Gencatan Senjata Hanya Tipu Daya, Palestina Butuh Solusi Nyata



Oleh: Yeni Sri Wahyuni (Pegiat Literasi)


Ratusan warga Jenin di Tepi Barat, Palestina, terpaksa meninggalkan rumah mereka pada Kamis (23/1/2025) setelah menerima pesan peringatan dari drone yang menggunakan pengeras suara, meminta mereka untuk mengungsi. Situasi ini berlangsung di tengah operasi militer besar yang telah memasuki hari ketiga di kota itu. Operasi tersebut melibatkan penghancuran sejumlah rumah di wilayah kamp pengungsi Jenin dengan bantuan sejumlah besar kendaraan militer, helikopter, dan drone. Operasi itu dimulai seminggu setelah gencatan senjata di Gaza, yang merupakan momen pertama pertukaran tawanan antara Israel dan tahanan Palestina sejak gencatan singkat pada November 2023. (Cnbcindonesia.com, 24/01/2025)

Kegembiraan atas gencatan senjata terasa di antara umat Islam. Secara nyata, gencatan senjata memberikan kesempatan bagi umat Muslim Palestina, untuk terbebas dari tindakan kejahatan yang dilakukan oleh Zionis dan negara pendukungnya, Amerika Serikat. Sejarah menunjukkan bahwa kesepakatan semacam ini bukanlah sesuatu yang baru. Gencatan senjata telah sering diumumkan, namun Zionis berkali-kali melanggar perjanjian damai tanpa rasa bersalah, bahkan hanya beberapa jam setelah kesepakatan diumumkan. Zionis sering memanfaatkan perjanjian semacam itu untuk menunda waktu, menyempurnakan strategi, dan meningkatkan kekuatan militer mereka.

Masalah Palestina bukan hanya merupakan urusan bangsa Palestina semata, atau hanya menjadi tanggung jawab negara-negara Arab, tetapi merupakan persoalan seluruh umat Islam. Namun, sayangnya saat ini banyak umat Islam yang masih belum menyadari hal ini, terutama para pemimpin mereka.

Di hadapan publik, mereka meluapkan kemarahan dan mengkritik, mengirimkan bantuan logistik yang terbatas, namun tidak mengirimkan pasukan, malah mendukung solusi dua negara.

Umat harus sadar bahwa gencatan senjata tidak akan menyelesaikan penjajahan dan genosida di Palestina. Kaum Muslim tidak dapat berharap pada kepemimpinan sekuler untuk memenuhi harapan dan keinginan umat dalam membantu saudara seiman mereka di Palestina. Tugas umat Islam adalah untuk terus menyadarkan semua elemen dan individu umat secara pemikiran dan tanpa kekerasan mengenai akar permasalahan krisis Palestina, serta tentang kemuliaan yang diberikan Allah kepada tanah Palestina. Dengan demikian, ini mendorong untuk mengembalikan kejayaan umat Islam.

Umat Islam di Indonesia memanfaatkan bulan Rajab dan peringatan Israk Mikraj sebagai momentum untuk melaksanakan Aksi Bela Palestina di depan Kedutaan Besar AS di Jakarta, pada hari Ahad (26-1-2025), didorong oleh semangat iman. Aksi itu bukan hanya sekedar bentuk solidaritas. Aksi tersebut mengajak umat Islam untuk tidak mengandalkan gencatan senjata di Gaza dan menggambarkan kepada masyarakat mengenai solusi hakiki untuk Palestina.

Terkait dengan pengambilalihan rumah dan tanah milik umat Muslim Palestina oleh entitas Zionis Yahudi, satu-satunya cara untuk mengatasinya adalah dengan merebut kembali tanah tersebut, bukan dengan membaginya kepada Yahudi sesuai dengan konsep solusi dua negara. Selain itu, adanya pembantaian dan genosida terhadap umat muslim Palestina, solusinya adalah melakukan perlawanan melalui aktivitas jihad fi sabilillah untuk menegakkan kalimat Allah serta melindungi darah dan nyawa kaum muslim.

Oleh karena itu, satu-satunya solusi hakiki untuk meraih kemerdekaan Palestina adalah melalui jihad dan berdirinya Daulah Islam yang kuat. Hanya negara Islam yang kuat dan berdaulat yang dapat melindungi umat Islam serta mengakhiri penjajahan di tanah Palestina.

Wallahu a’lam bisshawwab. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gencatan Senjata Palsu: Ketika Perdamaian Dijadikan Alat Penjajahan

Ilusi Keadilan dalam Sistem Hukum Sekuler, Islam Menjamin Keadilan

Generasi Sadis, Buah Penerapan Sekularisme