2 Anak Cukup, Bukanlah Solusi Ekonomi!
Oleh : Manda Ummu Sultan
Memiliki keluarga sejahtera adalah dambaan setiap keluarga. Hidup tenang dan nyaman dengan ekonomi mapan juga menjadi harapan semua keluarga. Namun kenyataanya sampai saat ini banyak masyarakat yang hidup dalam garis kemiskinan. Mirisnya pertambahan jumlah anak yang semakin banyak di anggap menjadi penyebab tingginya tingkat kemiskinan. Lalu haruskah masyarakat melakukan pembatasan kelahiran dengan memiliki 2 anak saja cukup?
Pembatasan kelahiran bukanlah solusi ekonomi, terutama masalah kemiskinan. Apalagi dilakukan dengan cara yang haram yakni vasektomi dan tubektomi. Kedua hal tersebut baik vasektomi maupun tubektomi hukumnya haram. Keharaman tersebut telah ditetapkan berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas ra. "kami dahulu berperang bersama Rasulullah Saw, sedangkan bersama kami tidak ada kaum perempuan (istri). Lalu kami bertanya wahai Rasulullah, apakah sebaiknya kami melakukan kebiri? Kemudian Rasulullah melarang kami dari perbuatan tersebut". (HR Al-Bukhari).
Melakukan pengendalian atau pengaturan kelahiran oleh syariat islam diizinkan. Namun bukan dengan membatasi jumlah kelahiran. Membatasi jumlah kelahiran anak dengan alasan biaya hidup yang mahal, biaya pendidikan yang tidak mampu terpenuhi serta ketakutan akan masa depan anak tidaklah sesuai dengan syariat islam. Dalam islam setiap makhluk bernyawa dimuka bumi telah mendapatkan jaminan rezeki dari Allah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surat Hud ayat 6 yang artinya, “Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya". Sehingga memiliki anak banyak bukanlah suatu momok yang menakutkan.
Oleh karena itu, menganggap pertambahan jumlah anak yang banyak merupakan penyebab masalah ekonomi terutama perihal kemiskinan adalah salah besar. Karena sejatinya yang menjadi akar masalah dan penyebab kemiskinan dimuka bumi ini adalah penerapan sistem ekonomi kapitalisme yang timpang. Bukti ketimpangan ini sendiri adalah segelintir orang menguasai aset Nasional dan eksploitasi SDA oleh asing. Alhasil, rakyatlah yang menjadi korban keserakahan para penguasa kapital. kemiskinan sistemik akibat penerapan sistem kapitalis ini yang menyebabkan rakyat sengsara.
Islam memiliki sistem ekonomi yang adil dan menjamin distribusi kekayaan secara merata. Dalam islam sumber daya alam adalah milik umum dan harus dikelola negara untuk kesejahteraan rakyat. Islam menjamin jaminan sosial, jaminan pendidikan serta lapangan kerja dan perlindungan keluarga tanpa harus membatasi jumlah kelahiran. Islam mewajibkan laki - laki yg menjadi kepala rumah tangga untuk mencari nafkah untuk keluarga yang menjadi tanggungannya. Apabila dia memiliki kemampuan namun tidak bersungguh-sungguh dalam menjalankan perannya mencari nafkah maka negara akan memberi Sanksi, namun apabila dia tidak mampu maka kewajiban nafkah jatuh pada anggota keluarganya yang lain, dan apabila anggota keluarganya juga tidak memiliki kemampuan maka negara hadir untuk menjamin nafkah setiap individu rakyat negara Islam. Pemimpin dalam Islam bener - bener memastikan terpenuhi jaminan nafkah bagi setiap rakyatnya. Pemimpin Islam tidak akan memberikan celah masuknya proyek-proyek asing untuk menguasai SDA kaum muslimin. Pemimpin Islam hadir dalam rangka meriayah rakyat dengan syariah Islam bukan memimpin untuk kepentingan pribadinya.
Maka solusi menyeluruh masalah ekonomi bukanlah dengan membatasi jumlah kelahiran melainkan penerapan syariat islam secara menyeluruh dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat.
Wallahualam.

Komentar
Posting Komentar