Pariwisata Semakin Menyala, Siapakah yang Bahagia?



Pariwisata Semakin Menyala, Siapakah yang Bahagia? 

Oleh : Sitti Kamariah

( Pemerhati Masalah Sosial) 


Pariwisata saat ini semakin populer sebagai hiburan untuk melepaskan penat. Data menunjukkan telah terjadi peningkatan jumlah kunjungan wisatawan 30-40% terutama ke destinasi-destinasi populer yang ada di Kalimantan Timur. Menanggapi fenomena ini, Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur menggelar acara “Bincang-bincang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif” dengan tema “Destinasi Berkualitas” di Cafe 77, Jalan Pipit Kota Samarinda, Jum’at (3/5/2024).


Kepala Dinas Pariwisata Kaltim Ririn Sari Dewi memaparkan tentang aspek penting yang dibahas adalah pengembangan infrastruktur pariwisata ramah lingkungan dan berkelanjutan. Hal ini mencakup pembangunan sarana-prasarana dengan memperhatikan kebutuhan lingkungan serta kesejahteraan masyarakat setempat.


Memang harus diakui pemerintah-pemerintah daerah di wilayah Kalimantan Timur cukup gencar mempromosikan pariwisata daerahnya masing-masing. Hal ini disebabkan sektor pariwisata diyakini memiliki potensi yang tinggi dalam upaya meningkatkan pendapatan daerah serta peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dalam kerangka ekonomi nasional, sektor ekonomi kreatif dan pariwisata termasuk sektor andalan Indonesia dalam hal penerimaan devisa Negara. 


Di tingkat nasional, pendapatan Negara melalui sektor pariwisata juga terus meningkat. Berdasarkan data dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) hingga September 2023, kunjungan wisman mencapai 8,51 juta atau meningkat 143,41% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2022. Peningkatan kunjungan wisman berbanding lurus dengan devisa pariwisata yang dihasilkan yaitu 10,46 Miliar USD (naik 146,69% yoy). Kondisi pasar domestik juga membaik dimana perjalanan wisatawan nusantara mencapai 626,09 juta atau naik sebesar 12,81% year-on-year. 


Gencarnya pemerintah baik pusat maupun daerah dalam mengembangkan pariwisata tidak lepas dari pengaruh ideologi kapitalisme sekuler. Ruh kapitalisme akan mendorong manusia untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Akhirnya, maka tidak cukup hanya dengan mengeksploitasi SDAE, pariwisata pun juga digenjot sebagai sapi perah pendapatan ekonomi dengan dalih untuk menyejahterakan rakyat. Namun pada realitanya tetap para oligarki dan pemegang modal besarlah yang lebih diuntungkan, karena dalam sistem kapitalisme saat ini sudah pasti objek wisata tersebut akan dikelola oleh oligarki swasta dan asing seperti pada umumnya yang kita ketahui. 


Contohnya SDAE yang melimpah di Kalimantan Timur dikuasai korporasi swasta dan asing. Pada awalnya diharapkan hasil SDAE yang dikeruk akan memajukan ekonomi rakyat disekitar. Tapi faktanya hingga saat ini rakyat tidak kunjung sejahtera, bahkan menderita akibat lingkungan yang rusak.


Pun demikian dengan pariwisata daerah, alih-alih menyejahterakan rakyat di sekitar objek wisata. Dampak buruk sektor pariwisata justru mengintai kehidupan rakyat, yaitu masuknya invasi budaya, gaya hidup dan pemikirarn liberal para wisatawan yang berkunjung ke daerah wisata terutama turis asing.


Terlebih tidak ada aturan syariat bagi para wisatawan sehingga banyak terjadi pelanggaran-pelanggaran syariat di tempat wisata seperti umbar aurat, khalwat, miras, narkoba, dan prostitusi. Di sisi lain demi memikat wisatawan, tak jarang daerah objek wisata menyuguhkan hal-hal berbau syirik dengan anggapan menjaga kearifan budaya lokal. Anggapan seperti ini sangat berbahaya karena dapat mendatangkan murka Allah. Na'udzubillah.


Islam memandang pariwisata bukan sebagai sumber pendapatan ekonomi negara. Dalam Islam sumber pendapatan negara diantaranya dari hasil pengelolaan harta kekayaan umum seperti hasil hutan, berbagai macam tambang, minyak dan gas, dan sebagainya. Juga dari sumber-sumber lain seperti kharaj, jizyah, ghanîmah, fa’i, ‘usyur juga dharibah. Bahkan hanya dari sumber daya alam yang melimpah, apabila dikelola dengan benar sesuai dengan syariat Allah, maka sudah cukup besar untuk memenuhi kebutuhan dan menyejahterakan rakyat tanpa perlu bergantung dari sektor pariwisata.


Dalam kacamata Islam, pariwisata hanya difokuskan sebagai sarana dakwah. Karena manusia biasanya akan tunduk dan takjub ketika menyaksikan keindahan alam dan peninggalan sejarah dari peradaban Islam. Objek yang dijadikan tempat wisata bisa berupa potensi keindahan alam yang merupakan anugerah dari Allah. Seperti pantai, gunung, air terjun dan sebagainya. Karena saat melihat keindahan alam maka kita akan tersadar Kemahabesaran Allah.


Objek wisata bisa juga berupa peninggalan sejarah dari peradaban Islam. Objek ini sebagai sarana menanamkan pemahaman Islam kepada wisatawan yang mengunjungi tempat tersebut. Mereka akan melihat kehebatan Islam dan umatnya yang menghasilkan produk dan penemuan luar biasa. Bagi wisatawan muslim, objek wisata seperti peninggalan sejarah peradaban Islam akan lebih mengokohkan keyakinannya. Sedangkan bagi wisatawan non muslim bisa menjadi sarana untuk menunjukkan keagungan Islam dan peradabannya, sehingga mereka bisa menerima Islam.


Islam menegakkan kemakrufan dan mencegah kemungkaran. Penerapan syariat secara menyeluruh dalam aspek kehidupan, termasuk dalam pariwisata akan menutup pintu-pintu kemaksiatan. Penerapan syariat Islam secara menyeluruh akan mendatangkan rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh alam. Syariat Islam akan selalu cocok diterapkan kepada siapapun, kapanpun dan dimanapun karena yang memberikannya adalah Sang Pencipta alam semesta ini yaitu Allah Subhanahu wa ta'ala. 


Wallahu a'lam bishshowab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gencatan Senjata Palsu: Ketika Perdamaian Dijadikan Alat Penjajahan

Ilusi Keadilan dalam Sistem Hukum Sekuler, Islam Menjamin Keadilan

Generasi Sadis, Buah Penerapan Sekularisme