Ibu dan Bayi Meninggal Akibat Bobroknya Pelayanan Kesehatan

Ibu dan Bayi Meninggal Akibat Bobroknya Pelayanan Kesehatan

Oleh: Sarlin, Amd. Kep (Pegiat Literasi)


Tragis sekali kisah Irene Sokoy, warga Kampung Hobong, Sentani, Jayapura, Papua. Ibu hamil ini meninggal dunia bersama janin berusia enam bulan di kandungannya karena terlambat mendapat pertolongan, padahal kondisinya sudah bukaan enam dan mengalami pecah ketuban. (Antara, Sabtu 22/11/2025).


Kisah pilu seperti yang dialami Irene dan bayinya bukanlah hal yang terjadi hanya hari ini. Di luar sana mungkin masih banyak kasus serupa yang disebabkan buruknya pelayanan kesehatan dengan alasan administrasi dan berbelit-belitnya prosedur yang harus diikuti. Ketika pelayanan kesehatan yang buruk berujung hilangnya dua nyawa, ini seharusnya menjadi perhatian serius bagi pemerintah.


Dalam sistem kehidupan hari ini, yakni sekuler kapitalis, layanan kesehatan dijadikan sebagai ladang bisnis yang hanya mengejar keuntungan materi. Fokus utama bukan lagi pemenuhan kebutuhan dan keselamatan pasien. Mereka yang tidak mampu membayar sering kali terabaikan, sekalipun dalam kondisi darurat. Pasien yang tidak memiliki biaya atau jaminan kesehatan bisa ditolak atau hanya mendapat pelayanan seadanya.


Kualitas layanan pun tidak merata. Rumah sakit swasta cenderung lebih mahal tetapi menawarkan layanan lebih baik bagi mereka yang mampu membayar. Sebaliknya, RSUD yang dikelola pemerintah sering kali penuh, kekurangan tenaga medis, dan minim fasilitas. Biaya kesehatan yang tinggi juga menyebabkan banyak warga tidak mampu mengakses pengobatan, termasuk dalam keadaan darurat.


Hal ini sangat berbanding terbalik dengan sistem kesehatan dalam Islam. Negara yang menerapkan syariat Islam secara kaffah bertanggung jawab memenuhi layanan kesehatan secara merata tanpa terkecuali. Negara menyediakan infrastruktur, fasilitas yang memadai, tenaga kesehatan yang terampil dan amanah, serta sistem layanan kesehatan yang cepat, sigap, mudah, dan bebas biaya. Sebab, negara adalah raa’in yang wajib mengurus kebutuhan umat.


Sistem kesehatan negara Islam memiliki aspek penting dalam penyediaan sarana dan prasarana. Semua pembiayaan kesehatan ditanggung negara melalui Baitul Mal dari pos-pos pendapatan seperti pertambangan, sumber daya alam, fa’i, ghanimah, dan jizyah. Dengan pengelolaan yang benar, kekayaan negara sepenuhnya digunakan untuk kemaslahatan rakyat, termasuk layanan kesehatan.


Pelayanan kesehatan pada masa kejayaan peradaban Islam benar-benar difokuskan untuk menyelamatkan nyawa. Rumah sakit didirikan di berbagai wilayah hingga pelosok, bahkan dioperasikan secara keliling. Pelayanan diberikan tanpa diskriminasi. Negara mendukung pendidikan kedokteran, dan rumah sakit menjadi pusat pembelajaran dokter-dokter ahli.


Demikianlah perhatian Khilafah dalam memberikan pelayanan kesehatan terbaik bagi rakyatnya. Negara memastikan setiap individu mendapatkan layanan kesehatan yang layak, mudah diakses, dan bebas biaya. Oleh karena itu, sudah saatnya umat menyadari urgensi mengembalikan kehidupan Islam yang mampu menjamin kesejahteraan rakyat secara hakiki.


Wallahu a’lam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ilusi Keadilan dalam Sistem Hukum Sekuler, Islam Menjamin Keadilan

Generasi Sadis, Buah Penerapan Sekularisme

Living Together Berakhir Mutilasi, Buah Pahit Liberalisasi Pergaulan