Evakuasi Rakyat Gaza Ke Indonesia Memuluskan Agenda Penjajah.


Oleh: Mial,A.Md.T (Aktivis Muslimah)

 “Kami siap mengevakuasi mereka yang luka-luka, mereka yang kena trauma, anak-anak yatim piatu, siapa pun boleh. Pemerintah Palestina dan pihak-pihak terkait di situ, mereka ingin dievakuasi ke Indonesia, kami siap akan kirim pesawat-pesawat untuk angkut mereka. Kita perkirakan mungkin jumlahnya 1.000 untuk gelombang pertama.” 

Demikian pernyataan Presiden Prabowo yang disampaikan pada 9 April 2025 lalu. Pengumuman Presiden ini menarik untuk dicermati karena disampaikan di tengah suasana ketar ketir pemerintah akibat pemberlakuan tarif impor 32% oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk berbagai negara di dunia termasuk Indonesia.

Disinyalir, rencana Prabowo tersebut merupakan upaya appeasement (peredaan) demi membujuk Trump agar mau mengurangi besaran tarif yang diperkirakan akan mengguncang perekonomian dalam negeri. Jika sinyalemen ini benar, tentu sangat disayangkan, karena hal tersebut dikhawatirkan justru akan mendukung ambisi Trump beserta pihak Zion*s yang ingin menguasai Gaza secara penuh dan mengusir warganya dari sana.

Tekanan Terselubung

Presiden Trump memang tampak sangat berambisi untuk mengambil alih Gaza demi memuluskan apa yang ia sebut Proyek Riviera Timur Tengah. Salah satu strateginya adalah memasukkan diktum soal rencana merekonstruksi total Gaza dalam perjanjian gencatan senjata antara Zion*s dan Ham*s yang ia inisiasi pada Januari 2025.

Atas nama rekonstruksi itulah, ia melontarkan narasi soal pentingnya mengosongkan Gaza yang dikenal sebagai The Trump Peace Plan. Ia berdalih wilayah tersebut sudah tidak layak lagi menjadi hunian bagi warganya. Ia bahkan berupaya melobi negara-negara Arab sekutunya, seperti Mesir, Yordania, Turki, dll. agar mau menjadi tempat relokasi warga Gaza. Hanya saja, sejauh ini negara-negara tersebut menolak keinginan Trump dengan berbagai alasan.

Bahkan bukan hanya negara-negara Arab, sejak Januari 2025, berbagai media asing (salah satunya situs Zman Israel) memberitakan, pihak AS dan Zion*s terus melakukan kontak-kontak rahasia dengan berbagai negara Afrika agar mereka mau menerima ribuan imigran dari Gaza. Media-media tersebut juga menyatakan bahwa Indonesia tidak luput dari perhatian Amerika. Negeri muslim terbesar ini bahkan disebut telah masuk dalam daftar negara yang akan menjadi destinasi relokasi warga Gaza.

Media-media tersebut juga melansir bahwa telah terjadi kesepakatan rahasia antara AS dan Zion*s dengan pihak Indonesia soal rencana relokasi warga Gaza. Disebutkan bahwa ada 100 warga Gaza yang siap masuk ke Indonesia untuk bekerja di bidang konstruksi sebagai bagian dari proyek percontohan untuk memuluskan rencana relokasi ribuan warga Gaza pada tahap berikutnya atas nama migrasi sukarela.

The Times of Israel (26-4-2025) melaporkan, jika program percontohan ini berhasil, ribuan warga Gaza akan terdorong untuk secara sukarela pindah ke Indonesia untuk bekerja. Mereka juga disebut-sebut berpotensi memutuskan untuk menetap secara permanen di Indonesia.

Kabar ini memang sempat dibantah pihak Kementerian Luar Negeri Indonesia. Juru bicara Kemenlu Rolliansyah Sumirat dalam siaran pers yang dimuat di akun X (27-5-2025) mengatakan, “Pemerintah Indonesia belum berdiskusi dengan pihak mana pun dan belum menerima informasi mengenai rencana pemindahan warga Gaza ke Indonesia, sebagaimana yang diberitakan sejumlah media asing.”

Namun, terlepas dari benar tidaknya kabar tersebut, Presiden Prabowo dengan jelas menawarkan relokasi yang dinarasikan sebagai evakuasi bagi warga Gaza. Fakta ini setidaknya menunjukkan bahwa meski pemerintah Indonesia selalu menggembar-gemborkan sikap antipenjajahan dan pro terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina, tetapi posisi Indonesia sudah nyaris sejalan dengan apa yang Amerika rencanakan.

Terlebih banyak analisis yang menyebutkan bahwa selain terkait dengan perang dagang dengan Cina, kebijakan tarif impor Amerika ke berbagai negara di dunia adalah salah satu strategi untuk memenangkan lobi terkait kepentingan politik dan ekonominya, termasuk rancangannya di Gaza Palestina. Merespons kebijakan ini, muncul sebuah tren yang mana sejumlah negara menerapkan pendekatan appeasement atau pemuasan terhadap AS dan Donald Trump, guna mengurangi tarif Impor AS di negaranya.

Inggris, misalnya, disebut-sebut mulai membuka penawaran pemotongan pajak terhadap sejumlah miliarder teknologi AS, seperti Mark Zuckerberg dan Elon Musk yang dikenal sangat dekat dengan Donald Trump. Beberapa negara lainnya juga mulai membuka pasar negara mereka untuk dimasuki produk Starlink milik Elon Musk dengan harapan Trump akan melunak dalam soal tarif impornya. Begitu pun dengan Indonesia, tudingan bahwa rencana relokasi warga Gaza ke Indonesia terkait kebijakan tarif impor Amerika, menjadi bisa dimaklumi adanya.

Sikap yang Seharusnya

Sebagai negeri muslim terbesar di dunia, peran politik Indonesia tentu sangat diharapkan dalam menyelesaikan berbagai problem dunia, termasuk krisis Palestina khususnya genosida Gaza. Sayangnya, alih-alih menggunakan potensinya yang luar biasa untuk merebut kepemimpinan global dan memaksa Zion*s hengkang dari bumi Palestina, kebijakan politik luar negeri Indonesia selama ini justru cenderung disetir oleh negara adidaya, khususnya Amerika.

Dalam kasus Gaza-Palestina, misalnya, Indonesia hanya bisa koar-koar akan membela dan turut aktif menyelesaikan konflik di sana. Sebagaimana negeri-negeri muslim lainnya, Indonesia memilih posisi aman dengan hanya mengambil peran dalam pemberian sedikit bantuan logistik, atau basa-basi diplomatik dan pengiriman pasukan keamanan di bawah bendera PBB yang nyatanya sama sekali tidak mampu menyelesaikan akar konflik, yakni bercokolnya entitas Zion*s penjajah di tanah milik umat Islam, Palestina.

Bahkan terkait Gaza, penguasa Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya tidak tergerak sedikit pun untuk mengangkat kesedihan mereka dengan mengumandangkan jihad, juga menerjunkan tentara dan senjata. Mereka hanya diam melihat puluhan ribu warga Gaza dibantai dengan cara yang tidak masuk nalar manusia. Mereka bahkan berkata, solusi masalah Palestina adalah membagi tanah menjadi dua dan memberikan salah satunya kepada pihak penjajah, atau membantu menampung mereka yang tertindas. Namun pada saat yang sama, membiarkan Tanah Gaza direbut paksa oleh entitas Zion*s dan Amerika hingga menjauhkan Palestina dari cita-cita kemerdekaannya.

Lantas apa sebutan yang pantas, jika hal seperti itu tidak boleh disebut persekongkolan? Bagaimana bisa proyek pembantaian manusia—dengan status mereka sebagai sesama muslim—dapat berlangsung hingga 18 bulan, sedangkan mereka tidak melakukan apa-apa? Bagaimana bisa mereka diam saja, padahal komando jutaan tentara dan alutsista ada pada tangan dan mulut mereka? Di mana akal dan nurani mereka, jeritan anak-anak dan perempuan Gaza lewat di hadapan mata dan telinga mereka?

Sungguh, paham batil sekularisme dan kapitalisme serta nasionalisme yang telah lama bercokol di negeri-negeri Islam, telah berhasil menghapus ikatan persaudaraan hakiki atas dasar iman. Alih-alih mengomando dan memimpin jihad melawan musuh-musuh aktifnya, para penguasa muslim, justru rela menjadi penjaga sistem negara bangsa yang dahulu dibuat para penjajah untuk melemahkan kekuatan umat sekaligus melanggengkan hegemoni negara adidaya atas mereka. Pertanyaannya, sampai kapan?

Umat semestinya paham, merekalah pemilik hakiki kekuasaan. Tanpa sokongan umat, para penguasa di negeri-negeri Islam tidak akan pernah memiliki legitimasi atas jabatan kekuasaannya. Itulah sebabnya kita melihat mereka mencari jalan pintas dengan mencari dukungan dari kekuatan negara adidaya. Mereka bahkan rela menjadi penjaga setia bagi kepentingan tuannya, meski pada saat yang sama mereka rela mengkhianati dan bersikap otoriter terhadap rakyatnya.

Mereka pun tampaknya lupa, sikap seperti ini adalah perbuatan dosa tidak terkira. Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidaklah mati seorang hamba yang Allah minta untuk mengurus rakyat, sedangkan dia dalam keadaan menipu (mengkhianati) rakyatnya, kecuali Allah mengharamkan surga bagi dirinya.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Mewujudkan Kepemimpinan Islam

Satu-satunya cara menolong Gaza adalah dengan mengerahkan seluruh potensi umat untuk jihad fi sabilillah. Hanya saja kita tidak mungkin berharap aktivitas yang sangat agung dan mulia ini akan diinisiasi oleh para penguasa muslim yang sedang berkuasa hari ini. Adapun yang siap dan layak memimpin jihad semesta hanyalah seorang khalifah yang dibaiat oleh umat untuk menjalankan seluruh syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan.

Keberadaan seorang khalifah memang masih menjadi PR besar bagi seluruh umat Islam. Sejak Khilafah terakhir runtuh akibat kontribusi Barat, lebih dari 100 tahun, dua miliar umat muslim hidup tanpa pengurus dan penjaga. Padahal, syariat Islam menetapkan batas maksimal umat boleh hidup tanpa baiat kepada khalifah hanyalah tiga hari tiga malam. Pantas jika sepanjang masa itu, kehidupan umat Islam dipenuhi dengan berbagai kesempitan. Berbagai krisis, mulai dari politik, ekonomi, moral, sosial, hukum, dan hankam, terus menggelayuti kehidupan umat Islam.

Oleh karenanya, sudah saatnya umat berjuang menegakkan Khilafah yang dahulu selama belasan abad telah berhasil membuat mereka bersatu dan menjadi kekuatan adidaya. Caranya adalah dengan menggencarkan dakwah membangun kesadaran agar umat paham bahwa Islam bukan sekadar agama ritual, melainkan sebagai sebuah ideologi yang datang sebagai solusi atas semua problem kehidupan.

Bahkan dalam konteks hari ini, Islamlah satu-satunya sistem hidup yang layak menggantikan sistem sekuler kapitalisme. Sistem ini terbukti sangat destruktif dan meniscayakan kezaliman, termasuk melegalkan penjajahan sebagaimana dilakukan Amerika dan Zion*s di Palestina, bahkan di berbagai belahan dunia lainnya.

Kedatangan kembali Khilafah memang sudah janji Allah sekaligus bisyarah (kabar gembira) dari Rasul-Nya. Namun, memperjuangkannya merupakan wilayah ikhtiar yang mesti kita pilih sebagai manifestasi iman. Tentu jalan ini bukan jalan yang mudah, tetapi Allah Swt. telah menyiapkan pahala berlimpah dan balasan berupa surga bagi mereka yang ikhlas dan sungguh-sungguh menapaki jalan yang telah dicontohkan baginda Rasulullah ﷺ. 

Wallahu'alam bishowab


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gencatan Senjata Palsu: Ketika Perdamaian Dijadikan Alat Penjajahan

Ilusi Keadilan dalam Sistem Hukum Sekuler, Islam Menjamin Keadilan

Generasi Sadis, Buah Penerapan Sekularisme