Di SDN Ribuan Bangku kosong, Pendidikan Warning!


 Oleh : Tri Siswoyo / Pemerhati sosial 


Ribuan Bangku kosong di Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Samarinda menjadi warning terbukanya bagi Penyelenggara Pendidikan. Dalis Panttalongi sekertaris komisi lV DPRD Kalimantan Timur (Kaltim) mengungkap bahwa jumlah kursi siswa yang belum terisi di SDN mencapai lebih dari 2000 .


Temuan tersebut menandakan rendahnya peminat masyarakat terhadap sekolah negeri sehingga menuntut perbaikan segera. Rendahnya peminat masyarakat terhadap sekolah negeri di antaranya adalah kurangnya mata pelajaran agama di SDN, kedisplinan serta adab. Mutu pendidikan serta sarana dan prasarana yang tidak mencukupi serta pendidikan agama Islam yang sangat minim.


Padahal sangat jelas pendidikan merupakan persoalan vital bagi masyarakat. Tidak hanya membenahi layanan pendidikan tetapi harus ada perubahan menyeluruh dalam dunia pendidikan. Pembenahan tersebut mulai dari landasan, kurikulum hingga pelaksanaan pendidikan.


Pendidikan swasta lebih banyak diminati meski mahal tetapi berkualitas mendapatkan porsi agama dan adab yang cukup. Para orang tua saat ini lebih percaya memasukan putra putri nya ke sekolah swasta dari pada sekolah negeri.


Inilah ketika yang diberlakukan adalah sistem pendidikan sekuler yang menihilkan peran agama (Islam). Padahal Indonesia adalah negeri yang penduduknya mayoritas muslim tentu negeri ini terancam bahaya jika pendidikan didasarkan pada sekulerisme yang hanya memandang kesuksesan dengan ukuran duniawi.


Sudah semestinya negeri yang mayoritas muslim ini menerapkan sistem pendidikan Islam yang mengutamakan pembentukan kepribadian islami serta mewujudkan peradaban mulia. Sebagaimana masa Khulafaur Rasyidin.


Pada masa Khulafaur Rasyidin, perhatian negara terhadap pendidikan semakin besar sejalan dengan makin luasnya wilayah negara Islam. Khalifah Umar bin Khattab ra. telah memerintahkan tunjangan bagi para guru seperti yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi dan al- Wadhin bin 'Atha' yang berkata "ada tiga orang guru di Madinah yang mengajar anak - anak, dan Khalifah Umar bin al-  Khattab ra. memberikan nafkah masing - masing dari mereka 15 dirham setiap bulannya. 


Selanjutnya masa Khilafah Umayyah. Pada masa Daulah Umayyah pendidikan mengalami perkembangan seiring meluasnya wilayah negara Islam. Di era tersebut masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah tetapi juga berkembang menjadi pusat pendidikan, kemudian bertranformasi menjadi universitas terbuka. 


Salah satunya adalah Universitas Al-Karaounie (Al- Qarawiyyin) yang didirikan pada tahun 859 dan dianggap oleh UNESCO setta Guiness Book of world Record sebagai universitas yang terus beroperasi dan tertua di dunia. 


Demikianlah gambaran sistem pendidikan dalam Islam yang telah menjadi bagian dari pembangunan peradaban Islam. Sejak zaman Nabi Muhammad Saw, masa Khulafaur Rasyidin serta kekhilafahan setelahnya negara wajib menyediakan pendidikan secara gratis kepada rakyatnya tanpa memandang agama, ras, suku dan status ekonomi dan sosial mereka. Tunjangan diberikan kepada guru - guru secara layak.


Khalifah juga mengutus para ulama ke berbagai wilayah Islam dengan dukungan finansial yang memadai. Dengan sistem pendidikan tersebut lahirlah para ulama yang menghasilkan karya karya intelektual yang tinggi. Tidak terbatas pada tsaqofah Islam saja tetapi mencakup ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi dunia. Seperti kedokteran, kimia dan astronomi, semua itu adalah buah ketika ideologi Islam menjadi dasar politik pendidikan negara. Wallahu a'lam bishawab

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ilusi Keadilan dalam Sistem Hukum Sekuler, Islam Menjamin Keadilan

Generasi Sadis, Buah Penerapan Sekularisme

Living Together Berakhir Mutilasi, Buah Pahit Liberalisasi Pergaulan