Teknologi dalam Sistem Kapitalisme, Mustahil Membawa Kemajuan bagi Negara
Oleh : Dian Safitri
Masalah serius yang menimpa umat hari ini tiada muaranya. Kasus demi kasus datang silih berganti. Mulai dari darurat kekerasan seks, perundungan, judi online dan sebagainya.
Terbaru komisi perlindungan anak Indonesia mendesak agar pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika memblokir gim online yang mengandung kekerasan dan seksualitas. Pasalnya gim seperti itu berdampak buruk pada anak terutama yang banyak diminati hari ini seperti free fire. Gim ini mengajarkan tentang kekerasan. Menanggapi hal tersebut menteri Komunikasi dan Informatika, Budi Arie Setiadi siap memblokir gim-gim online tersebut jika terbukti mengandung unsur kekerasan dan pornografi. Masyarakat juga diminta segera melaporkan jika ada gim-gim yang memang mengandung kekerasan juga pornografi dengan penyertaan bukti (katadata.co.id, 12/05/2024).
Sungguh ironi, generasi adalah tonggak peradaban tetapi waktu mudanya dihabiskan untuk hal-hal yang unfaedah seperti main game. Hari ini peredaran gim online terbukti memberikan dampak buruk terhadap generasi. Meningkatnya kasus perundungan hingga tawuran di kalangan pelajar seiring kemudahan mengakses gim online menjadi bukti akan hal ini. Yang lebih memprihatikan di tengah kerusakan generasi akibat gim online, Indonesia justru tengah mengembangkan industri gim online dalam negeri dengan dalih menambah devisa negara.
Di satu sisi teknologi yang berkembang pesat memang sangat dibutuhkan oleh negara untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Kecakapan literasi digital menjadi kompetensi wajib oleh guru maupun siswa agar belajar menjadi sangat mudah, variatif dan tentunya menyenangkan. Tetapi di sisi lain potensi penyalahgunaan perangkat digital di kalangan siswa termasuk ancaman gim online dan pornografi tak terhindarkan.
Upaya meningkatkan perekonomian melalui pengembangan gim online dan menanggulangi tingkat kekerasan akibat gim online adalah sesuatu yang paradoks, karena faktanya sebagian besar game online mengandung unsur kekerasan seperti di adegan peperangan, senjata, darah, semuanya menjadi contoh bagi mereka untuk diikuti. Belum lagi warung internet yang buka online 24 jam nonstop dan pengawasan orang tua yang kurang, membuat anak sangat mudah mengaksesnya. Sedangkan negara lepas tangan akan hal semacam ini, abai terhadap peran utamanya sebagai pengurus umat termasuk penanggung jawab pembentukan karakter generasi.
Negara tidak melakukan tindakan tegas terhadap peredaran game online yang mengandung konten kekerasan. Negara hanya mau bergerak ketika masyarakat mendesak, sungguh sangat memilukan. Sebaliknya pemerintah mendukung pengembangan gim online yang hanya bermuatan permainan bahkan bisa menimbulkan kecanduan bermain game.
Potret ini adalah akibat negara ini menerapkan sistem kapitalisme sekulerisme. Rakyat dibentuk menjadi pribadi yang hanya berorientasi pada kepuasan duniawi serta dijadikan sebagai pasar bisnis para kapital. Ditambah keuntungan bisnis game online ini sangat menggiurkan. Para pengembang gim akan mendapatkan keuntungan yang berlimpah, dan negara juga memperoleh pemasukan berupa pajak. Yang lebih parahnya lagi gim online ini sudah diakui sebagai cabang olahraga untuk mengatasi pengangguran. Gim online akan terus dipelihara kendati pun membuat rusak generasi karena itulah watak sistem kapitalisme yang memanfaatkan teknologi hanya untuk meraih keuntungan materi tanpa mempertimbangkan dampak buruk generasi ke depannya.
Sesungguhnya kita sangat membutuhkan negara yang peduli terhadap generasi dan bersungguh-sungguh membentuk generasi berkualitas, unggul, dan beraqidah kokoh. Negara yang mampu mewujudkan hal tersebut hanya negara Islam atau khilafah. Tercatat dalam sejarah khilafah mampu mencetak generasi berkualitas dan menyejahterakan rakyatnya selama kurang lebih 13 abad.
Khilafah akan menerapkan sistem ekonomi Islam yang memiliki sumber pemasukan beragam dengan jumlah besar. Kekayaan alam berupa mineral, migas dan SDA lainnya yang melimpah akan dikelola negara untuk memenuhi kebutuhan dasar rakyat, seperti pendidikan, kesehatan dan keamanan.
Negara tidak akan mencari sumber pemasukan yang hanya akan merugikan masyarakat dan lingkungan. Khilafah akan memastikan generasi mendapatkan akses pendidikan dari keluarga, masyarakat hingga negara dengan tujuan membentuk kepribadian mulia dalam diri mereka. Khilafah juga akan membuka lapangan pekerjaan untuk laki-laki yang memiliki kewajiban untuk memenuhi nafkah tanggungannya. Dengan begitu Ibu akan bisa fokus untuk mendidik generasi dan mengurus rumah tangga, dan anak akan mendapatkan hak-hak mereka, diasuh dan dididik dengan baik.
Sistem pendidikan Islam dengan kurikulumnya yang berbasis aqidah Islam, akan membentuk generasi memiliki pola fikir Islam dan pola sikap Islam sehingga generasi memiliki akidah yang kuat dan menjadi pengontrol ketika mereka beraktivitas, mereka akan senantiasa beramal sesuai syariat Islam dengan tujuan hanya meraih ridho Allah Subhanahu wa ta'ala.
Selain itu khilafah juga akan menciptakan teknologi yang bermanfaat untuk umat dan tentunya tidak melanggar batas-batas syariat dan masyarakat tidak akan disuguhi aplikasi yang membahayakan dan melenakan. Aplikasi yang boleh ada di tengah-tengah masyarakat hanya aplikasi yang mampu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta membawa kemaslahatan bagi umat manusia dan jika ada yang melanggar maka negara akan memberikan sanksi ta'zir pada pelaku. Semua itu dilakukan sebagai bentuk penjagaan dan kepedulian negara dalam menjaga umat dari kerusakan.
Wallahu a'lam.

Komentar
Posting Komentar