PALESTINA, JANTUNG KAUM MUSLIMIN
Jantung adalah salah satu organ di dalam tubuh manusia yang sangat vital keberadaannya. Ketika jantung tidak berfungsi, itu artinya akhir dari kehidupan manusia.
Begitu pula denyut umat Islam. Untuk mengukur kondisi kaum Muslimin secara umum, digambarkan tolak ukurnya adalah bagaimana kondisi kaum Muslimin di Syam. Apabila kondisi kaum Muslimin di sana tidak baik-baik saja, maka hakikatnya begitulah kondisi kaum Muslimin secara umum.
Mungkin dari penampakan fisiknya negeri-negeri kaum Muslimin tampak merdeka. Namun hakikatnya mereka terjajah, meskipun berbeda bentuk penjajahannya. Apabila Palestina mengalami penjajahan secara fisik, maka belahan negeri-negeri kaum Muslimin lainnya terjajah secara pemikiran.
Negeri Syam yang meliputi Palestina, Suriah, Libanon dan Yordania ini dikenal sebagai bumi para nabi. Tempat berkumpulnya orang-orang mulia dan ahli ilmu. Tempat berkumpulnya manusia di bumi. Namun apa yang terjadi hari ini, khususnya di Palestina?
Persoalan Palestina bukanlah masalah lokal semata. Bukan urusan tanah ataupun urusan orang Arab. Di sana terletak kiblat pertama umat Islam. Dari tahun ke tahun, hingga nyaris 1 abad kita hanya bisa menyaksikan genosida yang terjadi. Persekongkolan antara Zionis Yahudi Israel dan pendukungnya nyata-nyata menaikkan kegeraman dunia Islam hingga skala puncak.
Kaum Muslimin tidak berkutik selain hanya bisa mendoakan kemerdekaan bagi Palestina. Berdonasi sosial dan perang di Medsos membela Palestina. Namun, apa yang dilakukan oleh para pemimpin negeri-negeri Muslim? Ibarat harimau yang tidak memiliki taring.
Seorang Syaikh memberikan gambaran kondisi kaum Muslimin dalam menyikapi persoalan Palestina. Sebagaimana kisah 3 orang pemuda yang saling mengklaim diri paling bermaksiat.
Pemuda pertama merasa orang yang paling bermaksiat adalah dirinya. Dua pemuda lainnya tidak percaya sebelum dia membuktikannya. Akhirnya pemuda pertama membuktikannya dengan memukul seorang nenek yang dia temui dan menginjak-injak kakinya hingga berkucuranlah darah dan Sang Nenek jatuh pingsan.
Kemudian pemuda kedua mengatakan bahwa itu belumlah seberapa, masih jauh lebih bermaksiat dirinya. Kemudian pemuda kedua itu menunjukkan aksinya setelah nenek tadi tersadar. Pemuda kedua kembali memukuli nenek tersebut dengan lebih sadis, hingga Sang Nenek kembali tak sadarkan diri.
Pemuda ketiga masih mengklaim bahwa dirinyalah yang paling bermaksiat. Apa buktinya? Pemuda ketiga mengatakan, ketika nenek itu dipukuli hingga babak belur dan pingsan, pemuda ketiga tidak menolongnya. Dia hanya menyaksikan saja, membiarkan kezhaliman terjadi di hadapannya. Kepada kedua temannya itu, pemuda ketiga berkata, "Nenek tersebut adalah ibu kandung saya."
Demikianlah. Keji adalah suatu kata yang tepat tertuju pada kisah ini. Beginilah kondisi Palestina dan respon para pemimpin Muslim hari ini.
Rasulullah SAW telah memberikan wejangan kepada kaum Muslimin berkenaan bagaimana karakteristik orang-orang Yahudi yang memusuhi Islam. Sejak zaman nabi diutus, Yahudi terkenal dengan sifat suka membantah, pandai berdusta, tidak mau tunduk pada kebenaran, congkak dan tidak sabar. Dan karakter itu terpelihara hingga hari ini.
Untuk kondisi Palestina akhir-akhir ini, Israel mengarahkan warga Palestina agar pindah ke Rafah. Menyatakan bahwa di sana aman. Namun selang beberapa hari pengungsian, Israel mengirimkan senjata-senjata pembunuhnya untuk membumihanguskan warga Palestina di Rafah.
Sungguh kaum Muslimin harus memegang erat-erat firman Allah SWT. Dalam QS. Al-baqarah : 120 ditegaskan:
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: 'Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)'. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.”
Hal ini juga yang seharusnya dipedomani oleh pemimpin negeri-negeri Muslim di seluruh dunia. Tugas menyelamatkan saudara mereka di Palestina bukan sekedar diplomasi, melainkan dengan militernya. Karena bangsa Zionis Yahudi tidak bisa dihadapi dengan cara selain perang. Wallahu A'lam bish-Showab.[]

Komentar
Posting Komentar