Peran Strategis Ibu Bagi Generasi Ideologis
Oleh : Ummu Mumtazah (Pegiat Literasi)
Di tengah berbagai problematika kehidupan saat ini, seorang ibu perannya sangat penting dalam mendidik generasi agar mereka dapat berguna bagi agama, bangsa dan negaranya. Hal tersebut tidaklah mudah karena berbagai rintangan pun harus dihadapi seorang ibu agar berdiri kokoh dalam mendidik dan membina generasi ke arah yang lebih baik. Mereka harus berlapang dada walaupun kadang pengorbanannya tidak dipandang sebelah mata.
Seorang ibu, selain tugasnya melahirkan anak juga melahirkan generasi peradaban yang tangguh, yang dapat memikul risalah, penjaga akidah dan penegak kemuliaan Islam. Mereka itulah yang akan dilahirkan dari perempuan-perempuan hebat, beriman dan yang sadar akan perjuangan Islam. Dengan demikian ibu tersebut bisa dikatakan sebagai pencetak generasi pemimpin dan penakluk yang tidak takut oleh apapun dan siapapun kecuali hanya kepada Alloh SWT, sebab generasi visioner memiliki visi yang mampu menembus ke langit menuju surga. Disinilah peran ibu sangat dibutuhkan dalam menanamkan akidah kepada generasi sebagai asas berfikir dan berjuang sejak dini.
Menjadi ibu generasi ideologis tidaklah mudah karena memiliki perpaduan
peran, yaitu sebagai ibu dan kewajiban mengemban dakwah yang harus didasari juga dengan kesadaran yang tinggi untuk menyiapkan generasi ideologis. Dengan kesadaran politik yang tinggi, maka seorang ibu mampu memberi nyawa dan menghiasi perannya sebagai ibu yang memiliki cita-cita yang agung untuk memimpin umat.
Banyak contoh keberhasilan yang diraih oleh para ibu yang telah mendidik generasi-generasi terdahulu yang telah berhasil menorehkan tinta emas didalam kehidupannya, diantaranya seperti teladan agung ibu Muhammad Al-Fatih. Beliau telah melahirkan seorang pejuang pelopor perubahan dan penakluk Konstantinopel, yang namanya mengguncang dunia, yaitu Muhammad Al-Fatih. Sehingga dibalik kegagahan dan keagungannya ada sosok perempuan hebat dan luar biasa, yaitu ibunya.
Alloh SWT, menegaskan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kualitas manusia bukan sekedar perubahan materi atau dzahir saja. Hal tersebut sesuai firman Allah Swt, yang artinya " Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. " ( QS. Ar-Ra'd : 11 ).
Dengan demikian perubahan besar bukan hanya hadir secara individu tetapi harus dengan perubahan sistematik sehingga melahirkan melahirkan generasi tangguh, akalnya sehat, dan bukan generasi yang orientasinya pada materi saja. Dengan dukungan ibu yang tangguh dan paham perjuangan yang akan menguatkan mereka dengan akidah yang kuat pula sebagai asas berfikir dan memahami perjuangan Islam secara menyeluruh.
Tantangan Peran Ibu dalam Sistem Kapitalisme
Dalam sistem kapitalisme, peran ibu tidak sesuai dengan fitrah, peran ibu habis dibajak secara sistematis oleh sistem buatan manusia, mereka memiliki peran ganda selain sebagai pengurus rumah tangga juga sebagai tulang punggung keluarga/pencari nafkah bagi keluarganya karena diaruskannya fenomena fatherless yang menghilangkan peran ayah yang sesungguhnya yang mengakibatkan para ibu menjadi korban yang harus memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
Serangan ide-ide kapitalisme tersebut tidak henti-henti menyerang sosok ibu agar kehilangan perannya sebagai pendidik generasi, mereka melakukannya sampai ke sekolah-sekolah dan pesantren-pesantren. Selain pengerangan secara pemahaman juga secara materi sehingga banyak generasi yang terbius dan menjadi korban sistem.
Serangan lewat pemikiran dan budaya berupa kesetaraan gender, HAM, moderasi agama dan lain sebagainya yang akan menciptakan lingkungan rusak bagi para generasi. Terlihat jelas serangan tersebut melalui serangan dunia digital, yang disitu apra generasi bisa mengakses apa saja dan melakukan konten apa saja yang mereka inginkan tanpa ada batasan apakah itu sesuai dengan hukum syara' atau tidak. Sehingga banyak tayangan-tayangan yang tidak pantas, akibatnya para generasi terlibat pinjol, judol, pergaulan bebas dan yang lainnya sehingga berujung keputusasaan, stagnan dan sampai melakukan bunuh diri, karena dalam sistem kapitalisme tidak adanya filter dan jaminan perlindungan untuk menjaga generasi ke arah lebih baik.
Dalam sistem kapitalisme, penerapan ekonominya membuat peran ibu semakin berat, selain mendidik, mengurus, membimbing, membina para generasi juga disibukkan dengan masalah ekonomi sehingga harus bekerja demi mencukupi kebutuhan generasi yang semakin konsumtif yang memiliki banyak keinginan tanpa memperdulikan di sekelilingnya terutama terhadap ibu yang memiliki peran ganda tersebut. Hal paling mendasar yang bisa mewujudkan tujuan ibu sebagai ibu generasi ideologis, yaitu perlu upaya sistemik sehingga peran ibu benar-benar diperhatikan sehingga perannya sesuai dengan fitrah, memuaskan akal dan mensejahterakan ibu juga bagi generasi. Seorang ibu dapat menjalankan peran idealnya dengan baik tanpa dibebani dengan masalah materi.
Islam Kaffah Pencetak Ibu Generasi Ideologis
Kebangkitan umat tentunya diawali dengan pemikiran yang mendasar sehingga dengan mengubah cara berpikir seseorang akan mengubah prilakunya menjadi lebih baik. Hal tersebut tidak bisa secara bertahap/tambal sulam, melainkan perubahan ideologis secara revolusioner/menyeluruh dalam segala aspek.
Saat ini, umat Islam mayoritas tetapi bagaikan buih di lautan bahkan tidak ada kukuatan, karena sudah jauh dari perjuangan Islam secara kaffah, mereka terutama generasi sudah kehilangan identitas dan arah perjuangannya karena terbius dengan ideologi selain Islam.
Lalu bagaimana peran nyata ibu sebagai pendidik generasi Ideologis?
Adapun yang harus dipersiapkan sebagai ibu generasi yaitu menetapkan visi pendidikan bagi anak-anaknya sebagai hamba Alloh, khalifah fil ardh (pemimpin/ pengurus di muka bumi), menjadi manusia terbaik (khoiru ummah). Generasi harus dikuatkan akidahnya sebagai landasan berfikir. Antara pola berfikir dan pola sikapnya sesuai dengan syariat Islam. Maka untuk mewujudkan hal tersebut, ibu harus menjadi teladan, tidak hanya menyuruh berbuat baik tetapi memberikan contoh/tauladan yang baik bagi anak-anaknya/para generasi.
Walhasil, semua itu tidak bisa diwujudkan kecuali dibarengi dengan upaya mengubah sistem kapitalisme sekularisme yang rusak dan merusak dengan sistem yang benar yang dapat mensejahterakan. Yakni, sistem Islam yang membanggakan yang menerapkan aturan Allah secara total dalam kehidupan dan mengemban dakwah ke seluruh penjuru alam.
Wallahu a'lam bi Ash shawwab

Komentar
Posting Komentar