Dunia Dilanda Kelaparan, Islam Jadi Harapan


Oleh: Izzah Saifanah


Dikutip dari situs Cnbcindonesia (4/5), Organisasi Pangan Dunia atau FAO yang berada di bawah naungan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mengungkapkan masih banyaknya kelaparan akut di 59 negara atau wilayah, dengan jumlah 1 dari 5 orang di negara itu mengalami kelaparan akibat permasalahan pangan akut. Berdasarkan laporan mereka bertajuk Global Report on Food Crises 2024, tercatat sebanyak 282 juta orang di 59 negara mengalami tingkat kelaparan akut yang tinggi pada 2023. Jumlah orang kelaparan pada 2023 itu meningkat sebanyak 24 juta orang dari tahun sebelumnya. 


Masalah kerawanan pangan dunia ini merupakan fenomena aneh. Betapa tidak, Allah Swt. telah menganugerahkan alam yang luar biasa untuk umat manusia. Aneka tumbuhan bisa hidup, demikian juga dengan berbagai ternak. Bahan pangan itu ada dan cukup. Buktinya, banyak negara sampai mampu mengekspor ke luar negeri, sedangkan sampah makanan (sisa makanan yang dibuang) juga makin banyak. Hal ini mengindikasikan bahwa jumlah bahan pangan cukup.


Selain faktor penimbunan, kemiskinan ekstrem menjadi penyebab bencana kelaparan. Negara-negara miskin, seperti di Afrika; negara-negara yang sedang krisis, seperti Sri Lanka; dan negara yang sedang diduduki oleh penjajah, seperti Irak, Afganistan, Suriah, Palestina, dan lainnya, tidak punya cukup dana untuk membeli bahan pangan dari luar negeri.


Sementara itu, negara-negara besar hanya sibuk membahas kelaparan dunia sambil “makan besar di meja makan. Sikap individualis negara-negara besar ini telah membuat kelaparan makin jauh dari penyelesaian. Mereka menguasai pangan dan memegangnya erat-erat hanya untuk konsumsi dalam negeri, sedangkan di luar sana banyak manusia sekarat.


Negara-negara besar ini pula yang telah menduduki negeri-negeri muslim dan menjadikannya miskin, padahal dahulu kaya dan sejahtera. Inilah akibat dari penerapan sistem kapitalisme, rakyat kelaparan dan makin jauh dari kesejahteraan. 

Islam sebagai sistem kehidupan telah memiliki solusi sistemis dalam mengatasi hal ini. Pertama, pembagian kepemilikan secara benar. Pembagian kepemilikan dalam ekonomi Islam itu ada tiga, yaitu kepemilikan individu, umum, dan negara. Pembagian ini sangat penting agar tidak terjadi dominasi ekonomi, yakni hegemoni pihak yang kuat menindas yang lemah. 


Kedua, pengaturan pembangunan dan pengembangan ekonomi yang benar, yaitu bertumpu pada pembangunan sektor ekonomi riil, bukan nonriil. Ketiga, distribusi harta kekayaan oleh individu, masyarakat, dan negara. Sistem ekonomi Islam akan menjamin bahwa seluruh rakyat akan terpenuhi semua kebutuhan asasinya (primer). Sistem ekonomi Islam juga menjamin bagi seluruh rakyatnya untuk dapat meraih pemenuhan kebutuhan sekunder maupun tersiernya.


Keempat, negara wajib memenuhi kebutuhan pokok masyarakat, seperti sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Dalam hal kebutuhan sandang, pangan, dan papan, negara harus memberi kemudahan masyarakat untuk mendapatkannya. Semisal harga terjangkau, kemudahan bekerja untuk memenuhi kebutuhan, serta kemudahan mengakses kebutuhan tersebut.


Adapun dalam hal pendidikan, kesehatan, dan keamanan, negara harus memenuhinya secara gratis tanpa dipungut biaya. Tidak boleh ada komersialisasi dan kapitalisasi dalam tiga kebutuhan ini. Layanan pendidikan dan kesehatan harus diberikan kepada rakyat secara cuma-cuma. Jaminan keamanan setiap warga juga menjadi tanggung jawab negara sebagai pemelihara urusan rakyat.

Sungguh hanya kepada Islam lah kita menaruh harapan, sebab kapitalisme telah terbukti membuat kekacauan. Wallahu 'alam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gencatan Senjata Palsu: Ketika Perdamaian Dijadikan Alat Penjajahan

Ilusi Keadilan dalam Sistem Hukum Sekuler, Islam Menjamin Keadilan

Generasi Sadis, Buah Penerapan Sekularisme