Keracunan MBG Berulang, Bukti Gagalnya Negara Menjamin Gizi Generasi
Oleh: Yeni Sri Wahyuni
Keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi. Sebanyak ratusan siswa di SMA Negeri 2 Kudus, Jawa Tengah, dilaporkan mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurut informasi dari Dinas Kesehatan Pemerintah Kabupaten Kudus, total siswa yang terkena keracunan dan memerlukan perawatan di rumah sakit mencapai 118 orang. (Kompas.tv, 29/1/2026)
Selama periode 1 hingga 13 Januari 2026, Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) melaporkan bahwa terdapat 1.242 orang yang diduga menjadi korban keracunan akibat makan bergizi gratis. Menurut perhitungan BBC, selama 30 hari di bulan Januari 2026, kasus keracunan MBG menyebabkan 1.929 orang menjadi korban. (Bbc.com, 30/01/2026)
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan program yang bertujuan untuk menangani masalah malnutrisi dan stunting pada anak-anak serta ibu hamil. Program ini juga berperan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mendukung pertumbuhan ekonomi lokal.
Namun program MBG ini memicu perdebatan di kalangan masyarakat. Beberapa orang memberikan kritik terkait rasa makanan yang kurang lezat, minimnya variasi menu, serta kemungkinan pemborosan anggaran APBN dalam pelaksanaannya. Selain itu, terdapat juga kasus keracunan yang terjadi secara berulang. Ini menunjukkan kurangnya kesungguhan dan perhatian negara dalam melaksanakan program yang telah dijanjikan kepada masyarakat.
Jika ditinjau lebih mendalam, masalah gizi buruk dan stunting tidak dapat diselesaikan hanya dengan memberikan makanan secara gratis. Masalah ini berkaitan dengan sejumlah aspek, mulai dari keberadaan pangan sehat, distribusi yang merata, daya beli masyarakat, kualitas sanitasi, hingga pendidikan gizi untuk keluarga.
Di samping itu, faktor utama yang menyebabkan malnutrisi tidak hanya terbatas pada kekurangan asupan protein atau vitamin, tetapi juga disebabkan oleh kemiskinan yang bersifat sistemik. Masyarakat menghadapi kesulitan dalam menyediakan gizi yang cukup untuk anak-anak mereka akibat meningkatnya biaya kebutuhan pokok, sementara pendapatan tetap rendah dan kesempatan kerja terbatas.
Semua masalah tersebut tidak terlepas dari penerapan sistem kapitalisme yang ada saat ini. Dalam sistem ini, peran negara lebih sebagai pengatur kepentingan korporasi daripada sebagai pengelola urusan masyarakat. Sebagai hasilnya, program sosial seperti MBG bertransformasi menjadi proyek politik jangka pendek yang lebih fokus pada pencitraan, tanpa mampu menyelesaikan akar permasalahan yang ada.
Dalam pandangan Islam, negara memiliki peran sebagai ra'in, yaitu sebagai pengelola urusan masyarakat. Setiap kebijakan harus ditujukan untuk mencapai kesejahteraan seluruh masyarakat, mencakup kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, kesehatan, dan pendidikan. Rasulullah saw. bersabda, “Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang diurusnya” (HR. Bukhari dan Muslim).
Islam memandang persoalan gizi secara integral. Negara harus menyediakan lapangan pekerjaan untuk setiap kepala keluarga. Dengan pendapatan yang memadai, orang tua bisa memperoleh makanan berkualitas tanpa harus mengandalkan bantuan dari pemerintah. Ini disertai dengan kebijakan untuk menjaga stabilitas harga pangan, yaitu negara melarang praktik penimbunan (ikhtikar) yang dapat merusak pasar, sehingga kebutuhan pokok tetap terjangkau dan harganya tetap murah bagi semua lapisan masyarakat.
Negara juga wajib memberikan edukasi bagi para ibu mengenai pengetahuan pola asuh dan gizi secara gratis. Dengan pendekatan ini, pemenuhan gizi tidak tergantung pada kebijakan yang bersifat sementara dan berisiko menimbulkan masalah, melainkan berasal dari suatu sistem kehidupan yang memastikan setiap keluarga dapat hidup dengan layak dan bermartabat.
Oleh karena itu, dalam Islam, negara dan pemimpin memiliki peran yang sangat penting dalam menciptakan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Dengan adanya jaminan kesejahteraan dalam sistem Islam dan edukasi mengenai gizi, kasus stunting serta masalah gizi lainnya dapat dicegah.
Wallahu a’lam bisshawab.

Komentar
Posting Komentar