What!! Wakil Rakyat Terjerat Judol, Kok Bisa?

 Oleh: Aisyah, S.E (Aktivis Dakwah)



Terungkap lebih dari 1.000 orang di lembaga Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), terlibat judi online atau daring (Pikiran Rakyat, 26/6/2024)


Berdasarkan data dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), transaksi dari bisnis ilegal judi online ini mencapai lebih dari Rp 600 triliun dalam kuartal I 2024. Mirisnya, sebanyak 80 persen pemain judi online berasal dari kalangan menengah ke bawah (Liputan6, 1/7/2024)


PPATK juga mengungkapkan, para pemain judi online di balik angka transaksi ratusan triliun itu terdiri dari 2,76 juta orang pengguna. Sebanyak 2,19 juta di antaranya merupakan masyarakat berpenghasilan rendah dengan profil pelajar, mahasiswa, buruh, petani, ibu rumah tangga, dan pegawai swasta. (CNBC Indonesia, 6/5/2024)


Judi online (judol) lebih mudah diakses berbagai kalangan. Judol menjadi pemicu terjadinya berbagai tindak kejahatan. Marak berita pembunuhan, bunuh diri, kejahatan, pencurian, bahkan pinjaman online karena Judol.


Misalnya saja seorang polisi wanita alias polwan, brigadir polisi satu, membakar suaminya yang juga polisi. Pembakaran yang terjadi di Asrama Polisi Polres Mojokerto, Jawa Timur, pada Sabtu, 8 Juni 2024 itu diduga dipicu karena korban menggunakan gajinya untuk judi online. (MetroTempo, 25/06/2024)


Dan masih banyak berita lainnya, sekali klik di internet "kasus kriminal akibat judol". Padahal negeri ini mayoritas penduduk muslim, dalam Islam segala bentuk perjudian adalah haram. Aturan ini berasal dari sang pencipta yang mengatur kehidupan manusia, namun tak di indahkan. Sistem saat ini yang menerapkan sekularisme kapitalis, telah membuat manusia kehilangan kodratnya. Sistem yang memisahkan agama dari kehidupan, aturan bukan lagi dari Allah, tapi buatan manusia yang terbatas dan memihak ke segelintir orang. Ujung yang dicari adalah materi (harta benda), standar nya adalah asas manfaat dan kepentingan. Tak peduli mau halal atau haram, satu hal yang dipedulikan adalah bagaimana meraup keuntungan sebanyak-banyaknya.

Beda hal nya jika sistem rusak ini ditinggalkan, dan mengambil kembali sistem yang berasal dari Islam. Aturan yang sempurna, karena yang membuat nya bukan manusia dengan akan terbatas, tapi sang pencipta yang tahu menahu kehidupan manusia.

Kurang lebih 13 abad lamanya, Islam memimpin dunia. Keberadaban yang maju, SDM yang unggul diberbagai bidang, serta paling penting generasi muslim telah dibekali pendidikan Islami sehingga tercipta generasi berakhlak mulia.

Bagaimana bisa tercipta hal demikian?

Ada hal yang dilihat oleh umat muslim tapi tak terlihat oleh orang lain. Mereka melihat kehidupan dari kacamata takwa. Islam benar-benar mengubah hidup seseorang. Penegakan hukum syara diatas segala-galanya. Apabila aturannya haram, maka haram, tidak ada negosiasi di dalamnya, termasuk judi online yang merusak generasi.

Tertera jelas dalam kitabullah, Allah SWT berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِنَّمَا ٱلْخَمْرُ وَٱلْمَيْسِرُ وَٱلْأَنصَابُ وَٱلْأَزْلَٰمُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ ٱلشَّيْطَٰنِ فَٱجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan".

Penerapan hukum syara' memang harus totalitas dalam seluruh lini kehidupan, sehingga diperlukan negara untuk menerapkan nya. Hukum tegas untuk pelaku judi akan dibebankan, sehingga tak ada yang berani melakukan judi lagi. Negara hadir sebagai periayah (pelayan) rakyat. Sistem pendidikan, sistem ekonomi, sistem kesehatan, sistem pertahanan, hingga sistem politik pemerintahan diatur oleh Islam.

"It is my dream"

Sudah cukup negeri ini cekal dalam lingkaran sekuler kapitalis yang menyengsarakan. Kita hanya butuh aturan yang bersumber dari Allah yang adil dan tak ada kecacatan di dalamnya.


Pemerintah sekarang kawalahan mengatasi Judol, bahkan tak terlalu mempedulikan. Masalahnya adalah dari daun sampai akar sudah rusak. Individu terdidik cerdas tapi tak bermoral, masyarakat berusaha untuk memperingati, namun lagi dan lagi tak terlalu mempan, bahkan negara sampai kebingungan mengatasi nya. Kita pasti merindukan kepemimpinan di bawah naungan kepemimpinan Islam.

Wallahu'alam bissawab

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gencatan Senjata Palsu: Ketika Perdamaian Dijadikan Alat Penjajahan

Ilusi Keadilan dalam Sistem Hukum Sekuler, Islam Menjamin Keadilan

Generasi Sadis, Buah Penerapan Sekularisme