Gaza dan Ketakutan Barat
Oleh ; Wiwik Afrah, S.Pd ( Aktivis Muslimah)
Koalisi Global menggelar Konferensi mendukung Al Quds dan Palestina . Konferensi yang mengambil tema “Kemenangan Gaza adalah Tanggung Jawab Umat” digelar di Istanbul, Turki, pada Sabtu 26 April 2025. Konferensi ini merupakan bagian dari konferensi tahunan “Pelopor” yang ke-14 yang diikuti oleh puluhan tokoh nasional, media, budaya, sosial, serikat pekerja, intelektual, dan pemuda, serta lembaga aktif dari sekitar 60 negara di seluruh dunia. Hadir pula dalam konferensi ini para tokoh perlawanan, ulama, tahanan yang dibebaskan, dan para pimpinan penggerak rakyat. Acara ini dijadwalkan berlangsung selama dua hari, berisi serangkaian sesi khusus, lokakarya, dan presentasi video.
Semntara itun “Benjamin Netanyahu berjanji untuk melanjutkan perang meskipun ada seruan dari dalam Israel yang makin meningkat untuk kesepakatan yang akan membawa pulang tawanan Israel yang ditahan di Gaza dan mengakhiri perang, yang telah menewaskan lebih dari 52.000 warga Palestina.” Demikian kutipan berita yang dimuat Al Jazeera (4-5-2025).Tekad Netanyahu untuk melanjutkan perang ini dikuatkan oleh Panglima Militer Zion*s bernama Eyal Zamir. Ia menyatakan akan memanggil puluhan ribu tentara cadangannya demi mengintensifkan dan memperluas serangannya di Gaza. Ia pun sesumbar akan menghancurkan seluruh infrastruktur yang disebutnya sebagai milik Ham*s, baik yang ada di atas tanah maupun di bawah tanah. Semuanya itu—ia mengatakan—dilakukan demi memaksa Ham*s untuk membebaskan tawanan sekaligus segera memenangi perang.
Sikap Netanyahu dan militernya yang kian brutal setelah pelanggaran gencatan senjata ini sebetulnya telah memancing kemarahan dari masyarakat global. Terlebih ketika pihak Zion*s memberlakukan blokade total atas Gaza yang membuat kondisi di sana benar-benar sangat mengerikan. Rakyat Gaza dibiarkan kelaparan seraya menjadi target harian pembunuhan massal. Begitu pula kalangan medis, polisi, hingga jurnalis, semuanya menjadi sasaran pembantaian. Sampai-sampai UNRWA menyatakan, situasi di Gaza benar-benar sudah di luar imajinasi alias di luar batas kemanusiaan. Negara-negara Barat yang selama ini mendukung Zion*s pun—terutama AS dan Inggris—tampak tarik ulur dukungan, setidaknya untuk meredam berbagai tekanan internal dan eksternal yang mulai masif bermunculan karena bagaimanapun mereka turut bertanggung jawab membantu menciptakan situasi yang makin parah di kawasan. Hanya saja, gembong Zion*s itu terus meyakinkan bahwa upayanya tersebut bukan hanya demi kepentingan eksistensi negara ilegal Zion*s di Palestina. Beberapa hari lalu ia mengatakan bahwa jika Zion*s kalah dalam perang melawan Ham*s, maka masa depan negara-negara Barat pun akan terancam. Bahkan bukan hanya Ham*s, tetapi serangannya ke Lebanon untuk menumpas Hizbullah dan ke Yaman untuk mengalahkan Houtsi juga dilatari alasan ini. Ia pun menggunakan narasi tentang ancaman kebangkitan Khilafah untuk melegitimasi tindakannya sekaligus menguatkan fobia di tengah negara-negara Barat beserta para penguasa Arab yang gila kekuasaan.Ia mengatakan, “Kami tahu siapa yang kami hadapi. Kami tidak akan membiarkan berdirinya kekhalifahan beberapa kilometer jauhnya di Pesisir Mediterania.” Ia sangat paham bahwa kebangkitan Khilafah adalah mimpi buruk bagi mereka. Alhasil, memberikan dukungan politik atas keputusan jahatnya di Gaza menjadi sebuah kemestian.
Jika ditarik ke belakang mengenai apa yang ia sampaikan tentang Khilafah, sebetulnya sudah menjadi perbincangan global sejak munculnya spirit kebangkitan Islam pascakeruntuhan Uni Soviet yang menjadi simbol kekuatan peradaban sosialisme. Negara-negara Barat yang mengusung ideologi kapitalisme, memang sangat ketakutan jika ideologi yang tersisa di dunia, yakni Islam, akan muncul sebagai kekuatan politik baru yang akan menumbangkan hegemoninya. Oleh sebab itulah, Amerika sampai merancang skenario jahat yang dikenal dengan peristiwa serangan gedung WTC pada 11 September 2001 di Washington DC. Peristiwa ini kemudian menjadi starting point bagi dimulainya proyek global melawan terorisme yang tidak lain merupakan proyek global menghalangi kebangkitan Khilafah Islam. Sejak itulah proyek-proyek teror berbasis kerja intelijen terjadi di mana-mana. Targetnya adalah memonsterisasi dan mengkriminalisasi ajaran Khilafah dan pengembannya agar teralienasi dari umat.
Siapa pun tahu bahwa selama ini Zion*s tidak pernah menang dari siapa pun. Ini karena pada faktanya mereka nyaris tidak pernah berhadapan dengan tentara atau pasukan muslim secara langsung. Oleh karena itu, pernyataan Netanyahu soal Khilafah dan upayanya mengonsolidasi perhatian Barat akan bahayanya, diduga kuat terkait dengan masifnya seruan jihad dan seruan penegakan Khilafah yang disampaikan berbagai kalangan akhir-akhir ini. Ia dan para sekutunya sadar betul bahwa keberadaan pasukan Islam yang dimobilisasi Khilafah dipastikan akan menghancurkan mimpi-mimpi mereka tentang Timur Tengah Baru dan Tata Dunia Baru. Realitas ini semestinya menjadi renungan bagi umat Islam bahwa jihad dan Khilafah adalah solusi realistis bagi problem Gaza Palestina. Bahkan, tegaknya Khilafah Islam bukan hanya akan menjadi solusi bagi masalah Palestina, tapi menjadi solusi bagi seluruh problem yang diproduksi peradaban kapitalisme secara keseluruhan.
Sungguh, Islam telah memerintahkan untuk memerangi siapa saja yang memerangi kaum muslim dan mengusir kaum muslim dari tanah-tanah mereka. Allah Swt. berfirman, “Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian.” (QS Al-Baqarah [2]: 190). Juga firman-Nya, “Bunuhlah mereka di mana saja kalian jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian.” (QS Al-Baqarah [2]: 191). Selama ini, warga Gaza telah memenuhi kewajiban mereka untuk melakukan jihad melawan penjajahan. Namun realitasnya, kekuatan mereka tidak cukup untuk melawan dikarenakan hanya bertumpu pada kekuatan individu atau sekelompok orang dengan sumber daya yang tidak berimbang. Sementara itu, musuh yang dihadapi adalah entitas sebuah negara, yang di-back up oleh kekuatan global, di bawah kepemimpinan AS.
Secara hukum, kewajiban itu akan merembet kepada umat Islam di sekitarnya, bahkan jika tidak cukup juga, bisa berlaku atas umat Islam di dunia. Namun pada saat yang sama, sistem yang ada menghalangi pelaksanaan jihad semesta. Skenario negara-negara Barat pasca keruntuhan Khilafah pada 1924 untuk memecah belah umat Islam berdasarkan batas-batas imajiner bernama “negara” telah berhasil membuat mereka tidak berdaya, termasuk melaksanakan seruan jihad. Saat musuh terus menakuti dunia dengan gagasan Khilafah, umat Islam justru seharusnya turut mengambil peran dalam menguatkan opini tentang kemestian menegakkan Khilafah. Mereka bahkan dituntut oleh syariat untuk bersungguh-sungguh menyegerakan tegaknya Khilafah sebagai bentuk tanggung jawab mereka menolong saudaranya seakidah, umat Islam Palestina, terkhusus Gaza. Sungguh perjuangan penegakan Khilafah adalah perjuangan yang sangat mulia, sebagaimana posisinya sebagai tajul furudh ‘mahkota kewajiban’ dalam keseluruhan ajaran Islam. Terlebih Khilafah yang akan datang adalah Khilafah yang tegak di atas minhaj kenabian. Para pejuangnya disetarakan dengan generasi penegak Khilafah pada masa awal, sedangkan pahalanya dilipatgandakan hingga 50 kali pahala yang diperoleh para sahabat Rasulullah ﷺ
Wallahu ‘alam bisshowab

Komentar
Posting Komentar