AS - Iran Bergejolak, Beban Ekonomi Rakyat Semakin Sesak
Oleh : Ummu Hayyan, S. P.
Beberapa harga komoditas energi Global mengalami lonjakan signifikan. Hal ini sejalan dengan bergolaknya konflik geopolitik antara Amerika Serikat, Zionis dan Iran. Lonjakan harga terjadi khususnya terhadap minyak dunia, avtur, serta bahan baku industri seperti bijih plastik.
Dikutip dari CNBC, Jumat (10/4/2026), harga minyak mentah West Texas lntermediate untuk pengiriman Mei naik lebih dari 3% dan ditutup pada USD 97,87 per barel. Sedangkan harga minyak mentah Brent yang menjadi patokan harga minyak Global naik lebih dari satu persen dan ditutup pada USD 95,92 untuk pengiriman Juni.
Sementara, harga avtur domestik melonjak tajam. Per 1 April mencapai sekitar 70% dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Di Bandara Soekarno Hatta, harga avtur domestik naik dari Rp.13.656,51 per liter pada Maret menjadi Rp. 23.551,08 per liter pada April atau melonjak 72,4,5%. Untuk rute internasional harga naik 80,32% dari USD 0,95 menjadi USD 1,72 per liter.
Kondisi ini juga berpengaruh terhadap produksi plastik. Apalagi sekitar 60% Nafta bahan baku bijih plastik masih impor. Kondisi ini membuat produksi plastik tertekan hingga mempengaruhi harga plastik di pasaran.
Kenaikan harga - harga tersebut pada dasarnya dipicu oleh terganggunya pasokan barang akibat perang. Kawasan Timur Tengah, khususnya selat Hormuz menjadi wilayah yang sangat strategis. Selat ini berada di antara Iran dan Oman serta menghubungkan Teluk Persia yang menjadi pusat produksi minyak dunia dengan laut lepas. Sekitar 20 % hingga 30% minyak Global melewati selat ini setiap hari. Dengan demikian, selat Hormuz di ibaratkan sebagai bottle neck atau leher botol dalam rantai pasok energi Global. Karena itu, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran menjadikan jalur minyak di selat tersebut terganggu. Efek domino lainnya adalah makin besarnya kerentanan ekonomi bagi negara importir seller Indonesia yang masih mengimpor 60% NAFTA. Akibatnya, harga plastik di pasaran ikut melonjak mengiringi naiknya harga BBM dan avtur.
Naiknya harga-harga akan menyebabkan ekonomi masyarakat melemah. Situasi ini terjadi karena negara importir tidak memiliki kemandirian produksi. Ketika terjadi gejolak eksternal, ia akan menghadapi tekanan ganda. Yaitu, keterbatasan akses barang dan meningkatnya biaya pemenuhan kebutuhan domestik.
Padahal, secara sumber daya, Indonesia memiliki potensi migas yang luar biasa. Sayang, sistem ekonomi kapitalisme membuat kekayaan alam ini dikuasai oleh para kapitalis .
Padahal, jika sumber energi dikuasai oleh negara secara syar'i, maka negeri ini akan mampu memenuhi kebutuhan energinya secara mandiri. Dengan begitu, negara akan lebih tahan terhadap fluktuasi harga global serta gangguan pasokan internasional.
Kondisi ini menunjukkan bahwa umat sebenarnya membutuhkan penguasa yang memiliki jiwa raa'in, sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW melalui haditsnya : "Imam atau khalifah adalah raa'in atau pengurus rakyat, dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya." (HR. Bukhari).
Kehadiran penguasa raa'in akan merumuskan kebijakan yang mampu membangun kekuatan serta kemandirian ekonomi negara. Dengan begitu, kebutuhan negara tersebut tidak akan bergantung pada pihak luar. Sehingga kebutuhan masyarakat tetap terjaga.
Penguasa raa'in hanya akan hadir melalui sistem pemerintahan Islam. Sebab, hanya negara Islam yang akan menerapkan hukum Islam secara Kaffah.
Dalam menghadapi orang kafir, Allah ta'ala telah memberi petunjuk kepada kaum muslimin melalui firmannya, yang artinya :
"Dan Allah sekali-kali tidak akan pernah memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman." (TQS. An-nisa : 141).
Melalui ayat ini negara Islam tidak akan memberikan jalan kepada negara kafir untuk menguasai negeri muslim melalui penjajahan politik dan ekonomi. Hal tersebut dapat mengancam kedaulatan dan arah kebijakan dalam negeri.
Maka ketika ada negara Islam, dinamika Amerika Serikat - Iran di kawasan selat Hormuz tidak lagi dipandang sekadar urusan ekonomi, melainkan perintah Allah kepada umat Islam untuk menguasai wilayah strategis agar negara-negara kafir tidak lagi bisa memberi intervensi kepada negeri muslim. Apalagi negara Islam memiliki visi dakwah ke seluruh dunia dengan jihad fisabilillah. Sebagaimana yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah SAW bersabda :
"Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi, sampai mereka bersyahadat Laa llaaha lllallah Muhammadur Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat. Jika mereka telah melakukan hal itu, akan terjagalah darah-darah dan harta-harta mereka dariku kecuali dengan hak Islam, sedangkan perhitungan mereka diserahkan kepada Allah." (HR. Bukhari dan Muslim). Karenanya, negara Islam akan selalu dalam kondisi siap perang dengan tetap menjaga kemandirian ekonomi agar tidak bergantung pada pihak luar. Sumber daya alam akan dikelola secara syar'i bukan di liberalisasi seperti dalam sistem kapitalisme. Pengelolaan kekayaan alam yang demikian dapat menjadi salah satu pilar pendukung bargaining position negara di kancah politik internasional. Alhasil, penerapan Islam secara Kaffah akan membuat negara tidak mudah ditekan secara ekonomi ketika terjadi konflik global.
Wallahu a'lam bishawab.
Komentar
Posting Komentar