manusia, khususnya yang menyangkut urusan masyarakat yang dijalankan oleh negara dan dikontrol pelaksanaannya oleh umat. Sayang, saat ini ayat-ayat yang bersifat politis itu belum mendapat perhatian sebagaimana ayat-ayat yang menyangkut aspek ruhiyah.
Jika demikian keadaannya, Allah SWT sungguh telah mengingatkan kita, "Tidakkah mereka memperhatikan Al-Qur'an? Ataukah hati mereka telah terkunci?" (QS Muhammad [47]: 24).
Maknanya, sebagaimana kata Imam As-Samarqandi, “Apakah mereka tidak mendengarkan Al-Qur'an, tidak mengambil pelajaran dari Al-Qur'an, dan tidak memikirkan apa yang telah Allah SWT turunkan dalam Al-Qur'an berupa janji dan ancaman-Nya, serta banyaknya keajaiban di dalamnya hingga dengan itu mereka paham bahwa Al-Qur'an benar-benar dari sisi Allah? Ataukah kalbu-kalbu mereka telah tertutup?” (As-Samarqandi, Bahr al-’Uluum, 4/156).
Maka dari itu wajib bagi kita mengamalkan dan menerapkan seluruh isi Al-Quran. Jika tidak, kita termasuk golongan orang yang mengabaikan Al-Quran. Dalam QS Al-Furqan [25]: 30 yang artinya berkatalah Rasul, "Tuhanku, sungguh kaumku menjadikan Al-qur'an ini sebagai sesuatu yang di abaikan." Disini Rasulullah SAW mengadu kepada Allah mengenai kaumnya yang mengabaikan Al-qur'an. Itu terjadi saat beliau masih hidup di dunia.
Al-Qur’an dan Sunnah yang dipegang erat akan bisa menjadi penjaga bagi seorang hamba dari kesesatan, kususnya bagi umat muslim. Al-Qur’an dan sunnah juga akan menjadi petunjuk kebenaran baginya.
Seperti yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Al-Hakim dari Jabir bin Abdillah ra., beliau menceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Sungguh telah aku tinggalkan pada kalian sesuatu yang tidak akan menjadikan kalian tersesat selagi kalian berpegang teguh dengannya, yaitu Al-Qur’an dan sunnah Nabi-Nya.” (HR Muslim).
Tantangan bagi umat muslim kini adalah Al-Qur’an hanya dibaca dan diamalkan dalam ranah individu dan keluarga. Sementara itu, sistem kehidupan yang melingkupi manusia masih didominasi oleh paham sekularisme. Namun demikian, untuk bisa mengamalkan dan menerapkan Al-Quran secara keseluruhan butuh peran masyarakat dan terutama negara.
Dalam penerapan aspek politik, peran negara sangat penting. Sebab diperlukan sistem untuk dapat dijalankan oleh seluruh masyarakat. Karena di dalamnya terdapat hukum-hukum yang hanya bisa di jalankan oleh negara. Seperti yang berkaitan dengan pemerintahan, ekonomi, sosial, pendidikan dan politik luar negeri. Semua itu ada aturannya dalam Al-Qur'an.
Oleh karena itu, tidak cukup mengkaji Al-Qur’an dan Sunnah sebatas untuk diri pribadi dan keluarga. Namun, Al-Qur’an dan Sunnah harus dikaji secara menyeluruh, lalu didakwakan kepada masyarakat. Dengan demikian, masyarakat pun akan selamat dari kesesatan.
Sehingga, sudah seharusnya Ramadhan ini dijadikan momentum oleh kaum Muslim, terutama penguasa mereka, untuk lebih mengkaji, mengamalkan dan menerapkan isi Al-Quran secara keseluruhan. Serta harus lebih gencar lagi mendakwakan isi Al-Qur’an. Bukan sekadar dakwah menyampaikan Islam, namun dakwah memperjuangkan kembalinya kehidupan Islam yang menerapkan Al-Qur’an di seluruh lini kehidupan. Wallahu A’lam Bishowabh.

Komentar
Posting Komentar