Maraknya Aksi Tawuran, Bukti Buramnya Sistem Pendidikan Sekuler
Maraknya Aksi Tawuran, Bukti Buramnya Sistem Pendidikan Sekuler
Oleh : Febriani Safitri, S.T.P (Pemerhati Masalah Sosial)
Aksi tawuran lagi-lagi pecah dijalan Basuki Rahmat (Bassura) Ciinang Besar Utara, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur. Dugaan Sengaja Buat Mencari cuan melalui medsos pun muncul dibalik terjadinya aksi tawuran. Diketahui tawuran tersebut melibatkan warga RW 01 dan RW 02 para pelaku tawuran itu menggunakan berbagai benda seperti, batu, petasan dan senjata tajam. Tawuran kali ini dipicu warga saling ejek. Pada awak tahun lalu, telah dibuat Deklarasi damai buntut terjadinya tawuran serupa. Kata kapolres metro jaktim kombes mengatakan ada sejumlah faktor yang menyebabkan tawuran kembali terjadi. Dia merinci seperti faktor ekonomi, pendidikan, kehidupan sosial dan budaya. Selain itu, pengawasan orang tua yang kurang. (27/6/24,news.detik.com)
Adanya provokasi dari pihak luar menjadi salah satu pemicunya. Selain itu, tawuran juga dijadikan muatan konten media sosial. Kepolisian mengantakan tawuran tersebut ditujukan hanya untuk membuat konten dan menambah followers sehingga mereka bisa mendapatkan imbalan. Tawuran secara live juga terjadi di surabaya, 6 orang remaja anggota gengster yang menamai diri mereka "Pasukan Angin Malam" diringkus polisi, ketika hendak tawuran disekitar Sidotopo Dipo Surabaya, meski belum tawuran para pelaku telah bersiap dengan membawa celurit, gergaji dan parang. (27/6/24, news.detik.com)
Sungguh miris tawuran remaja masih terus terjadi di tengah masyarakat dan tawuran dilakukan dengan cara kekinian demi mendapatkan cuan. Hal ini menunjukkan rusaknya generasi dan kebahagiaan berdasarkan materi telah menghujam kuat dalam diri umat termasuk generasi. Generasi telah kehilangan jatidiri sebagai pemuda muslim yang seharusnya taat kepada Allah dan membawa kebaikan pada masyarakat. Mereka tidak memahami tujuan hidup yang benar didunia ini, sebaliknya mereka terpengaruh pemikiran sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Sehingga berperilaku liberal ataupun melakukan apapun yang mereka inginkan bahkan menghalalkan segala cara untuk mengejar materi semata.
Semakin banyaknya remaja terseret budaya tawuran menggambarkan gagalnya sistem pendidikan hari ini dalam mencetak generasi berkualitas. Karena sistem pendidikan yang diterapkan berdasarkan sekuler sehingga tidak memahamkan remaja akan jati dirinya yang hakiki, pemikiran sekuler-liberal semakin menguat dalam diri mereka.
Pendidikan sekuler buah dari penerapan kehidupan sistem kapitalisme. Sistem ini menjauh peran negara sebagai raa'in atau pengurus umat, salah satunya membentuk kepribadian mulia pada diri generasi. Negara hanya memandang sumber daya manusia sebagai faktor produksi yang akan dibangun untuk memenuhi kepentingan kapital. Sehingga banyak remaja yang pandai namun krisis moral dan negara gagal menghindarkan generasi dari tontonan tidak terdidik serta bertindak yang benar dalam menyalurkan naluri baqa atau emosional dengan cara yang benar.
Hal ini sangat berbeda dalam sistem pendidikan islam yang bertujuan untuk membentuk manusia yang berkarakter, yakni (a) berkepribadian Islam, (b) menguasai tsaqofah Islam dan (c) menguasai ilmu kehidupan (pengetahuan, teknologi dan keterampilan). Dengan keterpaduan tersebut harapannya akan mencetak alumni – alumni yang mempunyai pola pokir dan pola sikap islamiyah serta ahli di berbagai bidang ilmu sebagai konsekunsi keimanan kepada Allah Swt. Dalam Buku strategi pendidikan negara khilafah yang di tulis oleh Abu yasin dan juga mengutip muqaddimah Dustur di pasal 167 bahwasannya tujuan pendidikan adalah membentuk kepribadian islam dan membekalinya sesuai dengan ilmu pengetahuan. yang berhubungan dengan masalah – masalah kehudupan.
Dalam pendidikan Islam sebenarnya menitikberatkan pada visi – misi penciptaan manusia sebagai Abdullah dan Khalifatullah, sebagai hamba yang taat serta memakmurkan bumi dengan ilmu kehidupan. Pendidikan Islam di dukung dengan Sistem kehidupan yang islami, dengan begitu menjadikan umat paham agama, para ibu fokus menjadi madrosatul ula bagi anak-anak mereka, sehingga pendidikan bukan hanya dari sekolah, justru yang utama dari rumah. Nilai yang berkembang di masyarakat pun bukan liberalisme, tetapi ketaqwaan. Setiap orang akan saling beramar makruf jika ada saudarinya yang melanggar syariat, inilah yang menghilangkan potensi adanya kenakalan remaja. Industri hiburan yang berbau maksiat dilarang oleh negara sebab fungsi negara adalah untuk menjaga jawil iman masyarakat. Dengan begitu, kehidupan umat, termasuk di dalamnya para generasi, akan fokus melakukan amal kebaikan bukan justru perbuatan tercela termasuk aksi tawuran. Wallahu'alam

Komentar
Posting Komentar