Hardiknas : Merdeka Belajar, Tujuan Pendidikan Ambyar ?
Oleh : Norma Rahman, S.Pi ( Guru )
Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) diperingati setiap tanggal 2 Mei. Seiring peringatan Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei 2024, bulan Mei tahun 2024 juga dicanangkan sebagai bulan Merdeka Belajar. Pemerintah menetapkan bahwa tema peringatan Hari Pendidikan Nasional Tahun 2024 adalah "Bergerak Bersama, Lanjutkan Merdeka Belajar".
Seperti dilansir dalam laman detik.com, Kemendikbudristek akan segera mengesahkan Kurikulum Merdeka sebagai Kurikulum Nasional (Kurnas). Namun, tak semua pihak setuju, seperti organisasi nirlaba Barisan Pengkaji Pendidikan (Bajik). Bajik menilai Kurikulum Merdeka tak layak jadi Kurnas. Mereka juga meminta agar Kurikulum Merdeka dievaluasi secara total dan menyeluruh.
Menurut Direktur Eksekutif Bajik Dhita Puti Sarasvati, Kurikulum Merdeka masih compang camping. Maka dari itu, banyak kelemahan yang harus diperbaiki.
"Kurikulum Merdeka belum layak menjadi Kurikulum Resmi Nasional. Hal yang paling esensial yang harusnya ada dalam kurikulum resmi malah belum ada yakni kerangka kurikulumnya,"
Tealaah Akar Masalah
Hari ini, dunia pendidikan kita masih begitu miris terhadap kerusakan generasi. Berdasarkan hasil Asesmen Nasional 2021 dan 2022 atau Rapor Pendidikan 2022 dan 2023, sebanyak 24,4% peserta didik mengalami berbagai jenis perundungan (bullying). Kasus terakhir korban perundungan terjadi di 4 daerah pelaku dan korban merupakan anak sekolah yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Disisi lain, menurut Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), ada 30 kasus bullying sepanjang 2023. FSGI juga mencatat sepanjang 2023, ada 46,67% kekerasan seksual terjadi di sekolah dasar. Ini hanyalah angka-angka yang tampak, belum kasus yang tidak terlaporkan.
Merdeka Belajar merupakan pendekatan pendidikan yang diusung Nadiem Makarim sejak awal menjabat menteri. Seluruh kebijakan yang dibuat selalu bertujuan mewujudkan Merdeka Belajar. Nadiem menegaskan, esensi Merdeka Belajar adalah memberikan keleluasaan bagi siswa untuk memilih pelajaran sesuai minat mereka.Menurut Nadiem, orangtua tidak bisa memaksa anak yang menyukai seni untuk belajar secara mendalam. Setiap anak, kata Nadiem, pada dasarnya punya rasa ingin tahu, punya keinginan untuk belajar. Dalam kasus seperti ini, menurut Nadiem, konsep Merdeka Belajar bisa menjadi solusi, yakni kebijakan dirancang berdasarkan keinginan dan memprioritaskan kebutuhan siswa.
Masalahnya, dalam hal ini masyarakat tidak boleh mengabaikan sistem makro (supra sistem) yang berlaku di negeri ini. Mau diakui atau tidak, sudah terlalu banyak bukti yang menunjukkan bahwa nilai-nilai sekuler dan liberal kian menguat dalam kehidupan masyarakat. Sejatinya makin menegaskan bahwa cepat atau lambat semua pihak harus menya dari bahwa negeri muslim terbesar di dunia ini memang sekuler dan liberal.
Apakah Kurikulum Merdeka mampu menjawab persoalan krusial sesungguhnya yang tengah dihadapi pendidikan? Misalnya, perundungan, kekerasan seksual, pergaulan bebas, hingga kehamilan di luar nikah. Makin kesini, generasi kita makin jauh dari karakter dan akhlak mulia.
Islam, Lahirkan Pendidikan dan Generasi Terbaik
Generasi cemerlang hanya lahir dari peradaban gemilang. Generasi cemerlang adalah generasi yang menjadikan Islam sebagai pembentuk karakter dan kepribadian mereka. Pendidikan dalam Islam memadukan antara keimanan dengan ilmu kehidupan sehingga berpengaruh besar dalam setiap amal perbuatan. Pendidikan semacam ini pernah lahir pada masa peradaban Islam selama 13 abad lamanya.
Sistem pendidikan Islam memiliki visi yang jelas, yakni mencetak generasi dengan pola pikir dan pola sikap yang sesuai dengan Islam (Syahsiah Islamiyah). Dengan kurikulum yang berlandaskan akidah Islam, bukan sebuah utopia lahir generasi yang tinggi akhlaknya, cerdas akalnya, dan kuat imannya. Ditopang dengan ekonomi Islam yang menyejahterakan dan kebijakan yang bersumber pada syariat Islam, seluruh elemen masyarakat dapat merasakan hak pendidikan secara gratis.
Negara berperan dalam menjamin hak pendidikan, menyusun kurikulum pendidikan berbasis akidah Islam, dan menciptakan lingkungan dengan ketakwaan komunal melalui sistem pergaulan Islam.Tidak kalah penting, orangtua harus memiliki bekal pemahaman Islam secara kafah agar tidak salah dalam mendidik dan mengasuh anak-anaknya. Dengan begitu, anak-anak tumbuh dalam suasana kondusif dan tercipta kepribadian Islam yang unik dan khas.
Walhasil, merdeka belajar hanyalah produk dari kebimbangan arah pendidikan hari ini. Ada masalah pada karakter generasi, tetapi malah dijawab dengan Kurikulum Merdeka yang belum menyentuh masalah pokok pendidikan.
Sudah berganti kurikulum, berpindah metode, hingga dikomandoi bermacam menteri, toh problem pendidikan masih saja berkelindan dan tidak pernah tuntas terselesaikan. Oleh karenanya, untuk memecahkan kebuntuan dan kebekuan problem pendidikan, negeri ini semestinya mengambil Islam sebagai solusi fundamental.
Inilah bukti gemilangnya sistem pendidikan Islam yakni lahirnya ilmuwan-ilmuwan muslim yang bukan hanya cerdas dalam ilmu dunia, tetapi mereka mampu mengimbanginya dengan iman dan takwa. Selain ahli ilmu terapan, sebagian besar juga faqih fiddin, seperti Al-Farabi, Al-Khawarizmi, Jabir Ibni Hayyan, dan lainnya.
Maka, tidak ada satu sistem pendidikan mana pun selain Islam yang mampu membawa peradaban cemerlang, baik dari pendidikan sumberdaya manusianya maupun ilmu yang dicapainya. Saatnya berbenah secara fundamental, yakni menerapkan sistem pendidikan Islam secara kaffah. Wallahu alam.

Komentar
Posting Komentar