Keracunan MBG Terulang Kembali, Program Populis Membahayakan Keselamatan Rakyat.
Oleh : Gr. Nur Fitriati K. S.Pd (guru, Aktivis Muslimah)
Kasus keracunan massal akibat konsumsi makanan bantuan bergizi (MBG) kembali terjadi di berbagai wilayah indonesia.
Baru-baru ini di kabupaten Lebong, Bengkulu (427 anak), Lampung Timur (20 anak), SMP 3 Sleman (135 siswa) dll. Sebelumnya juga terjadi di Sragen, hasil uji laboratorium di Sragen ditemukan bahwa sanitasi lingkungan tersebut menjadi permasalahan utama, gejala yang diderita warga meliputi mual,muntah,diare dan pusing.
Ini bukan kejadian pertama dalam beberapa bulan terahir laporan tentang keracunan MBG terus bermunculan, kasus-kasus tersebut tersebar di berbagai daerah dengan pola yang sama makanan bantuan yang seharusnya menyehatkan justru menjadi sumber penyakit bahkan berpotensi membahayakan nyawa.
Pemerintah pusat dan daerah bereaksi dengan penyelidikan dan permintaan maaf namun akar masalahnya tak kunjung diselesaikan.
Program MBG yang diklaim sebagai bentuk keberpihakan pada rakyat kecil justru menjadi ancaman baru karena lemahnya pengawasan sistem distribusi yang kacau dan potensi korupsi dalam pengadaan bahan makanan.
Kepala BGN menyampaikan keprihatinan dan menginstruksikan agar operasional satuan pemenuhan pelayanan gizi (SPPG) dihentikan sementara.
MBG dilaksanakan karena merupakan janji kampaye presiden untuk mengatasi masalah malnutrisi dan stunting pada anak-anak dan ibu hamil serta meningkatkan kualitas SDM dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
Pengadaan makanan dilakukan dengan sistem outsourcing yang melibatkan banyak pihak swasta termasuk penyedia makanan siap saji yang tidak selalu memenuhi standar keamana pangan. Distribusi dilakukan tergesa-gesa untuk memenuhi target politik tanpa sistem audit yang transparan.
Dalam banyak kasus pengadaan makanan dilakukan berdasarkan prinsip yang termurah agar bisa menjangkau sebanyak mngkin penerima. Akibatnya kualitas bahan makanan rendah dan potensi kontaminasi tinggi.
Terjadinya keracunan berulang menunjukkan adanya ketidakseriusan dan kelalaian negara khususnya dalam menyiapkan SOP dan mengawasi SPPG. Kesehatan bahkan nyawa siswa terancam.
MBG juga bukan solusi untuk menyelesaikan persoalan gizi pada anak sekolah dan ibu hamil apalagi mencegah stanting.
Islam sebagai ideologi memiliki sistem yang menyeluruh dalam menjamin kesejahteraan rakyat, termasuk dalam urusan pangan dan kesehatan. Solusi islam bukan sekedar program bantuan temporer tetapi menyentuh akar dan struktur.
Dalam islam negara (Khilafah) wajib menjamin kebutuhan pokok rakyat secara langsung termasuk pangan, kesehatan dan pendidikan. Program semacam MBG dalam sistem islam bukan proyek politik tapi amanah yang harus dijalankan tanpa korupsi dan dengan pengawasan ketat.
Islam melarang praktik suap, mark-up atau pengadaan yang tidak aman. Pemimpin yang amanah akan menindak tegas pihak yang mengancam nyawa rakyat.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Setiap kalian Adalah pemimpin,dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggunjawaban atas kepemimpinannya.” (HR.Bukhari dan Muslim).
Dengan jaminan kesejahteraan khilafah disertai edukasi tentang gizi maka kasus stunting akan dapat dicegah demikian juga masalah gizi lainnya.
Khilafah mampu menjamin kesejahteraan semua rakyat karena memiliki sumber pemasukan yang besar sesuai ketentuan syara’ dan dikelola dengan sistem ekonomi islam.
Kasus keracunan MBG bukan sekedar kecelakaan teknis. Ini Adalah Gambaran dari kegagalan sistemik dalam tata Kelola negara kapitalistik-sekuler. Ketika program sosial dijalankan untuk pencitraan politik rakyat menjadi korban.
Islam bukan hanya agama ibadah ritual, tetapi juga sistem hidup yang lengkap. Islam mampu menawarkan Solusi yang holistic,adil dan aman bagi seluruh rakyat muslim maupun non muslim. Sudah saatnya kita tidak lagi terjebak pada Solusi tambal sulam. Solusi sejati ada pada penerapan syariat islam dalam seluruh aspek kehidupan dibawah naungan khilafah Islamiyah.
Wallahu a'lam bishawab
Komentar
Posting Komentar