Filisida Maternal, Cermin Sistem Kehidupan yang Rusak



Oleh : Nurqamsyiah


seorang ibu berinisial EN (34) ditemukan tewas gantung diri dan dua anaknya usia 9 tahun dan 11 bulan diduga diracun di sebuah rumah kontrakan di Banjaran, Kabupaten Bandung, Jumat (5/9). Antaranews.com


Sang ibu dalam kondisi tergantung di tiang pintu, sedangkan dua anaknya ditemukan tergeletak tidak bernyawa di dalam rumah.


 Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyampaikan bahwa kasus seorang ibu yang tewas bunuh diri usai meracuni dua anaknya di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, merupakan terkategori filisida maternal.


"Itu termasuk filisida maternal, yakni pembunuhan anak oleh ibu. Kami sudah berkoordinasi, memang faktornya karena masalah ekonomi," kata Anggota KPAI Diyah Puspitarini saat dihubungi di Jakarta, Senin. Antaranews.com.


Dalam pengusutan kasus ini kepolisian menemukan surat wasiat sang ibu yang berisi ungkapan penderitaan dan kekesalan terhadap suami, diduga terkait tekanan ekonomi dan hutang keluarga.


Sementara menurut psikologi forensik kasus ini termasuk dalam kategori maternal filicide-suicide, yaitu ketika seorang ibu mengakhiri hidup anaknya sebelum kemudian mengakhiri hidupnya sendiri. MertoTV.com


Kasus filisida maternal ini bukan kasus baru dinegara kita telah banyak kasus seperti ini meski jumlah kasusnya tidak pasti namun kita cukup sering menjumpainya dalam berita.


Seperti kasus dipantai Sigandu, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, seorang ibu berusia 31 tahun menenggelamkan 2 anak perempuannya.


Miris, seorang ibu yang dikena paling luas kasih sayangnya terhadap anaknya bisa tega menghabisi nyawa anaknya sendiri, yang seharusnya menjadi orang yang paling terdepan dalam melindungi anaknya justru menjadi pelaku pembunuhan sang buah hati.


Namun fenomena filisida ini tidak bisa hanya dilihat dari fakta pembunuhannya sebab pada dasarnya tidak ada ibu yang tega membunuh anaknya, seperti pepatah "seganas ganasnya harimau pasti tidak akan menerkam anaknya sendiri"  ini menggambarkan binatang saja tidak akan menyakiti anaknya apalagi manusia, pasti ada faktor dibaliknya seperti psikologi atau beban hidup yang terlalu berat hingga membuat ibu putus asa dan mengambil jalan pintas dalam hidupnya.


Psikolog Klinis Forensik lulusan Universitas Indonesia A Kasandra Putranto, menjelaskan bahwa filisida pada ibu tidak bisa hanya dilihat dari sisi kriminal semata.


Kasandra menyebut ada beberapa faktor utama yang mempengaruhi munculnya kasus ini di Indonesia:

1. Faktor Psikologis
Banyak ibu yang sudah memiliki anak mengalami depresi, stres berkepanjangan, atau gangguan mental lain yang tidak terdiagnosis. Hal ini menurunkan kemampuan berpikir rasional dan memunculkan distorsi kognitif-pikiran salah yang terasa benar bagi pelaku (Beck, 1976).


2. Faktor Sosial dan Ekonomi
Masalah ekonomi, terutama utang keluarga, menjadi pemicu signifikan. Beban ini bukan sekadar soal materi, tetapi juga menimbulkan rasa malu, tekanan sosial, hingga perasaan gagal menjalankan peran sebagai istri dan ibu.
Dalam kerangka Interpersonal Theory of Suicide (Joiner, 2005), kondisi tersebut menciptakan dua faktor psikologis berbahaya yakni Perceived burdensomeness (merasa menjadi beban) dan Thwarted belongingness (merasa terisolasi). Kombinasi keduanya berpotensi besar meningkatkan risiko bunuh diri.


3. Minimnya Dukungan Kesehatan Mental
Akses layanan kesehatan mental di Indonesia masih sangat terbatas. Data Profil Kesehatan Indonesia 2023 mencatat hanya ada sekitar 450 psikolog klinis untuk populasi lebih dari 270 juta jiwa.


Selain keterbatasan tenaga profesional, stigma sosial juga membuat banyak ibu enggan mencari pertolongan. Menurut WHO (2014), stigma merupakan salah satu hambatan terbesar bagi penderita gangguan mental karena adanya ketakutan dianggap lemah atau “gila”.


Menurutnya, fenomena maternal filicide-suicide harus menjadi alarm bagi negara dan masyarakat untuk dapat memperkuat intervensi preventif, memperluas akses layanan psikologi, serta membangun dukungan sosial yang lebih kokoh bagi keluarga rentan.


Faktor faktor yang memicu terjadinya filisida seperti psikologi, sosial, ekonomi adalah masalah yang banyak terjadi didalam kehidupan ini apalagi dalam sistem kapitalisme sekuler.


Kapitalisme telah menyebabkan kesenjangan ekonomi dan sosial diantara masyarakatnya sebeb dalam sistem ini siapa yang kuat dia yang kuasa.


Kapitalisme yang berasas manfaat menjadikan orang orang minim empati, setiap perlakuan selalu diukur dari seberapa besar manfaat yang dia peroleh apalagi jika itu berkaitan dengan hubungan antara penguasa dan rakyat.
Bagi penguasa rakyat hanya dijadikan sebagai pabrik uang dalam bentuk pajak, tidak peduli miskin kaya semua harus membayar pajak, sementara lapangan pekerjaan semakin hari semakin sulit.


Angka kemiskinan semakin meningkat, sementara kemiskinan menjadi salah satu faktor rumahtangga tidak harmonis yang dapat mengganggu kesehatan mental ibu sebagai pengatur keuangan dalam keluarga.


Begitupula dalam kehidupan sosial, status sosial dalam kehidupan kapitalisme selalu dipandang dari harta dan tahta pandangan ini menjadi beban mental tambahan bagi ibu. 


sumber utamanya karna sekularisme yang telah mengakar pada diri umat Islam baik kehidupan individunya maupun masyarakatnya.


Sekularisme memisahkan agama dari kehidupan, agama (Islam) hanya mendapatkan porsi kecil dalam kehidupan manusia, ia hanya mengatur perkara ibadah ritual belaka.


Peran ibu rumah tangga pun dijauhkan dari agama, sehingga ibu mudah mengalami stres karna peran keibunnya tidak memiliki ruh, saat menjalani peran keibuannya ia jauhkan dari agama (Allah). Fitrah ibu benar benar hilang dalam sistem sekuler.


inilah pentingnya peran agama dalam setiap lini kehidupan baik individu, masyarakat dan negara.
Individu yang bertaqwa senantiasa melibatkan Allah dalam setiap permasalahan hidupnya.


Masyarakat yang bertaqwa memiliki cara pandang dalam kehidupan bermasyarakat berdasarkan syariat, empati dan saling peduli.


Sementara negara yang menjalankan hukum Islam sebagai pengontrol ketaqwaan individu dan masyarakat sekaligus menjalankan kebijakan berdasarkan Alquran dan hadist. 


Dengan kebijakan berdasarkan Alquran peran ibu menjadi peran yang sangat diutamakan sebeb ibu adalah rahim peradaban, maka semua faktor yang bisa mengganggu peran ibu akan diminimalisir misalkan masalah ekonomi, perempuan tidak memiliki tanggungjawab dalam nafkah bahkan dia sepenuhnya dinafkahi. 


Jika ia jadi anak nafkah akan ditanggung oleh ayah, jika ia jadi istri ia akan ditanggung oleh suami, jika suami sudah tidak ada maka akan ditanggung oleh wali jika wali tidak ada maka akan ditanggung oleh negara.
Seorang kepala keluargapun diberikan lapangan pekerjaan dengan gaji yang layak agar ia mampu menafkahi keluarganya.


Wallahu a'lam bishawab 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ilusi Keadilan dalam Sistem Hukum Sekuler, Islam Menjamin Keadilan

Generasi Sadis, Buah Penerapan Sekularisme

Living Together Berakhir Mutilasi, Buah Pahit Liberalisasi Pergaulan