Algoritma Kapitalisme, Perangkap Sistemik Bagi Generasi
Oleh : Ummu Mumtazah (Aktivis dan Pemerhati Generasi)
Pemuda sangat diharapkan bangsa sebagai penerus pemimpin bangsa, sekaligus menjadi tonggak awal peradaban yang mulia. Namun, harapan itu seakan sirna ketika medsos yang lahir ditengah-tengah masyarakat hampir membinasakan kebiasaan para pemuda, sehingga hidupnya semakin stagnan, mager, segala sesuatu ingin dicapai secara instan tanpa berusaha keras untuk mewujudkannya. Inilah yang menimpa banyak generasi
saat ini, yang tidak bisa mengubah kehidupannya menjadi lebih baik.
Seiring perkembangan zaman, banyak generasi yang terjebak dalam permainan digital. Selain yang berkaitan dengan banyaknya konten yang menghasikan banyak cuan, platform digital telah berubah dari alat teknis menjadi sarana penyebaran ideologi sekularisme.
Pemuda dengan ekonominya yang terbatas, demi gaya hidup dan hiburan akan mudah disasar iklan judol dan pinjol karena kerja algoritma yang menargetkan mereka berdasarkan kerentanan ekonomi.
Sistem algoritma yang sangat sistemik hingga 58 % Gen Z menggunakan pinjol yang akan dipergunakan untuk berbagai kebutuhan, hingga rekening pinjaman usia muda melonjak, bukti para generasi terpapar sikap hedonis tidak bisa memilih antara kebutuhan dengan keinginan, sehingga mereka terlibat pinjol. Dikutip dari kompas.id
Hedonis, Gaya Hidup Ala Kapitalisme
Sistem kapitalisme sekularisme selalu saja menimbulkan masalah, tidak saja menyasar anak dibawah umur, remaja, dewasa bahkan orang tua. Semuanya menjadi sasaran kerja
Digital yang semakin masif dan sulit dihindari. Dengan himpitan ekonomi,
yang lahir dari sistem kapitalisme banyak para generasi terjebak pinjol yang menggiurkan dan mendorong generasi pada jalan pintas yang menjerumuskan. Tidak saja berefek pada si pelaku pinjol, namun berimbas kepada keluarga dan pihak-pihak tertentu. Mereka mempunyai keinginan tanpa kemampuan finansial, sehingga terjebak judol dan akhirnya terjerumus dalam pinjol, seperti kata pepatah sudahlah terjatuh, tertimpa tangga pula.
Sekularisme yang melahirkan liberalisme, menimbulkan banyak permasalahan yang kompleks terhadap generasi. Akibat dari pinjol, banyaknya kasus bunuh diri, pembunuhan, kekerasan yang semakin sadis, perundungan, hingga masalah gangguan kesehatan mental. Semua itu penyebabnya adalah negara gagal melindungi generasi. Nilai-nilai yang lahir dari kapitalisme dan sekularisme bersifat materialistis, baik dalam bidang pendidikan maupun lingkungan masyarakat. Hal ini membuat generasi rentan terhadap tindakan spekulatif dan beresiko.
Dalam sistem kapitalisme - sekularisme, ruang digital dikuasai oleh logika kapitalisme yang menjadikan platform (lewat algoritmanya) berfokus pada kebiasaan, bukan keselamatan pengguna. Semua ini semata-mata demi keuntungan dan menjadikan generasi sebagai pasar. Padahal, seharusnya ruang digital harus dijadikan jalan untuk memperkuat akidah dan akhlak generasi. Sehingga menjadikan generasi sebagai tonggak perubahan dan peradaban ke arah yang lebih baik.
Mekanisme Islam dalam Penggunaan Ruang Digital
Islam sangat memperhatikan generasi dalam setiap aspek, terlebih dalam masalah perkembangan digital. Negara dalam hal ini Khalifah, sangat memperhatikan bagaimana cara kerja/langkah-langkah (algoritma) agar nantinya tidak berpengaruh buruk pada generasi, sehingga tidak tergerus sifat hedonis, hidup dalam kemewahan. Para generasi akan dikuatkan imannya, agar tidak terjebak ke dalam hal-hal yang menjerumuskan kepada maksiat, seperti pinjol dan judol. Penguatan akhlak, akidah dan ruhiyahnya sangat diperhatikan sehingga melahirkan generasi yang beriman dan bertaqwa dalam setiap aspek.
Dalam masalah ekonomi, pemenuhan kebutuhan dasar para generasi sangat diperhatikan. Sehingga sistem ekonominya berjalan sesuai dengan syariat Islam yang tujuannya untuk mensejahterakan seluruh rakyatnya, termasuk individu-individu generasi
Dalam masalah pendidikan karakter terutama, generasi dibina dan dibimbing agar tidak terjerumus kepada pergaulan bebas dan tetap berakhlakul karimah. Sehingga dengan pendidikan Islam, akan membentuk kepribadian Islam generasi yang menyandarkan perbuatannya pada halal-haram, bukan manfaat materi saja.
Demikian juga dalam masalah infrastruktur digital dalam khilafah, di bangun di atas paradigma Islam, sehingga mampu melindungi generasi dari konten-konten yang merusak, normalisasi maksiat dan kriminalitas.
Walhasil, dalam sistem Islam, generasi muslim harus memahami identitasnya sebagai muslim pembangun peradaban. Sehingga generasi muslim harus melakukan pembinaan Islam dan aktivitas dakwah bersama kelompok dakwah ideologis.
Dengan pembinaan Islam, maka dalam benak generasi akan tumbuh kesadaran dakwah untuk bersama-sama menyuarakan konstruksi Islam Ideologis sebagai solusi atas berbagai
permasalahan di dunia saat ini, sekaligus melakukan perbaikan pemikiran terhadap ideologi kapitalisme yang semakin merusak dan merambah kepada generasi. Dengan misi dakwah kepada generasi, diharapkan agar memenangkan opini dan platform digital dan arus opini di media sosial.
Hanya dengan penerapan Islam kaffah dalam segala aspek kehidupan, maka akan tercipta para generasi yang cerdas.
Bukan hanya cerdas dalam
masalah teknologi saja, tetapi bijak dalam menggunakan teknologi. Cerdas itu juga mempunyai makna mampu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Wallahu a'lam

Komentar
Posting Komentar