Marak Anak Durhaka, Generasi Sadis Produk Sekularisme

 


Oleh: Mial, A.Md.T (Aktivis Dakwah)

Generasi sadis dalam legenda Malin Kundang tidak hanya anak durhaka saja, tetapi telah sampai pada taraf membunuh orang tuanya sendiri. Namun, para pelaku kriminal saat ini justru tidak ubahnya "Malin Kundang" versi modern yang justru jauh lebih sadis. Astagfirullah! 

Kali ini perihal maraknya fenomena anak membunuh orang tua kandungnya. Bahwa viral di media sosial seorang pedagang ditemukan tewas di sebuah toko perabot kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur. 

Menurut hasil penyelidikan polisi, pelaku adalah dua anak kandung perempuan korban, yang masing-masing masih berusia 16 dan 17 tahun. Mereka menusuk ayahnya sendiri menggunakan sebilah pisau. Modusnya sakit hati kepada korban karena pelaku dimarahi oleh korban usai kedapatan mencuri uang korban. (Liputan6, 23/06/2024)

Kasus serupa terjadi beberapa hari sebelumnya, memberitakan, SPA (19), warga Kabupaten Pesisir Barat, Lampung, melakukan penganiayaan terhadap ayah kandungnya yang menderita strok. Korban dianiaya hingga terkapar dengan kondisi penuh darah dan tidak sadarkan diri. Pelaku melakukan aksinya karena tersulut emosi saat diminta korban untuk mengantarnya ke toilet. Setelah sempat dirawat inap, keesokan harinya korban mengembuskan napas terakhirnya. (Liputan6, 21/06/2024)

Mencermati fenomena di atas, sungguh miris karena para pelaku masih berusia remaja. Tindakan mereka yang sampai menghilangkan nyawa manusia jelas tindakan kejahatan, apalagi dilakukan kepada orang tua kandungnya. Tentu tidak berlebihan jika kita menyebut mereka anak durhaka. Dalam legenda Malin Kundang si anak durhaka saja, ia tidak sampai membunuh orang tuanya. 

Perilaku membunuh orang tua sungguh jauh dari tuntunan syariat Islam dan sejatinya bersumber dari sekularisme. Fenomena anak durhaka ini hanyalah sedikit bukti betapa kentalnya sekularisme dalam kehidupan ini. Kita tentu tidak habis pikir, sakit hati mereka kepada orang tua terlalu kelewat batas hingga membuat gelap mata, alih-alih terpikir setitik saja untuk birrul walidain.

Sungguh, sekularisme-kapitalisme telah merusak dan merobohkan pandangan masyarakat saat ini tentang keluarga. Generasi rusak sekularisme telah nyata melahirkan manusia-manusia miskin iman yang tidak mampu mengontrol emosinya, bahkan rapuh dan kosong jiwanya. Alam kehidupan sekuler bahkan telah menyamai mereka sejak dini untuk menjadi generasi rusak yang berakibat pada rusaknya hubungan mereka dengan Allah. Lebih parahnya lagi, mereka juga menjadi generasi yang selanjutnya merusak pihak lain.

Pada saat yang sama, kapitalisme menjadikan materi sebagai tujuan hidup, sehingga banyak anak yang abai pada kewajiban birrul walidain. Hal ini diperburuk oleh penerapan sistem pendidikan sekuler yang tidak juga mendidik mereka menjadi orang baik dan saleh sehingga anak-anak tidak mampu memahami birrul walidain dengan benar. Maka tidak heran yang lahir hanyalah generasi rusak dan merusak. 

Lebih dari itu, sekularisme juga, hanya melahirkan anak yang berdasarkan kemanfaatan semata. Akibatnya, ketika anak-anaknya merasa orang tua tidak berguna atau tidak bermanfaat untuk dirinya, bahkan dianggap menghalangi mereka untuk mencapai puncak hawa nafsu, maka menghabisi orang tua tidak ubahnya kepuasan tersendiri bagi mereka. Na’udzubillah tsumma na’udzubillah.


Inilah penerapan sistem hidup kapitalisme terbukti kegagalannya memanusiakan manusia. Fitrah dan akal mereka tidak terpelihara oleh sistem sahih, alih-alih mampu menyuburkan ketaatan dan amal saleh. Sekularisme-kapitalisme justru telah menjauhkan manusia dari tujuan penciptaannya yaitu sebagai hamba Allah dan khalifah pembawa rahmat bagi alam semesta.

Sebaliknya, sistem Islam mendidik generasi menjadi generasi yang memiliki kepribadian Islam serta taat syariat, termasuk berbakti dan hormat pada orang tuanya. Mereka juga memiliki kemampuan yang baik dalam mengendalikan garizah baqa’ (naluri mempertahankan diri) sehingga tidak mudah terjerumus dalam lingkaran emosi dan hawa nafsu.

Kisah Luqman di dalam Al-Qur’an saat menasihati anaknya adalah contoh terbaik. Hal tersebut sejalan dengan sabda Rasulullah saw., “Bukan golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih muda atau tidak menghormati yang lebih tua.” (HR At-Tirmidzi).

Tidak sebatas itu, Islam juga memiliki mekanisme dalam menjauhkan generasi dari kemaksiatan dan tindak kriminal, baik secara individu, keluarga, masyarakat, dan negara, sebagaimana firman Allah Taala dalam ayat, “Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” (QS An-Nisa [4]: 14).

Juga firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At-Tahrim [66]: 6).

Sebagai solusi tuntasnya, Islam mensyariatkan tegaknya negara yang menerapkan aturan Islam kaffah yakni adalah negara khilafah. Sehingga mampu mewujudkan sanksi tegas bagi pelaku tindak kriminal dan pelanggaran aturan Islam, yakni sebagai zawajir (pencegah) dan jawabir (penebus). 

Maknanya, agar orang lain yang bukan pelanggar hukum tercegah untuk melakukan tindak kriminal yang sama dan jika sanksi itu diberlakukan kepada pelanggar hukum, sanksi tersebut dapat menebus dosanya. Ini semua dalam rangka mencegah berbagai bentuk kejahatan termasuk kekerasan anak kepada orang tuanya.

Allah Taala berfirman, “Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepadakulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-ku, kemudian hanya kepadakulah kembalimu, maka kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS Luqman [31]: 14—15).

Juga dalam firman Allah, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS Al-Isra’ [17]: 23—24).

Dan firman Allah “Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang hak (benar).” (QS Al-Isra’ [17]: 33).

 Wallahualam bissawab.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gencatan Senjata Palsu: Ketika Perdamaian Dijadikan Alat Penjajahan

Ilusi Keadilan dalam Sistem Hukum Sekuler, Islam Menjamin Keadilan

Generasi Sadis, Buah Penerapan Sekularisme