"MBG: Program Maut di Bawah Naungan Kapitalisme, Bukan untuk Rakyat Tapi untuk Korporasi!"

 



Oleh : Yuli Atmonegoro, Aktivis Dakwah Serdang Bedagai 

Ribuan anak-anak menjadi korban, puluhan nyawa melayang sia-sia, dan ribuan keluarga tenggelam dalam duka. Ini bukan bencana alam, melainkan akibat dari sebuah program bernama MBG—yang diduga menjadi penyebab utama keracunan massal di berbagai wilayah. Alih-alih dihentikan, program ini justru terus dijalankan dengan dalih “demi masa depan bangsa.” Pertanyaannya: masa depan siapa? Bangsa atau para pemilik modal?


Mengutip dari BBC News Indonesia yang tayang pada 25/09/25, ditulis bahwa lebih dari 1.000 siswa di Bandung Barat diduga keracunan MBG. Sejumlah korban keracunan usai mengonsumsi MBG masih berdatangan ke Posko KLB Keracunan MBG, Kecamatan Cipongkor, Kamis siang (25/09). Otoritas kesehatan setempat melaporkan jumlah korban keracunan terbaru, lebih dari 1.000 orang.


Setidaknya lima siswa dari sekolah yang berbeda datang dengan keluhan sesak nafas, sakit perut, pusing, dan mual.Mereka adalah siswa yang sempat menjalani perawatan Rabu kemarin (24/09).


"Namun karena kondisi kesehatannya tidak cukup baik, mereka datang kembali untuk menjalani pengobatan," kata wartawan Yuli Saputra yang melaporkan untuk BBC News Indonesia dari Posko KLB Keracunan MBG di Bandung Barat.

Dalam paradigma Islam, nyawa manusia lebih berharga daripada seluruh isi dunia. Rasulullah ﷺ bersabda:

"Hilangnya dunia lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak." (HR. An-Nasa’i, at-Tirmidzi)

Namun hari ini, nyawa anak-anak tak lebih berharga dari angka keuntungan dan target statistik. Pemerintah seolah abai, tidak segera mengambil langkah tegas untuk menghentikan program ini. Bahkan indikasi kelalaian dan pembiaran justru semakin nyata, membuktikan bahwa sistem ini tak berpihak kepada rakyat, melainkan tunduk pada logika kapitalisme.


Sistem Sekuler Kapitalis adalah Akar Masalahnya

Dalam kacamata Islam, tragedi ini bukan semata kelalaian teknis, tapi buah pahit dari sistem kapitalisme sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Dalam sistem ini, kebijakan negara tidak disandarkan pada halal-haram, tetapi pada untung-rugi material. Maka, program seperti MBG bisa terus berjalan selama mendatangkan keuntungan bagi korporasi, meskipun nyawa rakyat jadi taruhannya.


Pemerintah yang seharusnya menjadi pelindung justru berubah menjadi regulator yang memfasilitasi kepentingan bisnis. Padahal dalam Islam, tugas negara adalah riayah (mengurus) urusan umat, bukan menjadi agen kapitalis. Tragedi MBG hanya satu dari sekian banyak bukti bahwa negara gagal menjalankan perannya sebagai penjaga nyawa dan kehormatan rakyat.


Negara Khilafah Pelindung Nyawa dan Generasi


Berbeda dengan sistem kapitalis, Khilafah Islamiyah menjadikan syariat sebagai satu-satunya sumber hukum. Dalam sistem Khilafah. Setiap program pendidikan, kesehatan, dan perlindungan anak akan disusun berdasarkan hukum Islam. Uji keamanan dan halal-haram suatu produk atau program menjadi standar mutlak, bukan sekadar formalitas.


Negara bertanggung jawab langsung atas keselamatan rakyatnya, dan siap menghentikan program apapun yang membahayakan nyawa. Siapa pun yang terbukti lalai hingga menyebabkan kematian rakyat akan diadili secara tegas dengan hukum qishash atau ta’zir, bukan dilindungi demi kepentingan jabatan atau korporasi.


Saatnya Umat Sadar dan Menolak Sistem Rusak 

Tragedi MBG bukan sekadar kasus kesehatan, tetapi simbol kegagalan sistem buatan manusia. Selama sistem kapitalisme sekuler masih menjadi dasar kehidupan berbangsa dan bernegara, tragedi demi tragedi akan terus terjadi. Umat Islam harus sadar, bahwa solusi hakiki bukanlah tambal sulam regulasi, melainkan perubahan total menuju sistem yang benar-benar memuliakan manusia: Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah.


Wallahu a'lam bish showaab 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ilusi Keadilan dalam Sistem Hukum Sekuler, Islam Menjamin Keadilan

Generasi Sadis, Buah Penerapan Sekularisme

Living Together Berakhir Mutilasi, Buah Pahit Liberalisasi Pergaulan