Guru Dikeroyok, Murid Dihina: Cermin Pendidikan Jauh dari Nilai Islam


Oleh : Reskidayanti

Masalah seperti tak pernah putus. Belum selesai satu, muncul lagi yang baru. Saat ini layar ponsel tak henti dibanjiri pemberitaan tentang kasus pengeroyokan seorang guru oleh siswanya sendiri. Peristiwa keributan hingga adu jotos itu terjadi di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur (detik.com).


Usut punya usut, pengeroyokan tersebut tidak terjadi tanpa sebab. Pihak terkait mengatakan bahwa guru tersebut mengeluarkan kata-kata kasar dan menghina siswanya. Akibatnya, siswa merasa geram, tak tahan terus dihina, hingga akhirnya meluapkan emosi dengan mengeroyok gurunya sendiri.


Kabar ini tentu menyisakan pilu yang dalam. Pendidikan yang seharusnya menjadi ruang keteladanan dan kedamaian justru berubah menjadi ruang kengerian. Tentu hal seperti ini tidak bisa dinilai sepele. Ini bukan sekadar masalah pribadi, tetapi menyangkut ruang lingkup pendidikan yang mereka tempati.


Problem Serius

Masalah pendidikan merupakan persoalan yang kompleks. Ada banyak faktor yang menjadi penyebab munculnya problem dalam dunia pendidikan. Salah satu tinjauan kasus yang saat ini masif dibicarakan ialah relasi antara guru dan siswa yang kian mengalami degradasi nilai.


Kasus pengeroyokan guru dan penghinaan terhadap siswa merupakan bukti nyata degradasi nilai dalam output pendidikan hari ini. Peristiwa ini bukanlah yang pertama. Kekerasan dan perundungan di sekolah terus berulang dengan pola yang serupa. Seharusnya, hal ini menjadi kritik besar bagi dunia pendidikan.


Semestinya relasi yang terbangun antara guru dan murid didasarkan pada penghormatan dan keteladanan. Namun, relasi tersebut justru terkubur oleh ketegangan dan kekerasan. Nilai-nilai kebijaksanaan kian tergerus oleh pelampiasan naluri semata. Peristiwa ini bukan sekadar ledakan emosi sesaat, tetapi menunjukkan adanya persoalan besar yang terus berulang.


Kekerasan dan perundungan hanyalah cabang dari akar permasalahan yang lebih mendasar. Hal ini seolah menjadi jebakan yang memicu konflik berkepanjangan antara guru dan murid.


Realitas ini lahir dari sistem pendidikan berbasis sekuler, yang menjauhkan nilai agama dari kehidupan. Agama dipandang sebatas urusan pribadi, dibatasi dalam mengatur relasi sosial, termasuk hubungan guru dan siswa. Dalam sistem ini, kehidupan didasarkan pada kebebasan individu, sementara nilai kebaikan didefinisikan secara subjektif. Akibatnya, konflik dianggap sekadar masalah pribadi.


Tujuan pendidikan lebih diarahkan pada pencetakan tenaga kerja. Pembentukan karakter hanya menjadi slogan di papan visi dan misi. Dalam praktiknya, siswa lebih peduli pada nilai daripada proses. Mencontek dianggap wajar asalkan memperoleh angka tinggi. Sementara itu, guru dibebani administrasi yang rumit demi memenuhi standar yang ditentukan oleh berbagai kepentingan.


Keterkaitan pendidikan dengan sistem ekonomi dan politik berbasis kapitalisme semakin memperkuat orientasi materialistik. Aktivitas belajar-mengajar berjalan tanpa pemaknaan. Produktivitas berpikir melemah, dan pembinaan adab tidak membuahkan hasil. Kehidupan dijalankan berdasarkan ukuran materi semata.


Inilah akar masalah yang menjadi pemicu berbagai konflik dalam dunia pendidikan. Selama sistem ini menjadi landasan kehidupan, nilai-nilai luhur akan semakin menjauh dari realitas.


Kembali ke Islam

Dalam Islam, pendidikan bukan hanya bertujuan mencetak manusia cerdas, tetapi membentuk pribadi yang beradab. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan bahwa tujuan utama beliau diutus adalah untuk menyempurnakan akhlak.


Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda,
"Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak mulia."  
[Hasan] - [HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, Ahmad, dan Baihaqi] - [As-Sunan Al-Kubrā karya Baihaqi - 20819]


Secara historis, para ulama lebih mendahulukan adab sebelum ilmu. Bahkan, ada yang menempuh pendidikan adab lebih lama daripada menuntut ilmu. Sebab, adab merupakan pondasi utama yang memudahkan ilmu untuk dikuasai oleh seorang pencari ilmu.


Menghargai ilmu berarti menghormati pemberinya. Murid dididik untuk memuliakan guru (ta’dzim), sementara guru wajib mendidik dengan kasih sayang, bukan dengan hinaan. Guru bukan sekadar pengajar, tetapi teladan bagi peserta didiknya.


Oleh karena itu, kurikulum pendidikan harus berlandaskan akidah Islam. Nilai-nilai Islam perlu diimplementasikan dalam seluruh mata pelajaran agar membentuk kepribadian Islami, baik dalam pola pikir maupun sikap. Dari sini dapat dipahami bahwa Islam bukan sekadar agama spiritual, tetapi sistem kehidupan yang mengatur seluruh aspek berdasarkan nilai ilahiah, bukan nilai sekuler.


Pengaturan kurikulum secara menyeluruh hanya dapat dilakukan oleh negara yang memiliki kekuatan dan komitmen ideologis. Negara harus bersandar pada Islam, bukan pada kapitalisme. Di sinilah pentingnya kesadaran masyarakat untuk memahami sistem yang diterapkan saat ini.


Allah SWT telah memerintahkan umat Islam untuk menerapkan Islam secara menyeluruh, sebagaimana firman-Nya :

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan.” (QS. Al-Baqarah: 208)

Wallahu a'lam bishawab 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ilusi Keadilan dalam Sistem Hukum Sekuler, Islam Menjamin Keadilan

Generasi Sadis, Buah Penerapan Sekularisme

Living Together Berakhir Mutilasi, Buah Pahit Liberalisasi Pergaulan