Bencana Melanda, agar Kita Segera Bertaubat

 


Oleh : Ummu Mumtazah

Bencana dimana-mana, bukan hanya di Sukabumi saja, tetapi disejumlah daerah dilanda bencana, seperti banjir bandang, tanah longsor, pergerakan tanah, gempa bumi,  angin puting beliung dan masih banyak lagi bencana yang lainnya.

Seorang warga sukabumi, Ineu Damayanti (38) mengabarkan sejumlah wilayah di Kabupaten Sukabumi terdampak bencana akibat hujan deras yang mengguyur sejak Senin, (2/12). Ia juga tidak sadar, hari itu Sungai Cimandiri juga meluap dan sekitar pukul 06.00 WIB, air mulai masuk ke dalam rumah Ineu . Awalnya ketinggiannya hanya selutut, namun lama kelamaan air dari  Sungai Cimandiri yang meluap terus meninggi hingga akhirnya menenggelamkan seluruh ruangan rumahnya. Rabu, (4/12/2024). www.detik.com

Di tempat lain banyak  terjadi kerusakan-kerusakan, seperti puluhan rumah yang rusak, akses jalan terputus, listrik terputus, jembatan yang ambruk, badan jalan yang dipenuhi lumpur dan kerusakan yang lainnya hingga korban meninggal mencapai 10 orang dan 2 orang hilang. Semua itu dampak dari hujan deras yang mengguyur Kabupaten  Sukabumi selama dua hari berturut-turut. Sungai Cimandiri meluap dan merendam puluhan rumah di Kampung Mariuk, RT 01, RW 01, Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi. Hingga Sabtu( 7/12/2024) pukul 17.30 WIB, setidaknya ada 328 titik bencana yang tersebar di 39 kecamatan.

Ujian atau Azab?

Fenomena alam tersebut biasa terjadi, namun ada hal yang perlu kita telaah bersama, apakah  bencana ini sebuah azab atau peringatan, tinggal kita intropeksi terhadap apa yang telah terjadi. Namun realitanya, semua bencana ini disebabkan karena ulah tangan manusia, bukan karena gejala alam saja. Tetapi karena keserakahan manusia yang ingin menguasai sumber daya alam tanpa ingin diatur oleh Sang Pemilik Alam ini. 

Sistem kapitalisme sekularisme telah mengambil semuanya, masyarakat yang tunduk terhadap aturan mereka yang diiming-iming harta dan kekuasaan.  Sistem kapitalisme sekularisme ini, membuat para pejabat/penguasa  dan pengusaha bekerja sama untuk menzhalimi rakyat, mengambil hak-hak rakyat. 

Dalam sistem kapitalisme, banyak kebijakan penguasa yang berpihak pada korporasi bukan pada rakyat sehingga datang berbagai bencana yang tidak bisa ditolak karena sudah merupakan qodho' dari Alloh/ketetapan Alloh SWT. Seperti dengan bergantinya kepemimpinan setiap lima tahun sekali, apakah bisa mengubah keadaan? tentu tidak. Karena sistem yang digunakan masih sistem yang sama yang menjauhkan masyarakat  dari kesejahteraan,  yang ada hanya menimbulkan bencana baik secara fisik maupun non fisik.

Negara telah gagal melindungi masyarakatnya, karena segalanya telah diserahkan  kepada pihak asing untuk mengelolanya. Semua itu akan berlangsung lama jika kehidupan ini masih  bersumber pada aturan buatan  manusia. Individu, masyarakat juga negara butuh aturan  yang bisa menjaga seluruh manusia dari berbagai malapetaka dan kerusakan, supaya keterpurukan tidak terus menerus melanda. Dengan berbagai ujian, peringatan bahkan azab bagi orang-orang yang telah mengenyampingkan agama dengan aturan lain, dibutuhkan kesadaran untuk kembali kepada aturan Sang Pencipta/Al-Khaliq dan Sang Pengatur/Al-Muddabir agar keberkahan dan keselamatan dapat diraih oleh seluruh umat manusia.

Kembali kepada Syariat Islam

Semua fakta bisa terindera  dan dirasakan oleh seluruh manusia yang ada dibumi ini, bencana, kemaksiatan, kezhaliman para penguasa terhadap rakyatnya, kejahatan sampai keterpurukan dalam setiap aspek kehidupan. Ini diakibatkan atas kelalaian manusia dan ulah tangan-tangan manusia, mereka tidak mau diatur dengan aturan Alloh Swt. Mereka lebih memilih aturan lain( kapitalisme-sekularisme ),  yang nyata-nyata rusak dan  membuat kerusakan di bumi. Mereka tidak mau mengamalkan dan menerapkan Syariat Islam. Alloh Swt,. Berfirman :

ظهر الفساد فى البر والبحر بما كسبت ايدي الناس ليذيهم بعض الذي عملوا لعلهم يرجعون

Artinya : " Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan akibat perbuatan tangan ( kemaksiatan ) manusia supaya Alloh menimpakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan ( kemaksiatan ) mereka itu agar mereka kembali ( ke jalan-Nya )." ( QS. Ar-Rum[30]:41 ).

Kerusakan tidak hanya dirasakan oleh manusia tetapi seluruh makhluk yang ada di bumi pun merasakannya. Terlebih kezhaliman yang dilakukan oleh para penguasa terhadap rakyatnya. Sebaliknya, keadilan seorang penguasa seperti ketika  Umar bin Khattab ra sebagai Khalifah, di muka bumi, ketika terjadi gempa, maka dengan keadilan beliau sanggup menjadikan bumi yang sedang berguncang itu "bersahabat" dengan manusia. 

Sangat jelaslah, jika seorang penguasa berhubungan erat dengan apa mereka memimpin maka akan berpengaruh terhadap apa yang dipimpinnya. Begitu pula dengan penerapan syari'at Islam, maka masyarakat akan terpenuhi keadilan dan kesejahteraannya. 

Oleh karena itu, saatnya bertobat dan muhasabah diri terhadap apa yang terjadi dengan berupaya agar syariat Islam segera tegak di muka bumi ini di bawah kepemimpinan Islam. 

Walhasil, dengan penerapan syari'at  dibawah kepemimpinan Islam, maka akan membangun  tanpa merusak sehingga bencana bisa diminimalisir, karena negara ( penguasa ) adalah sebagai raa'in dan Junnah yang akan menjadikan  rakyat hidup sejahtera penuh berkah. 

Wallaahu a'lam bi ash-shawwab







.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gencatan Senjata Palsu: Ketika Perdamaian Dijadikan Alat Penjajahan

Ilusi Keadilan dalam Sistem Hukum Sekuler, Islam Menjamin Keadilan

Generasi Sadis, Buah Penerapan Sekularisme