NORMALISASI: POLITIK TIPU-TIPU BARAT DAN ISRAEL MENGOKOHKAN PENJAJAHAN DI DUNIA ISLAM
NORMALISASI: POLITIK TIPU-TIPU BARAT DAN ISRAEL MENGOKOHKAN PENJAJAHAN DI DUNIA ISLAM
Oleh: Ibu Frida (Pegiat Literasi)
Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu, dalam sidang PBB pada September 2023 menyatakan bahwa “Saat normalisasi Arab Saudi–Israel terjadi maka Timur Tengah akan menjadi wilayah yang damai dan sejahtera. Syaratnya, ancaman Iran dan kelompok teroris harus dihilangkan.”
Pernyataan ini jelas menjadi pesan bahwa siapa pun yang menghalangi kepentingan politik Israel akan dihancurkan. Namun perlu dicatat, Israel tidak pernah berdiri sendiri. Di balik kebijakan politiknya di kawasan Timur Tengah, Amerika Serikat (AS) menjadi pendukung penuh yang selalu memastikan keamanan Israel. Normalisasi hubungan antara Arab dan Israel sejatinya merupakan bentuk penguatan koalisi politik dan keamanan kedua rezim tersebut.
Iran dan Palestina dianggap sebagai penghalang bagi AS dan Israel untuk mewujudkan proyek New Middle East atau Timur Tengah Baru. Peristiwa genosida di Gaza tahun 2023, serta serangan terhadap Iran pada Juni 2025 merupakan bukti bahwa kedua rezim penjajah ini tidak segan melakukan kejahatan apa pun untuk memastikan tidak ada yang menghalangi kepentingan politik mereka.
Pembantaian di Gaza menunjukkan bahwa normalisasi Arab–Israel memberi ruang sangat besar bagi Israel untuk membantai rakyat Palestina. Jika normalisasi terus dilanjutkan, legitimasi penjajahan Israel terhadap Palestina akan semakin kokoh. Bahkan siapa pun yang berpihak pada perjuangan Palestina akan didiskreditkan dan dimonsterisasi dengan tuduhan terorisme, radikalisme, dan fundamentalisme.
Kepentingan di Balik Normalisasi
AS memiliki kepentingan strategis di Timur Tengah dengan menjadikan Israel sebagai sekutu utama. AS sangat bergantung pada Israel untuk memastikan seluruh kebijakan politiknya berjalan dan menangkal ancaman terhadap kepentingannya. Cina dan Rusia menjadi pihak yang terus dicurigai karena keduanya memiliki pengaruh ekonomi dan militer yang besar serta aktif menjalin aliansi dengan negara-negara di Timur Tengah.
Dalam rangka menyingkirkan pengaruh dua kekuatan besar tersebut, AS menjalankan berbagai manuver politik, militer, dan ekonomi. Negara-negara Arab kaya dijadikan mitra investasi dan perdagangan, sementara negara-negara miskin digiring untuk tetap bergantung pada bantuan kemanusiaan maupun militer.
Untuk mengamankan seluruh agenda politiknya, AS mendorong proyek normalisasi dengan menjadikan Israel sebagai pion. Upaya normalisasi yang telah melibatkan Uni Emirat Arab, Bahrain, Maroko, dan Sudan kemudian menargetkan negara lainnya seperti Arab Saudi dan Indonesia dalam kerangka Abraham Accords. Program ini sesungguhnya ditujukan untuk membendung kelompok-kelompok perlawanan Islam, seperti Hizbullah, Hamas, Al-Qaeda, dan Houthi.
Melalui Abraham Accords, AS dan Israel berharap semakin banyak negara Arab menjadi mitra koalisi untuk mengamankan kepentingan politik dan ekonomi mereka, sekaligus mengubah citra Israel di mata umat Islam. Padahal sesungguhnya, program ini adalah tipu daya untuk memastikan negeri-negeri Arab tetap berada dalam kendali Barat—dalam aspek politik, ekonomi, budaya, militer, hingga ideologi.
Normalisasi ini merupakan bentuk dukungan terang-terangan terhadap penjajahan Israel. Rezim-rezim Arab dipaksa merangkul penjajah dengan dalih “perdamaian”, padahal hakikatnya adalah pengkhianatan terhadap perjuangan umat Islam dan penguburan isu Palestina.
Solusi Islam: Kembali pada Kekuatan Hakiki
Untuk keluar dari jebakan politik penjajah AS dan Israel, umat Islam harus bersatu membangun kekuatan besar yang pernah menggentarkan Barat. Kekuatan itu pernah berjaya selama 14 abad dan akan kembali menjadi adidaya yang mampu menghentikan seluruh proyek penjajahan terhadap umat Islam. Kekuatan itu adalah Khilafah.
Hanya dengan terwujudnya Khilafah, umat Islam dapat bersatu dan terbebas dari sekat-sekat nasionalisme yang memecah-belah. Khilafahlah yang akan memimpin dan melindungi umat dari hegemoni Barat, mengakhiri penjajahan, serta mengembalikan kemuliaan dan kehormatan kaum Muslimin.
Sebab, konsep Timur Tengah Baru bukan untuk kemaslahatan umat Islam. Ia hanyalah jalan untuk melanggengkan penjajahan gaya baru dan menjauhkan Islam dari percaturan politik global. Maka, satu-satunya solusi adalah memperjuangkan bisyarah Rasulullah ﷺ tentang tegaknya kembali Khilafah sebagai pelindung dan pemersatu umat.

Komentar
Posting Komentar