Fatherless Kian Populer, Buah Kehidupan Kapitlistik-Sekuler
Oleh : Nurqamsyiah
Fatherless adalah kondisi dimana peran ayah tidak berfungsi dalam kehidupan anak baik secara fisik maupun nonfisik atau secara emosional.
Kondisi ini sedang populer di Indonesia ditandai dengan banyaknya komentar yang membanjiri salindia diakun Instagram @ruthelga.
Akun ini sering membagikan kebersamaan dengan ayahnya serta kedekatannya yang banyak membuat netizen cemburu.
bahkan beberapa netizen bercerita tentang kehidupannya yang jauh dari ayah meski satu atap.
Seperti dikutip dilaman kompas.com. Rudarto (68), papa Rut, kaget mengetahui anak-anak muda sekarang mengalami fatherless. Menurut dia, fenomena itu hal yang gila dan menyengsarakan. Baginya, perhatian dan komunikasi terhadap putrinya merupakan hal yang lumrah dilakukan sebagai ayah.
Olahan data tim Jurnalisme Data dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2024, ada 15,9 juta anak atau setara dengan 20,1 persen dari total 79,4 juta anak yang berusia kurang dari 18 tahun yang berpotensi mengalami fatherless. Sebanyak 4,4 juta karena tidak tinggal bersama ayah.
Adapun 11,5 juta anak karena ayahnya sibuk bekerja atau separuh harinya lebih banyak bekerja di luar rumah.
Analisis ini sejalan dengan pernyataan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, Wihaji. Mengutip data UNICEF, Wihaji menyebut pada 2021 sebanyak 20,9 persen anak Indonesia fatherless.
Artinya, seperlima anak di Indonesia kehilangan sosok ayah yang memengaruhi pembentukan karakter, daya tahan, daya tarung, dan hal-hal yang berkenaan dengan kepemimpinan.
Masalah fatherless ini disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor budaya patriarki dan ekonomi.
Budaya patriarki diindonesia yang masih sangat kental, budaya ini beranggapan bahwa pengasuhan anak adalah tanggungjawab ibu semata.
Ia sudah merasa menjadi ayah yang hebat jika secara finansial keluarga terpenuhi.
Padahal peran ayah bukan hanya sekedar pencari nafkah tapi lebih dari itu ia juga adalah qawwam dalam keluarga serta memiliki peran penting dalam proses pengasuhan, ayah juga memiliki porsi dalam pengasuhan anak.
Faktor selanjutnya adalah ekonomi, ekonomi adalah faktor yang tak terelakan sebagai penyebab fatherless mengingat peran ayah sebagai pencari nafkah yang peran ini dikerjaan diluar rumah dengan jam kerja yang panjang.
menurut tagar.co para pekerja diindonesia rata rata menghabiskan 60 jam per pekan untuk bekerja, pergi pagi pulang malam adalah hal lumrah yang kita temui dalam kehidupan para pekerja.
Belum lagi jika pekerjaannya jauh dari tempat tinggal atau bahkan harus merantau, membuat waktu dengan anak atau keluarga menjadi sangat terbatas, ia menjadi asing dirumahnya sendiri.
Anak jadi tidak memiliki kedekatan emosional dengan anak.
Padahal ketiadaan peran ayah dalam pengasuhan anak bisa berdampak buruk bagi perkembangan anak. Seperti hilangnya karakter kepemimpinan serta tanggungjawab pada diri anak.
Dilansir dari halodokter.com fatherless bendapak buruk pada perkembangan emosional, kognitif, serta berdampak pada sosial anak.
Hidup dalam sistem Kapitalisme sekuler memang serba dilema, disisi lain ayah memiliki peran sebagai pencari nafkah disisi lain ayah juga memiliki peran dalam pengasuhan.
Sementara dalam sistem kapitalisme, peran pengasuhan tidak mereka pertimbangkan atau menjadi urusan masing masing ayah, yang paling dipentingkan adalah perannya sebagai pekerja. Target yang harus dipenuhi.
Hal ini menjadi wajar dalam sistem kapitalisme sebab asas dalam sistem ini adalah materi, maka tujuan utama mereka adalah bagaimana mengumpulkan materi sebanyak banyaknya.
Disamping itu pemerintah yang memiliki wewenang dalam aturan ketenagakerjaan tidak juga bisa memberikan solusi agar kedua peran ini bisa berjalan dengan baik.
Sebab peran ayah dalam pengasuhan tidak bisa dianggap remeh bahkan sangat penting untuk masa depan peradaban sebuah bangsa.
Disisi lain ayah yang terbentuk dalam sistem sekuler kehilangan jiwa qawwam dalam dirinya, menyebabkan banyak ayah yang mengabaikan perannya sebagai pemimpin dalam keluarga.
Tidak adanya rasa tanggungjawab pada dirinya terhadap anak anaknya dalam dalam hal pengasuhan, kurangnya pemahaman Islam pada dirinya tentang bagaimana peran ayah dalam keluarga.
Dalam sistem sekuler Islam dan kehidupan dipisahkan, menyebabkan orang orang tidak memiliki keterikatan dengan hukum Syara' dalam kehidupannya, ia bebas memilih jalan hidupnya sendiri.
Padahal dalam Islam aturan kehidupan disusun dengan sangat sempurna demi kebaikan kehidupan kita.
Termasuk aturan keluarga serta peran setiap anggota keluarga, dalam Islam ayah adalah qawwam yang bertanggung jawab memimpin keluarganya.
Allah berfirman dalam Alquran surah an nisa : 34 " kaum laki laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karna itu Allah melebihkan sebagian mereka (laki laki) diatas sebagian yang lain (wanita). Karna mereka sudah menafkan sebagian dari harta mereka"
Rasulullah SAW bersabda " setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, dan seorang suami adalah pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya" ( HR. Bukhari dan Muslim).
Seperti kita fahami bahwa kepemimpinan itu bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan pokok atau nafkah semata tapi juga memenuhi setiap kebutuhannya seperti rasa nyaman, segala sesuatu yang mengantarkan pada kebaikan juga menjadi tanggung jawabnya.
Dalam Islam negara juga memiliki peran untuk mendukung setiap orang melakukan kewajibannya termasuk mengatur agar peran ayah dalam keluarga berjalan dengan baik.
Menyediakan lapangan pekerjaan yang layak tanpa mengesampingkan perannya yang lain dalam hal ini perannya sebagai ayah. Dengan menyediakan pekerjaan dengan jam kerja yang fleksibel.
Agar ayah bisa memiliki waktu luang bersama keluarga, serta memberikan edukasi yang benar tentang peran ayah dalam keluarga.
Islam adalah agama yang berasaskan keridhoan Allah bukan berdasarkan pada kepentingan manusia. maka setiap aktivitas manusia baik yang bekerja maupun yang mempekerjakan berlandaskan pada nilai ridho bukan nilai materi.
Maka menjadi bailah kehidupan kita baik individu, keluarga, masyarakat dan negara kita.
Wallahu a'lam bishawab
Komentar
Posting Komentar