SAMPAI KAPAN DUNIA ABAI PADA GAZA?
Oleh : Nur Kamsiah (Aktivis Mulismah)
Sudah 10 bulan Gaza mencekam, sejak tragedi 07 Oktober lalu Gaza tak pernah reda dari gempuran Israel. telah banyak yang rusak rumah, fasilitas kesehatan, sekolah, masjid dan lain lain telah diporak poranda, sekarang hanya menyisikan 9.5% wilayah yang disebut dengan zona aman bagi para pengungsi.
Awalnya zona aman tersebut seluas 230 kilometer persegi atau sekitar 63%, namun seiring dengan serangan Israel yang terus berlanjut hingga menyisakan 9,5%.
Menurut Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia Barat (ESCWA) pada Rabu mengatakan bahwa 360.000 bangunan di Jalur Gaza sebagian rusak atau hancur selama agresi Israel di Jalur Gaza.
Sementara menurut laporan PBB-Bank dunia kerusakan infrastruktur di Gaza mengalami kerugian sebesar $18,5 milliar. ( Ala jazeera)
Adapun korban yang meninggal dari agresi tersebut per tanggal 22 Agustus 2024 menurut otoritas kesehatan yang berbasis di Gaza sudah mencapai 40.265 orang dan luka luka mencapai 93.300 orang. (antara).
Dan 1,2 juta warga palestina telah mengungsi ada yang sudah mengungsi dari satu tempat ke tempat yang lain demi mencari ruang yang aman (komnasperempuan.com).
Sementara tempat pengungsian jauh dari kata layak, minim air bersih karena sanitasi air bersih telah dihancurkan oleh tentara Israel, belum lagi sejak perbatasan dikuasai dan dikontrol oleh Israel, krisis makanan dan obat obatan pun tidak bisa dihindari.
Menurut kementrian kesehatan Gaza, Sekitar 60 persen obat-obatan esensial dan 83 persen pasokan medis di Gaza yang terkepung telah habis akibat perang yang terus berkecamuk serta kontrol dan penutupan perbatasan oleh Israel (Antara).
Adapun terkait makanan, seperti kita tau konflik di Gaza sudah berlangsung sekian lama, sejak pendudukan Israel atas tanah Palestina dan tentu kita tau bagaimana sejarah mencatat peristiwa nakbah 1948 Pasukan militer Zionis mengusir sedikitnya 750.000 warga Palestina dari rumah dan tanah mereka serta merebut 78 persen wilayah Palestina yang bersejarah. Sisanya, 22 persen, dibagi menjadi wilayah yang sekarang menjadi wilayah Tepi Barat yang diduduki dan Jalur Gaza yang dikepung.
Maka sejak saat itu setiap terjadi konflik, warga Gaza selalu jadi korban termasuk korban kelaparan.
Puncaknya dimulai ketika agresi militer oleh Israel atas Gaza bulan Oktober kemarin, kekurangan makanan semua ini akibat dari sulitnya pendistribusian makanan bagi Gaza.
Komisaris Jenderal UNRWA, Philippe Lazzarini, mengatakan bahwa pengiriman bantuan menjadi “semakin rumit” dan jumlah penyeberangan ke Gaza pun masih jauh dari yang dibutuhkan.
"Kami perlu pengiriman bantuan yang berkelanjutan, bermakna, dan tidak terputus di Jalur Gaza jika kita ingin membalikkan situasi kelaparan di sana,” jelas Lazzarini kepada wartawan di markas PBB Jenewa, Selasa (25/6). VOA.com
Meski pengiriman bantuan makanan masih berlanjut namun, menurut laporan terbaru dari lembaga Klasifikasi Ketahanan Pangan Terpadu (IPC), hampir semua orang di Gaza berjuang untuk mendapat makanan yang cukup, dan lebih dari 495.000 orang, atau 1 dari 5 orang di Gaza, diperkirakan akan mengalami tingkat kelaparan tertinggi dalam beberapa bulan mendatang.(VOA).com.
Krisis kemanusiaan yang terjadi di Gaza selama 10 bulan terakhir tak mendapat perhatian serius terutama dari negeri negeri muslim, ataupun dari PBB sebagai organisasi perdamaian dunia meski telah memakan ratusan ribu korban dan jutaan orang mengungsi dalam kondisi yang memprihatikan namun dunia masih tutup mata akan hal ini kecuali segelintir orang orang yang atas nama kemanusiaan turun kejalan jalan memprotes akan genosida ini serta mengumpulkan sumbangan kemanusiaan berupa makanan, obat obatan, dan keperluan lainnya, itupun sulit masuk ke palestina sebab perbatasan dikuasai Israil.
Diamnya negeri negeri kaum muslim atas krisis kemanusiaan di Gaza akibat dari terpecah belahnya kaum muslim di seluruh dunia. Muslim menjadi terkotak kotak dalam bentuk negara.
Padahal Allah SWT telah memperingatkan dalam firmannya "Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk" (QS Ali Imran : 103)
Tapi hari ini Negara yang lain tidak boleh ikut campur dengan keadaan negara lain sekalipun mereka seakidah dengannya.
Paham nasionalisme yang mengakar pada kaum muslim hari ini menjadikan kaum muslim tidak bisa bersatu dan mudah dijajah kaum kafir, serta tidak dapat berbuat banyak jika ada saudaranya di negara lain yang memerlukan bantuannya.
Padahal dalam Islam pemahaman sesama muslim itu bersaudara sangat difahami oleh kaum muslim.
Dalam Alquran surah Al-hujarat ayat 10 Allah berfirman "sesungguhnya orang orang mukmin itu bersaudara....(Al-hujarat : 10).
Dari Nu’man bin Basyir dia berkata: Rasulullah saw. Bersabda, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya).’ (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam Alquran Allah swt berfirman "Dan orang-orang yang kafir, sebagian mereka melindungi sebagian yang lain. Jika kamu tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah (saling melindungi), niscaya akan terjadi kekacauan di bumi dan kerusakan yang besar" (Al Anfal : 73).
Dari Abu Musa dari Rasulullah Saw bersabda, ’’Orang mukmin bagi orang mukmin yang lain seperti sebuah bangunan se-bagiannya memperkokoh (menolong) sebagian yang lain" (Riwayat al-Bukhari).
Selain paham nasionalisme, cinta dunia dan takut mati atau penyakit wahn telah menggerogoti kaum muslim hari ini hingga tak punya nyali untuk bangkit dari keterpurukan dan penjara perpecahan.
Takut akan mati dan cinta dunia ini telah menutup mata dan hati kaum muslim sampai sampai ada yang mampu bergoyang diatas derita saudaranya.
Padahal Allah berfirman :
"Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh balasan di akhirat kecuali neraka. Dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” [Hûd/11: 15-16]
Rasulullah Saw bersabda "Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia mendapat dunia menurut apa yang telah ditetapkan baginya. Dan barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh Azza wa Jalla akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.
Hanya persatuan ummat Islam yang mampu menjadikan ummat kuat, tidak mudah diporak poranda musuh atau difitnah.
Serta hanya dengan persatuan ummat masalah di Gaza dapat diselesaikan dan persatuan ummat hanya bisa dicapai jika ummat bersatu dalam satu kepemimpinan yaitu dipimpin oleh seorang Khalifah yang sekaligus menjadi perisai atau pelindung baginya dari ancaman kaum kafir dan munafik, sekaligus menjaga akidah kaum muslim agar keimanannya kuat kepada Allah, menjadikan dunia dalam genggamannya tapi akhirat dihatinya.
Wallahu a'lam bissawab.
.jpg)
Komentar
Posting Komentar