Sekolah Ramah Anak, Solusi?
Sekolah Ramah Anak, Solusi?
Selvilia Normadi S.Pd (Pemerhati Generasi)
Adanya Sekolah Ramah Anak menunjukkan fakta bahwa saat ini ditemukan sekolah tak ramah untuk anak. Maka beberapa pemerhati pendidikan mencari solusi, salah satunya Sekolah Ramah Anak, seperti Pemkab Kukar yang terus memberikan perhatian lebih kepada anak-anak di daerah. Bahkan, pemerintah berkomitmen untuk memberikan rasa nyaman dan aman bagi anak-anak.
Upaya tersebut dilakukan dengan menetapkan standarisasi sekolah yang ramah terhadap anak, khususnya bagi satuan pendidikan Sekolah Dasar (SD). Keberadaan sekolah yang ramah lingkungan ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan pendidikan aman dan nyaman. Hal ini tentunya harus dilakukan dalam rangka untuk memenuhi hak para anak-anak. Selain itu, upaya ini juga dapat mendukung tumbuh kembangnya anak dengan lebih optimal. (Selasar.co)
Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kutai Kartanegara (Kukar) menyebut, hingga kini tercatat sudah ada 40 Sekolah Dasar (SD) di Kukar yang berstandar ramah anak. Keberadaan sekolah-sekolah ramah anak ini untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. (Kaltim eventnusantara.com)
Yang menjadi pertanyaan, Mengapa hanya beberapa sekolah saja dan tidak semua sekolah diterapkan sekolah ramah anak?. Bukannya setiap anak berhak mendapat hal yang sama, seperti yang telah dirancang terkait standar Sekolah Ramah Anak sebelumnya.
Standar sekolah ramah anak Tiap sekolah hendaknya menciptakan Sekolah Ramah Anak (SRA) sesuai standar yang telah ditetapkan. Berikut beberapa standarnya:
1. Tiap anak bisa mendapat haknya tanpa perlakukan diskriminasi
2. Tiap anak bebas mengeluarkan pendapat, ide, gagasan, dan penemuan di berbagai bidang
3. Metode pembelajarannya harus dibuat senyaman dan sebaik mungkin demi mendukung karakter siswa
4. Lingkungan sekolah yang bersih, aman, dan nyaman
5. Adanya transparasi, akuntabilitas, keterbukaan informasi serta penegakan hukum yang jelas
6. Adanya kerja sama antara tenaga kependidikan dengan murid dan orang tua
7. Sekolah harus bisa membuat program kerja yang sifatnya mendukung pengembangan karakter siswa ke arah yang lebih baik
8. Hendaknya pengambilan keputusan dan tindakan oleh tenaga kependidikan dilakukan dengan mempertimbangkan siswa, dan menjamin agar hak siswa tetap dilindungi. (Kompas.com)
Melihat standar Sekolah Ramah Anak yang telah ditetapkan, sudah seharusnya setiap sekolah di semua tingkatan harus memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak-anak. Sayangnya kehidupan kapitalisme sekuler saat ini, yaitu kehidupan yang menjauhkan agama dari kehidupan membuat anak terancam, baik di mana, kapan dan siapa saja. Tak heran nilai agama menjadi terpinggirkan sehingga jauh dari kasih sayang.
Dalam Islam dibutuhkan support sistem untuk melindungi hak-hak anak baik dari peran orang tua, masyarakat, negara, dan sektor pendidikan. Negara berperan penting dalam membentuk aqidah lewat kebijakan sektor pendidikan. Sehingga akan terbentuk sosok dengan ketaatan untuk menghindari kezaliman. Termasuk membentuk para orang tua yang siap bertanggung jawab terhadap pendidikan anak. Saat ditengah-tengah masyarakat beramar Maruf nahi Munkar (saling mengingatkan) dengan kasih sayang. Tentu dengan hal ini anak dan semua masyarakat aman di mana saja, dipenuhi hak dan kewajiban oleh negara Islam.
Komentar
Posting Komentar