Remaja Korban Buliyying Semakin Membahayakan
Oleh : Nur Qamsyiah
Kasus Buliyying akhir akhir ini semakin marak, dan makin mengkhawatirkan sebab anak anak yang mengalami kasus pembulian sudah sampai batas kesabarannya. Yang artinya ia sudah sering mendapatkan pembulian.
Siswa SMA 72 kelapa gading, jakarta Utara misalnya ia melakukan pengeboman disekolahnya. Menurut saksi ia melakukannya karna ia ingin balas dendam atas pembullyan yang sering ia terima.
Tidak tanggung tanggung korban atas aksi ini mencapai 92 korban, 26 diantaranya masih dirawat dirumah sakit.
Begitu pula dengan kasus santri di Aceh Pada Jumat, 31 Oktober 2025, asrama putra Dayah (Pesantren) Babul Maghfirah—pimpinan Tgk. Masrul Aidi—di Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar, terbakar.
“Pelaku mengaku membakar gedung asrama karena sering mengalami bullying dari beberapa temannya,” kata Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Joko Heri Purwono, saat konferensi pers di Meuligoe Rastra Sewakottama, Kamis (6/11). Kumparannews.com.
Pembullyan yang terjadi diindonesia memang bukan berita baru apalagi didunia pendidikan, Kemenkes mencatat selama tahun 2025 ada sekitar 2.261 kasus Buliyying. Dan kebanyakan kasusnya berasal dari dunia pendidikan.
Padahal bullying bukan hanya merusak secara fisik tapi lebih dari itu ia merusak mental yang dibully, sehingga korban bully yang sudah rusak secara mental tidak lagi berfikir positif, bahkan ia bisa melakukan adegan berbahaya seperti kasus Diatas atau dengan melukai diri sendiri (bunuh diri).
Seperti yang dilansir dilaman unicef.org tahun 2018 bahwa sekitar 40% kasus bunuh diri di Indonesia disebabkan karna bullying.
Kasus bullying ini juga telah menyebar keberbagai daerah seolah menjadi sebuah budaya baru.
Media sosial memiliki pengaruh besar terhadap kebiasaan bully pada anak terutama anak remaja.
Psikolog Sosial dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Drs. Koentjoro, MBSc., Ph.D., menyebutkan media sosial (medsos) bisa memengaruhi perilaku sosial seseorang, termasuk bullying.
Mengingat media sosial hari ini adalah dunia tanpa batas, para penggunanya bisa mengakses konten sesuai dengan keinginannya, disisi lain para konten kreator tidak memiliki aturan dalam berkonten.
Kebanyakan konten dimedia sosial yang diangkat adalah konten konten yang tidak mendidik bahkan justru menjerumuskan, atau bahkan menjadikan bully sebagai bahan candaan. Sebab konten konten inilah yang paling banyak mendapatkan viewer atau penonton.
Sementara anak anak yang menonton kebanyak belum atau tidak bisa menyaring tontonannya, kebanyakan dari mereka belum memahami apa yang ditonton ia hanya melihat sebagai hiburan lalu berlanjut sampai meniru.
Anak anak juga jadi abu abu dalam memahami makna bully sebab banyak konten bully dibalut dengan kata bercanda. Sehingga bisa jadi menurutnya bercanda tapi ia sudah membuat orang merasa sakit hati.
Disamping itu peran orang tua yang cenderung memberikan kebebasan pada anak dalam menggunakan media sosial tanpa kontrol.
Peran negara juga hilang dalam memberikan keamanan pada para penonton dengan pengaturan konten yang diposting, negara memberikan kebebasan berkonten tanpa peduli dengan dampaknya.
Maraknya kasus bullying didunia pendidikan hari ini menandakan anak anak didik minim etika, miskin adab
Padahal pendidikan seharusnya menjadi sarana dalam pembentukan generasi baik secara intelektual maupun kepribadian.
Inilah dampak yng dihasilkan dari penerapan sistem pendidikan sekuler kapitalistik yang hanya mengedepankan materi sebagai tujuan dalam pendidikan dan mengesampingkan perbaikan karakter.
Anak anak hanya difokuskan dalam mengejar nilai yang bagus dalam pengetahuan, meperkaya intelektual sebab anak didik selalu didorong untuk bisa sukses dengan masa depan yang kaya akan materi sehingga anak didik seolah hanya fokus dengan mengejar nilai yang bagus.
Sementara kepribadian yang baik hanya memiliki porsi yang sangat sedikit dalam dunia pendidikan dan tidak terlalu memiliki tempat. Padahal apalah arti ilmu tanpa adab.
Dalam Islam adab adalah hal pokok dalam sistem pendidikannya bahkan dalam Islam adab diajarkan sebelum ilmu.
Para ulama salaf mengarahkan murid-murid mereka untuk mempelajari adab sebelum ilmu yang tinggi dan bab perselisihan pendapat.
Ibn Mubarak rahimahullah berkata, “Kami belajar adab (tata krama) 30 tahun dan kami belajar ilmu selama 20 tahun.”
Dalam kitab Siyar al-A’lam karya Adz-Dzahabi, dari Abdullah bin Wahab berkata, “Kami lebih banyak menukil adab (tata krama) Imam Malik ketimbang kami mempelajari ilmunya.”
Bahkan dalam Islam kesempurnaan iman ditentukan dari adabnya, Rasullullah Saw bersabda
"Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya" (HR. Tirmidzi).
Inilah cermin sistem pendidikan Islam yang menjadikan anak didik memiliki kepribadian yang mulia, dengan kepribadian yang mulia menjadikan kehidupan dalam masyarakat damai.
Pendidikan Islam yang sempurna hanya bisa tercapai jika ditopang oleh negara dan negara yang bisa menopangnya hanyalah negara dengan sistem Islam
Karna hanya negara yang bisa membentuk kurikulum dan kurikulum sangat ditentukan oleh sistem yang berlaku dalam negara.
Begitu pula dalam pengaturan interaksi dalam masyarakat termasuk interaksi didunia Maya dalam hal ini media sosial.
Negara dalam Islam akan menjaga segala hal yang bisa merusak akhlak masyarakatnya, termasuk mengatur konten yang bisa diupload serta memberikan pendidikan yang baik bagi masyarakat dalam berkonten.
Maka dengan ini tercipta generasi yang bebas dari paparan adab yang buruk serta pengaruhnya.
Wallahu a'lam bishawab
Komentar
Posting Komentar