Anak Pelaku Kriminal, Peran Keluarga Mandul


 


Oleh Dewi Putri, S.Pd

Kerusakan moral generasi semakin hari semakin merajalela. Hal ini  membuat keresahan, khususnya bagi orang tua.

Dikutip dari sukabumi.id, bocah laki– laki berinisial MA (6 tahun) asal Sukabumi menjadi korban pembunuhan. Tidak hanya dibunuh, anak yang baru mau duduk di Sekolah Dasar ini juga menjadi korban kekerasan seksual (sodomi). Hal tersebut diungkapkan Polres Sukabumi Kota usai melakukan serangkaian penyelidikan terhadap kematian korban yang mayatnya ditemukan tewas di jurang perkebunan dekat rumah neneknya di wilayah Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi beberapa waktu lalu.

Dari fakta tersebut, menjadi PR besar bagi keluarga lebih khusus orang tua karena maraknya kriminal yang dilakukan oleh anak. Tentunya peran keluarga pun tidak bisa menuntaskan tindak kekerasan yang dilakukan oleh anak. Tersebab sistem yang diterapkan saat ini adalah sistem buatan manusia yaitu kapitalisme dengan asas sekulerisme. Di lingkungan keluarga misalnya, anak kurang perhatian, kasih sayang, kurang pendidikan (pendidikan agama) dan lain-lain. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kurangnya perhatian dan peran orang tua terhadap pendidikan anak diantaranya, orang tua dalam hal ini ibu selalu sibuk bekerja. Demikian juga ayah. Mereka sibuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah tanpa peduli bagaimana moral sang anak. Inilah pandangan orang tua yang lahir di sistem yang batil.

Sejatinya peran ayah tidak hanya mencari nafkah akan tetapi ada peran besar yakni menjadi pemimpin dalam membina keluarganya yakni mendidik istri dan anak-anaknya. Begitu pula peran ibu yaitu sebagai madrasatul ula (sekolah pertama bagi anaknya).

Terkadang keluarga juga dihadapkan dengan masalah ketika orang tua sama -sama bekerja. Jika ayah dan ibu sibuk dengan bekerja maka disitulah anak cenderung diasuh dan dididik oleh lingkungan sekitarnya. Lingkungan tempat anak tumbuh akan berpengaruh  besar pada kepribadianya.

Ketika keluarga broken home, memang tidak semua anak yang bercerai orang tuanya mengalami kondisi atau perangai yang buruk, akan tetapi jika kita telusuri kebanyakan anak-anak yang bermasalah dengan hukum ialah dari keluarga yang broken home. Mereka cenderung berulah dan bertingkah untuk menarik perhatian kedua orang tuanya yang telah berpisah. Biasanya kondisi anak seperti ini ialah anak yang haus kasih sayang dan perhatian orang tuanya.

Faktor lainya ialah karena keterbatasan ekonomi menjadi salah satu faktor pemicu orang tua kurang perhatian dan pengasuhan. Keterbatasan ekonomi juga kerap menjadi alasan orang tua untuk abai terhadap tanggungjawabnya. Maka imbasnya adalah anak terlantar dan  tidak terdidik dengan benar.

Adapun kurangnya kesadaran orang tua dalam mendidik anak, minimnya literasi dan pengetahuan seputar pola asuh dalam mendidik anak menjadi faktor lain sehingga pendidikan keluarga itu mandul. Kurangnya kesadaran orang tua, bisa jadi karena kurangnya pendidikan orang tua dalam memahami Islam dengan benar dan minim pengetahuan dalam mendidik anak.

Pendidikan keluarga memiliki peran vital dalam melahirkan generasi yang berkualitas. Bagaimana pun,  penerapan sistem kapitalisme memberi dampak dan pengaruh bagi jalannya pendidikan hari ini. Sistem kapitalisme membentuk keluarga yang hanya fokus pada pencapaian materi, kebutuhan materi anak terpenuhi akan tetapi kurang dalam mendidik ilmu agama. Sehingga pada akhirnya anak mudah terpengaruh hal-hal negatif di sekitarnya. Karena hilangnya perisai atau agama dalam sendi-sendi kehidupan mereka. Lantas bagaimana solusi yang mampu mencegah anak dari perilaku kriminal?

Mendidik generasi ibaratnya kita mempersiapkan lahirnya peradaban mulia. Generasi emas tidak lahir dari pendidikan yang sarat capaian-capainya duniawi semata  apatah lagi terlibat pada perbuatan kriminal. Generasi emas hanya lahir dalam sistem pendidikan yang bervisi membentuk kepribadian mulia.

Sistem yang mampu menciptakan generasi semacam ini hanyalah sistem yang berbasis pendidikan Islam. Bukti nyatanya ialah peradaban Islam berdiri selama 13 abad lamanya yang mampu mewujudkan generasi gemilang, beriman dan bertaqwa.

Sistem pendidikan Islam berbasis akidah Islam yang diselenggrakan oleh negara dan menjadi kurikulum inti dalam setiap sekolah-sekolah.
Tujuan kurikulum berbasis akidah Islam adalah membentuk generasi yang memiliki pola pikir dan sikap yang sesuai dengan pandangan Islam. Negara menjadikan pendidikan sebagai layanan gratis yang dapat dinikmati oleh semua anak yang ada di dalam negara Islam.

Dengan pendidikan yang gratis dan fasilitas yang memadai serta tenaga guru yang profesional dan kurikulum berasas akidah Islam maka tentu akan melahikan  generasi yang unggul dalam iptek maupun imtak.

Negara juga menerapkan sistem sosial dan pergaulan Islam. Diantara ketentuan Islam dalam menjaga pergaulan lingkungan keluarga dan masyarakat ialah wajib menutup aurat secara sempurna, larangan berzina serta tidak adanya campur baur dengan non mahram (ikhtilat) dan larangan mengeksploitasi  perempuan dalam memamerkan keindahan dan kecantikan saat bekerja, larangan melakukan perjalanan tanpa ditemani oleh mahramnya melebihi sehari semalam.

Optimalisasi media dan informasi dengan menyaring konten dan informasi yang tidak mendukung bagi perkembangan generasi seperti Konten-konten yang berbau porno, film-film berbau sekuler liberal, media penyeru kemaksiatan dan perbuatan yang mengarah dan melanggar syariat Islam.

Wallahu'alam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gencatan Senjata Palsu: Ketika Perdamaian Dijadikan Alat Penjajahan

Ilusi Keadilan dalam Sistem Hukum Sekuler, Islam Menjamin Keadilan

Generasi Sadis, Buah Penerapan Sekularisme