Muslim Gaza Tak Merayakan Idul Fitri di Al-Aqsa, Kebebasan Beribadah Tidak Ada?


Oleh Haura (Pegiat Literasi)

Muslim Gaza Tak Berhari Raya

Ramadhan 1447 H telah berlalu, Kaum Muslim menyambut idul fitri sebagai tanda meraih kemenangan setelah sebulan penuh melaksanakan rangkaian ibadah di bulan penuh keberkahan dan magfirah. Sayangnya, tidak semua Kaum Muslim dapat merayakan hari kemenangan tersebut. 

Kondisi Gaza masih menyisakan pilu dan penderitaan. Idul Fitri di tengah reruntuhan kota menjadikan Muslim Gaza nestapa bahkan otoritas Israel mencegah dan membatasi Muslim Palestina mencapai Masjid Al-Aqsa karena telah diduduki.

Melansir republika.com (21/03/2026) Untuk pertama kalinya sejak pendudukan kota tersebut pada tahun 1967, shalat Idul Fitri dilarang seluruhnya di dalam masjid. Pasukan pendudukan Israel membatasi akses terhadap sejumlah kecil penjaga dan pegawai Wakaf, sehingga secara efektif mengosongkan kompleks jamaah pada salah satu acara keagamaan paling penting. 

Sejak dimulai perang AS dan Israel terhadap Iran Masjid al-Aqsa telah ditutup oleh otoritas pendudukan Israel selama 21 hari berturut-turut. Rentetan gas air mata dan bom geger otak dilepaskan Pasukan penjajah terhadap jamaah untuk mencegah mereka mendekati kompleks masjid, bahkan menahan seorang jamaah dari Jalan Salahuddin di kota tersebut. 

Tidak ada Jaminan Kebebasan Beribadah 

Kegubernuran Yerusalem menggambarkan tindakan tersebut sebagai “eskalasi yang berbahaya dan belum pernah terjadi sebelumnya,” dan memperingatkan bahwa penutupan Masjid Al-Aqsa yang terus berlanjut dan larangan shalat Idul Fitri merupakan “pelanggaran mencolok terhadap kebebasan beribadah.” republika.com (21/03/2026)

Sederet fakta di atas menjadi bukti tidak adanya jaminan kebebasan beribadah bagi Muslim Gaza. Gema demokrasi yang selalu dikumandangkan Sekularisme di dunia seolah sunyi senyap karena mereka menerapkan standar ganda. 

Perlakuan yang berbeda terhadap negeri Muslim adalah sinyal kegagalan sekularisme dalam menerapkan demokrasi dengan mengusung lima kebebasan. Salah satunya kebabasan dalam beragama. Nyatanya, demokrasi tidak mampu membawa pada perbaikan dan perdamaian dunia Sebaliknya, demokrasi menjadi pemicu penderitaan kaum Muslim di belahan bumi ini.    

Dimana Negeri-Negeri Muslim?

Serangan udara AS dan Israel di berbagai lokasi di Iran sejak 28 Februari 2026 membuat situasi geopolitik di Timur Tengah semakin memanas. Konflik ini membuat negeri-negeri Muslim berada dalam situasi sulit, terjepit di antara tekanan untuk memihak, menjaga keamanan regional, dan sibuk memikirkan dampak ekonomi.  

Ironinya negara-negara Arab Teluk sepertii Bahrain, Yordania, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA) justru bersekutu dengan negara AS dalam memerangi Iran dan melupakan Gaza. Penderitaan warga Gaza seolah belum menjadi prioritas utama kaum Muslim dunia. Perhatian global kaum Muslim bahkan dunia terarah pada konflik geopolitik atas ketegangan AS, Israel dan Iran.

Negeri-negeri Muslim dunia terpecah konsentrasi dan tidak memiliki kesatuan arah pandang untuk mengakhiri penderitaan warga Palestina dan menjaga Masjid Al-Aqsa. Konsekuensinya, kemerdekaan dan perdamian Palestina tertutup oleh kepentingan hegemoni kekuatan global. Parahnya lagi negeri-negeri Arab belum menunjukan sikap tegas dan mengambil langkah politik untuk menghentikan persoalan Palestina Israel. Sebaliknya, malah membangun hubungan strategis dengan para sekutunya demi kepentingan negerinya masing-masing.

Padahal sejatinya, Kaum Muslim adalah bagai satu tubuh, ketika salah satu tubuh sakit maka seluruh tubuh pun merasakan sakit. Seharusnya penderitaan warga Gaza Palestina menjadi bagian penderitaan negeri-negeri Musim di segenap penjuru dunia. Pun dengan pelarangan beribadah di tempat suci kaum Muslim oleh penjajah Israel seharusnya menjadi kemarahan bagi seluruh kaum Muslim dunia.

Sistem Islam Menjamin Kebebasan Beribadah dan Rahmat Bagi Seluruh Alam

Islam adalah ajaran yang paripurna. Dengan berprinsip pada surah Al Baqarah ayat : 256,

 لَآ إِكْرَاهَ فِى ٱلدِّينِ

 “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)”.

Secara fundamental, Sistem Islam menjamin kebebasan beribadah. Ayat ini secara aplikatif telah dibuktikan dalam sejarah. Sitem Islam memberikan perlindungan kepada kaum Non Muslim (ahlu Dzimah) dengan jaminan melaksanakan hak-haknya untuk beribadah sesuai keyakinan mereka.  

Islam juga mengajarkan untuk hidup berdampingan secara damai dan menghormati perbedaan keyakinan sebagaimana prinsip-prinsip toleransi antar umat beragama.

Namun di sisi lain, Al Qur'an mengajarkan bersikap keras terhadap orang kafir namun berkasih sayang dan lemah lembut terhadap muslim sebagaimana firman Allah dalam surah Al Fath : 29 

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ ٱللَّهِ ۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ,

 Artinya : “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka”.

Ayat ini menunjukkan umat Islam harus memiliki kepedulian yang tinggi terhadap sesama Muslim lainnya, ukhuwah islamiyah harus menjadi pengikat bagi umat Islam di seluruh dunia untuk membangun kekuatan dan mewujudkan perlindungan serta kedamaian, bukan sekedar ikatan emosional yang bersifat temporer untuk membebaskan penderitaan saudara sesama muslim. 

Adapun terhadap pihak-pihak yang memerangi kaum Muslim, Allah memerintahkan orang-orang mukmin untuk memerangi dan berjihad melawan mereka sebagaimana difirmankan dalam At Taubah 123 :

 يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قَٰتِلُوا۟ ٱلَّذِينَ يَلُونَكُم مِّنَ ٱلْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوا۟ فِيكُمْ غِلْظَةً ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ 

 “Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertakwa”.

Karenanya, dalam menghadapi kekuatan musuh-musuh Islam, negeri-negeri Muslim harus memiliki kekuatan dan wajib berjihad. Kekuatan dan jihad mustahil terwujud tanpa adanya persatuan politik umat Islam. 

Jihad hanya akan sempurna jika negeri muslim bersatu di bawah satu kepemimpinan yang menerapkan syariah Islam secara keseluruhan yang dapat mewujudkan kekuatan fundamental guna melindungi negeri-negeri Muslim yang tertindas serta menebarkan rahmat bagi seluruh alam. 

Sistem Islam mampu mewujudkan rahmat bagi segenap alam melalui ajarannya yang komprehensif, mencakup kasih sayang, keadilan, kedamaian dan kemaslahatan bagi seluruh makhluk Allah SWT, baik manusia, hewan, maupun lingkungan. Allahu a'lam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gencatan Senjata Palsu: Ketika Perdamaian Dijadikan Alat Penjajahan

Ilusi Keadilan dalam Sistem Hukum Sekuler, Islam Menjamin Keadilan

Mudik Tahunan : Macet Parah dan Kecelakaan terus Terulang