Narasi "Marriage is Scary" Akibat "Economic Scarring"

 


Oleh : Ummu Hayyan, S.P. (Pegiat Literasi)

Beda zaman, beda tantangan. Tantangan yang berbeda melahirkan cara pandang yang berbeda pula. Salah satunya dalam memandang sebuah pernikahan.

Dahulu, anak muda menempatkan pernikahan sebagai tonggak kedewasaan yang harus dicapai. Namun, di era sekarang tampaknya pandangan tersebut mengalami pergeseran. Salah satunya bisa dilihat dari sebuah fenomena yang belakangan ini sedang hangat diperbincangkan di media sosial, yakni mengenai generasi muda yang lebih takut miskin daripada takut tidak menikah.

Narasi tersebut menggambarkan anak-anak muda cenderung menempatkan keamanan finansial sebagai prioritas utama. Mereka menggeser jauh keinginan membangun keluarga atau menanggapi tuntutan sosial untuk segera menikah. Fenomena tersebut sebetulnya masih erat kaitannya dengan narasi ”ketakutan seseorang untuk menikah” atau dikenal dengan istilah marriage is scarry. Salah satu yang ditakutkan setelah pernikahan ialah tuntutan ekonomi yang semakin besar. 

Ketakutan akan hidup miskin daripada tidak menikah di kalangan generasi muda bukanlah sesuatu yang muncul tiba-tiba. Ketakutan tersebut berjalan seiring dengan besarnya dorongan dari berbagai faktor fundamental yang menyertainya, terutama berkaitan dengan realitas kondisi Perekonomian. Hal ini tentu tidak terlepas dari apa yang disebut sebagai economic scarring (Luka Ekonomi).

”Luka ekonomi” itu merupakan kondisi yang merujuk pada kerusakan sistem perekonomian dalam jangka menengah ataupun jangka panjang sebagai akibat dari krisis ekonomi. 

Hal ini dikonfirmasi salah satunya dari hasil jajak pendapat yang dilakukan Litbang Kompas mengenai pernikahan pada 10-13 November lalu. Sebanyak 73,5 persen responden mengungkapkan fokus pada pekerjaan dan mapan secara ekonomi menjadi alasan utama mereka belum atau menunda pernikahan. BPS juga mencatat, dalam lima tahun terakhir persentase pemuda yang belum menikah menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Antara tahun 2020 dan 2024, persentasenya meningkat hampir mencapai 10 persen. Kecenderungan itu juga diperkuat oleh pengalaman generasi sebelumnya, serta kasus yang kerap terjadi dalam hubungan rumah tangga, seperti perselingkuhan, kekerasan dalam keluarga, hingga perceraian.

Data dari BPS menunjukkan sepanjang tahun 2024 kasus perceraian di Indonesia hampir mencapai 400.000 kasus. Faktor ekonomi berupa masalah keuangan menyumbang seperempat atau sekitar 100.198 kasus perceraian. (kompas.id. 27/11/2025)

Economic Scarring

Keadaan ekonomi yang sulit yang dihadapi generasi muda merupakan dampak krisis ekonomi. Pada saat generasi muda memasuki dunia kerja, dunia dalam kondisi terluka secara ekonomi. Terjadilah efek bekas luka ekonomi (economic scarring), yaitu kondisi yang merujuk pada kerusakan sistem perekonomian sebagai dampak dari krisis ekonomi. 

Pada kenyataannya, generasi muda dihadapkan dengan berbagai masalah ekonomi seperti sulitnya memperoleh pekerjaan, gelombang PHK massal, iklim usaha yang tidak bagus sehingga banyak usaha yang gulung tikar. Akibatnya, generasi muda menjadikan keamanan finansial sebagai prioritas utama dibandingkan dengan keinginan untuk menikah.

Luka Ekonomi karena Kapitalisme

Sistem ekonomi kapitalisme merupakan sistem ekonomi yang rentan krisis. Bahkan, krisis ekonomi menjadi peristiwa rutin tiap dekade. Dominasi ekonomi nonriil menjadi penyebab berulangnya krisis. 

Di sisi lain, kapitalisme menyerahkan pengelolaan SDA kepada pemilik modal (swasta). Sehingga, kekayaan terakumulasi pada segelintir pemilik modal. Sedangkan, rakyat secara mayoritas tidak merasakan kemaslahatan ekonomi.

Penguasa dalam kapitalisme berperan hanya sebagai regulator. Penguasa tidak mengurusi kebutuhan rakyat termasuk kebutuhan akan lapangan kerja, tetapi malah berlepas tangan dan menyerahkan pada swasta yang tentu saja akan menyediakan dengan harga mahal. Akibatnya biaya layanan publik seperti pendidikan dan kesehatan menjadi mahal. Rakyat juga masih harus membayar pungutan pajak, retribusi, dan biaya lainnya dengan nominal yang besar. Hal ini menjadikan biaya hidup satu orang saja sangat berat, apalagi dua orang jika telah menikah, atau bahkan jika sudah memiliki keturunan.

Kondisi ekonomi inilah yang membuat generasi muda takut untuk menikah. Fenomena tersebut membutuhkan solusi fundamental bukan solusi pragmatis seperti anjuran untuk menikah, tepuk sakinah, atau yang sejenisnya.

Jaminan Kemudahan Menikah dalam Islam

Penguasa dalam Islam adalah roo'in (Pengurus) rakyat. 

Negara akan menjamin pemenuhan kebutuhan pokok rakyat yaitu sandang, pangan, dan papan dengan mekanisme penciptaan lapangan kerja yang luas bagi rakyat. 

Sistem ekonomi Islam hanya berpijak pada ekonomi riil sehingga mampu menciptakan banyak lapangan kerja dan sekaligus anti krisis.

Negara bertanggung jawab mengelola kekayaan alam dan mengalokasikan hasilnya untuk kemakmuran rakyat.

Negara menyediakan layanan pendidikan dan kesehatan secara gratis sekaligus berkualitas. Sehingga, penghasilan Rakyat hanya dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan.

Negara khilafah menerapkan sistem pendidikan berbasis akidah Islam. Sehingga mampu membentuk generasi bertakwa. Generasi muslim tidak akan terjebak gaya hidup sekuler, liberal, dan hedonistik. Mereka akan memiliki pemahaman yang benar tentang konsep rezeki dan pernikahan.

Para pemuda yang sudah siap menikah akan difasilitasi oleh negara untuk menikah.

Dengan adanya pilar ketakwaan individu yang shalih, masyarakat yang peduli saling tolong-menolong, dan negara yang mengurusi rakyat, maka akan terwujud generasi muda yang siap untuk membangun keluarga sebagai bagian dari bangunan peradaban Islam.

Wallahu a'lam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ilusi Keadilan dalam Sistem Hukum Sekuler, Islam Menjamin Keadilan

Generasi Sadis, Buah Penerapan Sekularisme

Living Together Berakhir Mutilasi, Buah Pahit Liberalisasi Pergaulan