Meneladani Kartini Inspirasi Dakwah Muslimah Masa Kini
Oleh Hartatik
Pemerhati Sosial
Dalam rangka memperingati hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April, ketua komisi 2 DPRD Kaltim Nidya Listiyono mengajak para perempuan lebih meneladani perjuangan RA Kartini yang mampu menyalakan api perjuangan pada masanya. Menurutnya perempuan diharapkan terus berkarya mengembangkan diri dan memperluas ilmu pengetahuan. Dengan demikian akan membawa kehidupan bangsa Indonesia lebih baik, kata beliau. (22/04/24, infosatu.co).
Semangat Kartini untuk memperjuangkan keadilan dan hak mendapatkan pendidikan mendapatkan tempat di hati rakyat Indonesia. Tak pelak jika Namanya harum sebagai Wanita pejuang. Namun, ada upaya untuk menjauhkan sosok Kartini dari Islam.Wakau tak diragukan lagi jika Kartini adalah seorang Muslimah. Tentu fakta ini membuat miris. Karena secara historis, Islam sangat berperan dalam menguatkan tekad perjuangan Kartini. Seorang muslim dididik untuk peduli terhadap segala hal yang bertentangan dengan Islam termasuk penjajahan.
Surat-surat Kartini juga bisa dijadikan bukti otentik yang tak terbantahkan. Tentu dengan membacanya secara keseluruhan dan merunutnya dari awal hingga akhir hayat Kartini. Berikut adalah cuplikan surat Kartini di tahun terakhir sebelum beliau meninggal.
Dalam suratnya kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902, Kartini menuliskan: “Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama yang disukai.”
Sementara terdapat juga surat kartini kepada Nyonya Abendanon, 12 Oktober 1902: “Dan saya menjawab, tidak ada Tuhan kecuali Allah. Kami mengatakan bahwa kami beriman kepada Allah dan kami tetap beriman kepada-Nya. Kami ingin mengabdi kepada Allah dan bukan kepada manusia. Jika sebaliknya tentulah kami sudah memuja orang dan bukan Allah”.
Sayangnya keteladanan Kartini disalah artikan sifat kritisnya dan perhatiannya terhadap pendidikan perempuan diklaim sepihak sebagai sebuah spirit emansipasi perempuan,hingga beliau dijadikan teladan emansipasi.
Bahwa ada skenario besar dibalik mainstreaming gagasan emansipasi atau kesetaraan gender di dunia Islam. Skenario itu berupa perang pemikiran yang dilancarkan Barat untuk menjauhkan umat Islam dan mengukuhkan hegemoni kapitalisme global salah satunya melalui kaum perempuan.
Semestinya,mereka paham bahwa solusi meraih kesetaraan yang dibungkus narasi pemberdayaan sejatinya tidak nyambung dengan akar masalah yang diklaim sebagai problem perempuan. Jika dicermati, munculnya berbagai masalah kemiskinan, kekerasan diskriminasi, dan marginalisasi di tengah kehidupan nasyarakat hari ini justru akibat penerapan sistem hidup dan aturan yang sangat rusak yakni sistem sekuler kapitalisme neoliberal.
Kartini memiliki cita-cita yang luhur, yaitu mengubah masyarakat, khususnya kaum perempuan yang tidak memperoleh hak pendidikan, juga untuk melepaskan diri dari hukum yang tidak adil dan paham-paham materialisme, untuk kemudian beralih ke keadaan ketika kaum perempuan mendapatkan akses untuk mendapatkan hak dan dalam menjalankan kewajibannya.
Ini sebagaimana terlihat dalam tulisan Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya pada 4 oktober 1902, yang isinya, “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-kali, karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya, tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya; menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”
Kartini tidak pernah menyuarakan emansipasi, feminisme ataupun isu kesetaraan gender. Seperti yang sekarang selalu disuarakan oleh para feminis. Konsep femisnisme dan kesetaraan gender, nyata-nyata bertentangan dengan syariat Islam. Namun, Kartini menyuarakan syariah Islam yang kaffah. Solusi hakiki yang dapat membangkitkan kaum muslimah. Mensejahterakan dan memuliakannya.
Dengan Islam kaffah, kaum perempuan dapat terjaga kemuliaannya. Dengannya pula kaum perempuan dapat bangkit dalam makna yang sempurna, yakni sebagai hamba Allah SWT. yang senantiasa menjaga iman dan takwanya, serta mengoptimalkan potensinya sebagai ummu wa rabbatul bait. Sebaik-sebaik posisi yang Allah SWT tetapkan bagi seluruh perempuan. Wallahu a'lam bisshawab.

Komentar
Posting Komentar