Harga MinyakKita Naik!! Ekonomi Sulit, Harga Minyak Goreng Elit.
Aisyah, S.E (Aktivis Dakwah)
Setelah beberapa waktu lalu, harga minyak goreng melambung drastis, saking tingginya bikin rakyat meringis.
Pasti kalian juga rasakan bahwa MinyakKita jadi incaran kita. Yah lumayan lah lebih murah dikit dibandingkan minyak goreng yang lain. Tapi, kok terdengar berita kenaikan harga MinyakKita naik, loh ini gimana?
Harga Eceran Tertinggi (HET) minyak goreng Minyakita atau harga minyakita naik dari Rp 14.000 menjadi Rp 15.700 per liter. Kenaikan ini diumumkan oleh Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan dalam Surat Edaran Nomor 03 Tahun 2023 tentang Pedoman Penjualan Minyak Goreng Rakyat (Liputan6, 20/7/2024)
Minyak goreng berasal dari kelapa sawit. Fakta nya Indonesia adalah produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Pada 2022, Indonesia memproduksi 45,5 juta metrik ton minyak sawit, yang menyumbang sekitar 59% dari total produksi global.
Logika nya dimana? Kita negara eksportir tapi minyak malah seolah jadi komoditas langka di negeri ini.
Banyak faktor yang menyebabkan naiknya harga minyak goreng, seperti ketidakstabilan pasokan minyak kelapa sawit, fluktuasi harga bahan baku, kebijakan pemerintah, serta dugaan adanya praktik kartel oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab (Pratiwi, Destiananda Suksesa, dkk, 2023).
Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Eliza Mardian mengungkapkan, rencana kenaikan harga eceran tertinggi (HET) MinyaKita disebabkan oleh masalah distribusi. Menurut dia, minyak goreng rakyat itu justru banyak diedarkan oleh swasta, alih-alih BUMN pangan (Tempo, 19/6/2024)
Seperti yang kita ketahui, MinyakKita adalah solusi diberikan pemerintah sebagai upaya mengimbangi kenaikan Minyak Goreng, terlebih untuk rakyat miskin. Tapi, makin kesini MinyakKita tak pernah terlepas dari bisnis belaka. Beginilah jika sistem kapitalis berjalan di negeri ini, setiap hal yang dilakukan harus distandarkan pada untung rugi, bukan pada kesadaran tugas membantu rakyat dengan semaksimal mungkin.
Sekuler-Kapitalis sukses menciptakan satu persatu kerusakan. Aturan Allah yang sempurna tidak lagi dijadikan acuan. Hal ini membuat setiap orang tidak memiliki rasa takut untuk berbuat sesuka hati, walaupun perbuatan nya bertentangan dengan aturan Allah. Alhasil penyelesaian tiap masalah rakyat bukanlah prioritas, bahkan dikesampingkan demi profit.
Kondisi ini sangat berbeda apabila aturan Allah dijadikan rujukan. Hal ini hanya bisa diterapkan dalam daulah Islamiyah yang dipimpin oleh seorang Khilafah yang memiliki tugas sebagai periayah (pengurus urusan umat).
13 abad Islam berjaya menguasai 2/3 belahan dunia. Kondisi apapun akan tetap tenang, karena setiap link kehidupan dijalankan berdasarkan syariat Islam (aturan Allah).
Termasuk permasalahan kelangkaan minyak goreng sebagai salah satu kebutuhan pokok masyarakat. Seorang Khilafah akan fokus menyelesaikan masalah itu.
Akar masalah dari naiknya minyak goreng adalah karena sistem pengaturan negara yang rusak. Negara kita kaya akan bahan dasar minyak goreng yaitu kelapa sawit, tapi tak mampu memenuhi kebutuhan minyak goreng masyarakat.
Penguatan ekonomi dan industri akan menjadi prioritas untuk menjamin kesejahteraan masyarakat.
Sumber daya alam (SDA) akan dikelola penuh oleh negara dan akan dikembalikan kepada rakyat, sehingga pembangunan infrastruktur dan pelayanan publik lainnya bisa diakses murah bahkan gratis.
Uang kertas yang rentan inflasi akan disingkirkan dan digantikan dengan Dinar dan dirham.
Khilafah akan mengembangkan industri agar memudahkan pengelolaan SDA, termasuk kelapa sawit untuk dikelola menjadi minyak goreng. Satu persatu solusi akan diupayakan sehingga kelangkaan barang bisa diminimalisir.
Beginilah apabila Islam diterapkan, setiap orang akan menjalankan tugas dan kewajiban nya berdasarkan ketakwaan kepada Allah, mereka hanya mengharapkan Ridha Allah. Hal ini lah yang tidak bisa dilihat oleh orang-orang yang dibutakan sistem sekuler kapitalis.
Memperjuangkan penegakan syariat Islam secara menyeluruh dalam kehidupan adalah suatu kewajiban. Apakah kita tak merindukan kondisi di bawah naungan daulah Islamiyah?
Wallahu'alam bissawab

Komentar
Posting Komentar