Sulitnya Mewujudkan Keluarga Penyejuk Hati dalam Pusaran Sekuler-Kapitalisme


Oleh Haura (Pegiat Literasi)


Kasus Pembunuhan istri oleh suami kian Marak.

Sejumlah kasus suami yang dengan sadis membunuh istrinya terjadi beberapa hari terakhir, bukan sekedar di perkotaan tetapi menjalar hingga ke pelosok desa. Sebut saja seperti kasus yang terjadi di Karimun, Minahasa dan pekan lalu, jagad maya dihebohkan dengan kabar suami memutilasi istri di Desa Cisontrol, Kecamatan Rancah Kabupaten Ciamis. Sadis nya, jasad sang istri bukan hanya dibunuh namun dicincang dan dijajakan kepada tetangga agar dibelinya. Astagfirullah. Kejadian tersebut membuat tetangga berlari ketakutan. 

Suami mengalami depresi berat dan mencoba bunuh diri beberapa hari sebelum pembunuhan terjadi, bahkan sempat menitipkan anak kepada tetangga untuk dididik karena hendak merantau ke Kalimantan. Berdasarkan keterangan saksi-saksi dan olah TKP, kepolisian Ciamis mengungkap motif pelaku membunuh dan memutilasi istri disebabkan karena faktor ekonomi keluarga. Menurut Akmal Kapolres Ciamis, masalah ekonomi membuat Tarsum (pelaku) tertekan dan terbebani. detik.com


Berdasarkan hasil pemantauan Komnas Perempuan di pemberitaan media setidaknya tercatat 307 pembunuhan istri di tangan suami sendiri sepanjang Juni 2021 hingga Juni 2022. Kemudian berdasarkan 100 putusan pengadilan pada 2015-2022, 83 persen di antaranya berakhir dengan istri meninggal di tangan suami. 

Dalam hasil laporan, Komnas Perempuan mencatat dari total 84 kasus banyak diantaranya karena cemburu, ketersinggungan, korban ingin berpisah, kesal dengan korban, ekonomi dan motif lainnya. Komnasperempuan.go.id


Cara Berpikir Rusak


Suka duka dalam kehidupan rumah tangga pasti ada, Berbagai tekanan dan permasalahan dalam bahtera rumah tangga seperti persoalan ekonomi keuangan, anak, pasangan dan sebagainya tidak bisa dipungkiri. Namun kehidupan damai, tenang dan bertabur kasih sayang harus tetap ada. Sebab, bukankah syariat menikah dilakukan untuk mewujudkan rumah tangga yang Sakinah Mawaddah wa Rahmah.

Tindakan sadis tersebut, jelaslah bukan perilaku beradab. Perilaku sangat bergantung pada cara berpikir seseorang. Kerusakan cara berpikir, menyebabkan rusak pula perilaku dan tindakan yang diperbuat. Kesulitan hidup menyebabkan tekanan luar biasa pada keluarga, kesibukan dan upaya sekuat tenaga untuk mendapatkan hidup yang lebih baik tidak jarang membuat individu mudah tersinggung dan tersulut emosi. Kesabaran dan jiwa-jiwa qonaah, Allah sang pemberi rezeki pun hilang sehingga memicu tingkat stres makin meningkat.   

Makin banyaknya kasus pembunuhan istri oleh suami menunjukan cara berpikir masyarakat sedang tidak baik-baik saja alias rusak. Kerusakan berpikir masyarakat tersebut sangat dipengaruhi oleh sekuler kapitalis yaitu memisahkan kehidupan dengan agama, materi dunia sebagai tujuan hidupnya. 

Berbagai penerapan kebijakan sekuler kapitalis dalam segala bidang, seperti ekonomi, kesehatan, pendidikan, sosial berhasil melemahkan iman, menjauhkan masyarakat memiliki ketersambungan dirinya dengan Tuhannya sang pencipta Allah SWT, sehingga jiwa-jiwa menjadi kering kerontang, ruh nya tak tersiram dengan pemahaman ayat-ayat Qur'an dan pemikirannya tidak jernih lagi dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang terjadi. Selain itu, Penerapan kebijakan sekuler kapitalis telah berhasil membentuk masyarakat dalam kesempitan ekonomi sehingga menyebabkan kehidupan rumah tangganya bermasalah karena tak tercukupi kebutuhan hidup sehari-hari.   


Sulitnya Mewujudkan Keluarga Penyejuk Hati (Qurata ayun)


Alhasil, cara berpikir dan cara pandang masyarakat yang rusak menyebabkan kehidupan rumah tangga sulit mewujudkan keluarga yang menyejukkan hati (qurata a’yun), baik sejuk dalam ucapan maupun tindakan, yang ada malah keluarga yang saling kesal, menyebalkan, saling membenci dan abai satu sama lain. Yang dulu dicinta malah dianiaya. Yang dulu dipuja malah dicerca. Ucapan dan tindakannya sedikit pun tak menyejukkan hati.

Cengkraman kehidupan Sekuler Kapitalis telah turut andil membentuk jiwa-jiwa tidak menyejukkan hati, masyarakat menjadi jauh terhadap keberadaan Allah SWT dan kesempurnaan aturannya, gagap dalam memahami hakikat pernikahan, gelap dalam memaknai tujuan hidup dan berumah tangga. Berbagai penerapan kebijakan sekuler kapitalis telah banyak melahirkan keluarga bak kerasukan setan, saling membenci, tidak berperi kemanusiaan, tidak beradab dan dendam yang berkepanjangan.

Cengkraman kehidupan Sekuler Kapitalis, membawa masyarakat kosong terhadap ilmu dan pemahaman agama, membuka ruang bagi setan lebih mudah menggoda kehidupan rumah tangga manusia. Sebagaimana sabda Rasul, dari Jabir radhiyallaahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ إِبْلِيْسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَيَقُوْلُ مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ ثُمَّ يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ قَالَ فَيُدْنِيْهِ مِنْهُ وَيَقُوْلُ نِعْمَ أَنْتَ“

Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasana nya di atas air (laut) kemudian ia mengutus bala tentaranya. Maka yang paling dekat dengannya adalah yang paling besar fitnah nya. Datanglah salah seorang dari bala tentaranya dan berkata, “Aku telah melakukan begini dan begitu”. Iblis berkata, “Engkau sama sekali tidak melakukan sesuatu pun”. Kemudian datang yang lain lagi dan berkata, “Aku tidak meninggalkannya (untuk digoda) hingga aku berhasil memisahkan antara dia dan istrinya. Maka Iblis pun mendekatinya dan berkata, “Sungguh hebat (setan) seperti engkau” (HR Muslim IV/2167 no 2813) 


Sistem Islam Mampu Mewujudkan Keluarga Penyejuk Hati


Mewujudkan keluarga yang menyejukkan hati (qurata a’yun) adalah dambaan bagi yang telah berumah tangga. Qurata a’yun adalah pilar utama dalam berumah tangga. Mendapatkan keluarga qurata a’yun bukan sekedar kewajiban tetapi merupakan kebutuhan. Sebab kualitas kehidupan kita sangat ditentukan oleh kualitas pasangan (suami atau istri) dan anak-anak. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran Surat Al- Furqan ayat 74

وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Artinya: Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

Dalam Islam, mewujudkan keluarga qurata a’yun bukan sekedar kebutuhan setiap individu melainkan kebutuhan negara juga. Terhadap kehidupan keluarga, Islam memiliki visi ke depan yaitu kehidupan akhirat dan surga sebagaimana firman Allah dalam surat Ar Radu ayat 23

جَنَّٰتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَن صَلَحَ مِنْ ءَابَآئِهِمْ وَأَزْوَٰجِهِمْ وَذُرِّيَّٰتِهِمْ ۖ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِم مِّن كُلِّ بَابٍ  

Artinya: (yaitu) surga 'Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isteri nya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu.

Dalam mewujudkan keluarga qurata a’yun, Islam sangat memperhatikan keluarga. Islam menetapkan suami sebagai pemimpin dan memiliki kewajiban mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Para wanita sebagai ibu dan pengatur rumah. Para wanita dan anak-anak dititipkan pada pundak suaminya untuk dilindungi dan dididik dengan benar dan baik. Oleh karenanya, para suami haruslah menjadi panutan, contoh bagi segenap anggota keluarganya. Untuk kemudahan memenuhi kebutuhan hidup, negara menjamin kemudahan lapangan kerja bagi para lelaki dan sistem perlindungan yang berjenjang bagi para wanita ketika suaminya telah tiada.

Secara institusi Islam memiliki kewajiban untuk mengedukasi masyarakat dengan pendidikan berbasis aqidah Islam. Secara sosial sistem Islam mampu membentuk jiwa-jiwa qurata  a’yun pada masyarakat sehingga memiliki kecerdasan dalam beramal, cerdas secara emosional dan cerdas secara spiritual. Asupan pendidikan berbasis Islam sangat penting untuk membentuk kepribadian dengan pola sikap dan pola pikir Islam, sehingga negara menjamin setiap rakyatnya mendapatkan pendidikan yang layak, murah atau bahkan gratis.

Selain itu, Islam mewajibkan Negara memberi jaminan keamanan secara fisik dan psikis. Perlindungan keamanan menjadi prioritas negara agar kehidupan damai sentosa, tidak ada perselisihan dan pertengkaran. Jika pun ada negara segera mengatasi dengan cepat. Negara Islam memiliki sanksi yang tegas terhadap siapa pun yang terbukti telah melakukan penganiayaan, pembunuhan atau tindakan-tindakan kriminal lainnya. Penerapan hukum dalam Islam untuk membuat efek jera bagi para pelaku dan menjadi pelajaran bagi setiap orang yang menyaksikan kejahatan tersebut untuk tidak melakukan hal serupa. Kasus pembunuhan dihukum qishas sebagaimana disampaikan dalam al-baqarah ayat 178 kecuali jika pelaku dimaafkan saudara-saudara korban maka dibebankan membayar diat.

Tampak jelas, agar masyarakatnya tetap menjadi qurata a’yun, dalam ucapan dan tindakan, Islam memiliki aturan hingga tataran sistem. Untuk itu, menyelesaikan persoalan kehidupan keluarga haruslah dikembalikan pada Sistem Islam. Wallaahu a'lam bish-shawwab

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gencatan Senjata Palsu: Ketika Perdamaian Dijadikan Alat Penjajahan

Ilusi Keadilan dalam Sistem Hukum Sekuler, Islam Menjamin Keadilan

Generasi Sadis, Buah Penerapan Sekularisme