Fenomena Bunuh Diri : Bukti Sekularisme Menggerogoti Mental Generasi

 


Fenomena Bunuh Diri : Bukti Sekularisme Menggerogoti Mental Generasi

Oleh : Sitti Kamariah

(Aktivis Muslimah) 


Psikiater Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Atma Husada Mahakam Samarinda, Kalimantan Timur, dokter Sri Purwatiningsih membagikan cara mengatasi ide bunuh diri yang kerap muncul pada kalangan remaja sebagai dampak dari berbagai tekanan mental yang dialami. Ia pun mendorong para orang tua untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku anak yang menjadi gejala depresi, seperti wajah yang selalu tampak sedih, kehilangan minat pada hobi, serta mudah lelah. 


Menurut Sri, penanganan sejak dini dengan berkonsultasi kepada ahli dapat mencegah kondisi mental remaja memburuk hingga ke tahap yang mengancam nyawa. Penyebabnya pun beragam, mulai dari gangguan jiwa seperti depresi dan cemas, faktor lingkungan seperti perundungan di sekolah, hingga riwayat genetik dalam keluarga. "Kurangnya validasi emosi saat kecil membuat anak tidak bisa mengungkapkan perasaannya, sehingga mekanismenya malah melukai diri," jelasnya. Fenomena ini, imbuh dia, sangat rentan terjadi pada remaja dengan rentang usia 12 hingga 19 tahun, di mana perempuan memiliki risiko 1,5 kali lebih besar dibandingkan dengan laki-laki.(www.kaltim.antaranews.com, 21/09/2025) 


Bunuh diri saat ini menjadi fenomena yang marak terjadi. Pelakunya dari beragam usia, bahkan belakangan ini cukup sering dilakukan oleh remaja usia belia. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2019, terdapat setidaknya lebih dari 800.000 kasus bunuh diri setiap tahunnya, dan yang tertinggi adalah pada usia muda. Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi, Organisasi Riset Kesehatan – BRIN,  Yurika Fauzai Wardhani, dari 2.112 kasus bunuh diri di Indonesia sepanjang tahun 2012 sampai 2023, ada 985 kasus yang terjadi pada remaja atau sekitar 46,63% dari keseluruhan jumlah.


Bunuh diri terjadi akibat kelemahan mental individu sehingga mudah stress dan putus asa. Remaja stress bisa jadi karena tuntutan akademik di sekolah, masalah keluarga, broken home, bullying, hingga masalah percintaan yang  terlihat sepele. Lemahnya iman seseorang akan mendatangkan pikiran bunuh diri untuk menyelesaikan masalah dan menyelesaikan rasa sakit hati atau fisik yang dialami. 


Fenomena remaja bunuh diri menunjukkan gagalnya sistem pendidikan dalam mencetak individu yang bermental kuat, selalu bersyukur dan bersabar dalam menjalani kehidupan. Kelemahan mental dipengaruhi oleh banyak hal, namun faktor utamanya adalah akibat pandangan hidup berdasar sekulerisme kapitalisme. Menjalani hidup tanpa mengikuti aturan fitrah dari Sang Pencipta, lalu fokus pada tujuan materi saja tentu menjadi sumbu api mendatangkan depresi. 


Maka, kasus depresi berujung bunuh diri pada remaja bukanlah masalah individu saja, tapi merupakan akumulasi masalah dari sistem aturan kehidupan yang rusak. Sehingga, tidak cukup penanganan secara teknis saja dengan datang ke ahli psikiater, melainkan perlu menyoroti akar masalah dan melakukan pencegahan dengan sistem yang benar. 


Fenomena bunuh diri menunjukkan gagalnya negara dalam mengurus rakyat dan menjaga  kesehatan mental rakyat khususnya remaja. Hal ini terjadi karena negara menerapkan sistem sekularisme kapitalisme yang terbukti merusak mental generasi. Maka, solusi bagi negara untuk menghentikan kasus bunuh diri adalah kembali pada sistem Islam, dimana negara akan menjaga keimanan para remaja, mulai dari menerapkan sistem pendidikan Islam dan menjalankan penegakan hukum berbasis syariah. 


Dalam pandangan Islam jelas bunuh diri adalah haram karena sebuah bentuk pelanggaran besar terhadap amanah Ilahi yaitu jiwa yang telah Allah Swt. berikan. Firman Allah Swt., “Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS An-Nisa [4]: 29).


Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa yang membunuh dirinya dengan besi maka besinya itu akan berada di tangannya, menusuk perutnya di neraka jahanam, kekal di dalamnya selama-lamanya.” (HR Bukhari dan Muslim).


Bunuh diri terjadi karena manusia tersebut telah menyerah dan putus asa terhadap keadaan, dan ini adalah dosa besar karena Allah Swt. melarang sikap ini. Sebagaimana dalam firman-Nya, “Janganlah kalian berputus asa dari kasih sayang Allah. Sungguh tidaklah berputus asa dari kasih sayang Allah kecuali kaum kafir.” (QS Yusuf [12]: 87).


Imam Al-Qurthubi menjelaskan, “Janganlah kalian berputus asa dari solusi (yang diberikan) Allah.” Oleh karena itu, bersikap pesimis, putus asa, dan menyerah pada keadaan karena merasa tidak ada harapan adalah dosa besar.


Selain adanya larangan dari Islam bagi seseorang untuk bunuh diri, Islam juga memiliki panduan hidup bagi manusia agar tidak mudah putus asa dan melakukan bunuh diri. Ada tiga pilar yang harus sejalan menjalankan syariat Allah Swt. secara menyeluruh untuk menihilkan kasus bunuh diri. Pilar pertama adalah individu yang bertakwa. Akidah Islam ditanamkan pada setiap individu muslim sedini mungkin oleh orang tua atau keluarganya. 


Akidah Islam yang tertancap kuat pada diri seorang muslim akan menciptakan keteguhan dan ketakwaan. Seseorang yang bertakwa akan mengimani bahwa segala yang ditetapkan Allah niscaya akan menimpanya, baik maupun buruknya. Ia akan menjalani hidup dengan mantap sesuai tuntunan syariat, tanpa mengkhawatirkan apa pun hasilnya sehingga terhindar dari stres, putus asa, apalagi keinginan bunuh diri.


Hal ini karena seorang muslim memahami firman Allah Swt., “Katakanlah, sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan yang telah ditetapkan Allah bagi kami’” (QS At-Taubah [9]: 51). Juga sabda Rasulullah saw., “Tidaklah mati seseorang sampai ditetapkan ajalnya, rezekinya, dan apa-apa yang menjadi takdirnya.” (HR Ibnu Hibban, Baihaqi).


Individu-individu yang bertakwa akan menciptakan lingkungan masyarakat yang takwa juga. Lingkungan masyarakat takwa akan menciptakan suasana yang tentram, tidak toxic dan tidak suka julid. Karakter masyarakat bertakwa akan saling membantu dan saling menasehati dalam kesabaran serta ketaatan. 


Selanjutnya Negara, yaitu pilar yang tak kalah penting, karena memiliki kuasa dalam membuat kebijakan dan menetapkan sanksi dimana individu masyarakat terikat untuk melaksanakannya. Fungsi Negara yaitu penguasa atau pemimpin dalam Islam adalah pelindung bagi rakyat dan orang-orang yang dipimpinnya, dimana ia bertanggung jawab atas rakyat yang dipimpinnya. Ini sebagaimana hadis Rasulullah saw., “Imam adalah raa’in (gembala) dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR Bukhari). ”Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai yang (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya.” (HR Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud).


Pencegahan kasus bunuh diri yang dapat dilakukan negara salah satunya adalah melalui penerapan sistem pendidikan yang Islami. Pasal 167 Muqaddimah ad-Dustur menyebutkan, “Tujuan pendidikan adalah membentuk kepribadian Islam (syakhshiyah islamiah) dan membekalinya dengan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan masalah kehidupan. Metode pendidikan dirancang untuk merealisasikan tujuan tersebut. Setiap metode yang berorientasi bukan kepada tujuan tersebut dilarang."


Pendidikan Islam akan menghasilkan peserta didik yang kukuh keimanannya dan mendalam pemikiran Islamnya. Hal ini terbukti dari sejarah bagaimana kuatnya keimanan para sahabat-sahabat Rasulullah Saw. Saat ini pun kita dapat melihat dan mencontoh keimanan para pemuda-pemuda di Palestina, yang menunjukkan bahwa kunci utama menghadapi berbagai masalah adalah kekuatan akidah kita terhadap Allah Subhanahu Wata'ala. 


Maka, hanya dengan penerapan syariat Islam secara menyeluruh dalam bermasyarakat dan bernegara yang akan menciptakan pembiasaan pola hidup dan standar nilai masyarakat sesuai Islam. Dengan demikian, masyarakat hidup diliputi ketakwaan, kesejahteraan, keamanan, serta terhindar dari guncangan jiwa yang memicu bunuh diri. 

Wallahu a'lam bishshowab

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ilusi Keadilan dalam Sistem Hukum Sekuler, Islam Menjamin Keadilan

Generasi Sadis, Buah Penerapan Sekularisme

Living Together Berakhir Mutilasi, Buah Pahit Liberalisasi Pergaulan