Menanti Muhammad Al fatih disistem Demokrasi, benarkah hanya ilusi?

Menanti Muhammad Al fatih
disistem Demokrasi, Benarkah Hanya Ilusi?

Oleh: Susi Ummu Musa 



Muhammad Alfatih adalah nama seorang pemuda paling keren dimasanya dan akan terus dikenang bahkan paling sering disebut sebut oleh generasi muda yang sudah hijrah dan mereka ingin seperti Muhammad Alfatih,

Bahkan ada beberapa orang tua yang memberikan nama anak anak mereka dengan nama Muhammad Al fatih.


Sebegitu tangguh dan luar biasanya beliau tentu bukan terjadi begitu saja melainkan ada sosok dibalik kehebatannya, sosok itu adalah ibundanya yang  hebat yang bermental pembebas.


Seorang pemuda yang berhasil menaklukkan Konstantinopel kala itu Pada Jumadilawal 857 H, bertepatan pada 29 Mei 1453, Muhammad al-Fatih berhasil menaklukkan Konstantinopel melewati perbukitan Galata dengan membawa kapal-kapalnya. Bersama ribuan tentara, mereka menarik kapal-kapal melalui darat. Seorang sejarawan Byzantium mengungkapkan kekagumannya terhadap pekerjaan ini. Ia berkata, “Kami tidak pernah melihat dan mendengar sebelumnya sebuah pekerjaan luar biasa seperti ini. Muhammad al-Fatih mengubah daratan menjadi lautan. Ia menyeberangkan kapal-kapalnya di puncak-puncak gunung sebagai pengganti gelombang-gelombang. Dengan pekerjaannya ini, Muhammad II telah mengungguli Iskandar Agung.” (Tarikh Ad-Daulah Al-‘Utsmaniyah, Yilmaz Oztuna, h.135).


Kendati demikian sosok Muhammad al-Fatih kini masih terus menjadi trend bagi generasi muda khususnya agar bermental kuat dan berani untuk memperjuangkan islam agar eksis dimuka bumi sebagaimana yang dilakukan beliau.

Yang menjadi pertanyaan apakah masih ada seorang pemuda yang bermental kuat dan tangguh di abad ini?Ditengah gempuran suasana yang rusak karena tergerus oleh sistem buatan manusia yakni sistem Demokrasi sekulerisme, seperti mencari jarum dalam jerami begitulah umpama zaman ini menantikan satu sosok yang mampu membawa kepada perubahan hakiki.

Bukan ketampanannya yang dielukan bukan juga kepopulerannya yang dipuja melainkan karena keberaniannya dalam dakwah yang mampu menggetarkan para penguasa penguasa serakah dengan tingkat keilmuannya.


Sang Muhammad al-Fatih itu akan terus menjadi motivasi bagi para pemuda dengan penantian dan harapan akan menaklukkan Roma selanjutnya.

Masalahnya apakah harapan itu hanya sebuah ilusi?

Bahkan banyak orang yang mengatakan penerapan islam kaffah atau khilafah hanya sebuah utopis semata.

Dan menanti sosok pemuda atau pemimpin yang akan membawa perubahan juga dianggap serupa, padahal semua itu telah Allah siapkan namun hanya menunggu waktu.


Hal yang sama telah terjadi kala itu sang penakluk Konstantinopel Muhammad al-Fatih mampu melakukannya dan itulah yang akan terjadi disistem sekuler ini masih dan yakin bahwa hal itu juga akan segera tiba.

Dengan modal Dakwah Islam kaffah pemuda pemuda yang telah dibekali dengan tsaqofah islam akan terus berjuang sampai islam ditegakkan dan itulah tantangan bagi para pemuda yang taat akan perintah Allah dan Rasul-Nya.


Wallahu a lam bissawab

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gencatan Senjata Palsu: Ketika Perdamaian Dijadikan Alat Penjajahan

Ilusi Keadilan dalam Sistem Hukum Sekuler, Islam Menjamin Keadilan

Generasi Sadis, Buah Penerapan Sekularisme